Menikah di Gedung, Kemauan Pribadi Atau Keluarga?

Menikah di Gedung, Kemauan Pribadi Atau Keluarga?

Kadang kala ada topik menarik yang berseliweran di dunia maya, saya tangkap dan bahas di blog. Kali ini yang saya tangkap adalah dari sebuah headline berita tentang fenomena orangtua yang malu anaknya nggak menikah di gedung. Faktanya paska hari pernikahan, anaknya tinggal di kontrakan. Familiar, nggak?

Membahas topik ini nggak bisa nggak berkaca ke pengalaman sendiri.

Saya dan suami dulu sempat kepingin nikah di KUA saja. Beneran, cuma dengan tanda tangan aja dan baca ijab qabul and done. We are husband and wife. Dan ternyata nggak cuma saya dan suami aja yang pernah berpikir begini. Beberapa alasan pasangan berpikir mau menikah di KUA saja:

  • Mudah & Praktis. Imej merencanakan pernikahan sudah terburu kelihatan ribet, njelimet dan bikin pusing. Nggak hanya dari film-film, melihat pengalaman saudara sendiri dan sebagainya. Nikah di KUA menyederhanakan semua itu.
  • Murah. You know kan menikah di venue itu membutuhkan biaya, dari sewa tempat, katering, dokumentasi, sewa MC, dekorasi dan banyak lagi. Kadang menabung belum tentu mencukupi biayanya.
  • Minim Drama. Dengan minimnya hal yang harus dipersiapkan di hari H, maka semakin sedikit (seharusnya) hal-hal yang harus dikonsultasikan dengan pihak lain, semakin sedikit pula hal-hal yang mungkin akan bergesekan dengan yang kita mau, yang lain mau dan budget-nya.
  • Bisa Lebih Fokus ke Life After Wedding. Hari pernikahan sebenarnya cuma sebuah gerbang dari perjalanan yang sesungguhnya, yaitu pernikahannya itu sendiri. Dibanding berbulan-bulan memikirkan persiapan satu hari, lebih baik fokus ke kehidupan pernikahan seperti tempat tinggal dan segala sesuatunya.

Ide itu terdengar brilian banget kala itu. Ya, bagi kita yang waktu itu maunya sederhana saja. Namun saya pun menyelami ide menikah di KUA sekali lagi dan membayangkannya di benak saya.

Baca Juga: Tentang Rezeki, Hashtag Instagram dan Tawakkal

Saya cari tahu juga kenapa orang-orang memutuskan menikah di venue dengan segala keriuhannya dan mengundang orang-orang terdekat juga keluarga. Alasan mereka adalah tidak lain karena ingin menikah di tempat yang lebih representatif dan juga ingin mengingat hari pernikahan bersama orang-orang tersayang.

Membaca itupun saya jadi berpikir ulang. Mengenang hari pernikahan merupakan satu hal yang patut dipertimbangkan untuk mengadakan di venue. Teringat juga dengan ucapan teman yang hendak menikah beberapa tahun lalu. Ia berkata ingin pernikahan sederhana tapi diharuskan di gedung oleh keluarga. Namun karena pernikahan seharusnya adalah satu untuk selamanya, maka ia ingin hari itu dikenang dengan indah.

Apa itu Hari Pernikahan?

Mungkin kita harus melihat kembali makna hari pernikahan. Kedua individu idealnya memutuskan ingin menikah karena berkomitmen ingin menjadi suami istri hingga dipisahkan maut. Lebih bermakna lagi jika saling cinta. Mereka ingin memperlihatkan momen dimana mereka berubah status menjadi suami dan istri di depan orang-orang terdekat.

Masalah saat ini, banyak keluarga yang membuat hari pernikahan menjadi hari keluarga atau hari mereka, bukan tentang pasangan yang mau menikah. Mereka meminta ini-itu, menuntut apalah-itulah yang belum tentu perlu dan menambah repot pasangan yang ingin menikah. Dua individu itu memang berasal dari dua keluarga (yang sudah berpengalaman sebelumnya menjalani hari pernikahan), namun bukan melulu berarti keluarganya yang atur hari pernikahannya.

Beda soal sih kalau yang membiayai adalah keluarga, maka sedikit banyak pihak keluarga ada hak mengatur bagaimana hari pernikahan itu. Kecuali mereka menyerahkannya ke pasangan. Tentu orangtua lebih berpengalaman dalam pernikahan dan merencanakan hari pernikahan, mereka juga ingin punya andil dan ingin diikutkan, namun tidak juga dengan berlebihan.

Mengambil Jalan Tengah

Akhirnya saya dan suami putuskan untuk menikah di venue dengan paket yang terjangkau. Waktu itu di tahun 2014, paket yang kita ambil 50 juta sudah hampir semua, belum dengan biaya cetak undangan, sewa tenda dan suvenir. Mengundang orang-orang juga cuma sekitar dua ratusan orang sudah termasuk keluarga. Soalnya dari awal memang konsep kami pernikahan yang kecil alias hanya mengundang orang-orang terdekat. Kenapa, karena ingin hari pernikahan terasa intim dan tidak overcrowd (maklum kami berdua juga nggak suka keramaian).

Baca Juga: Ngomongin Terjebak di Comfort Zone Atau Zona Nyaman dan Cara Mengatasinya

Bagian nggak enaknya memang nggak bisa mengundang orang banyak dan mungkin menyinggung pihak yang tidak diundang. Namun susah juga karena keterbatasan budget nggak mungkin undang semua dan juga menyalahi konsep. Alhamdulillah, mereka yang datang sih salut dengan konsep yang kita buat ini.

Agar Hari Pernikahan Terarah

Jika kau seorang muslim, patut diketahui bahwa syarat menikah hanya mengucap ijab qabul, dengan saksinya dan sudah sah. Maka sebenarnya tuntutan harus menikah di gedung, dengan sederet paket lainnya hanya pelengkap. Tak usah terlalu dipusingkan atau direpotkan oleh detil-detil kecil yang sebenarnya hanya dipakai sehari saja.

Nggak usah mikirin uang amplop sehingga undang jadi banyak orang, yang ada kemungkinan membuat lebih banyak makanan terbuang dan diisi overcrowd tidak perlu.

Ingat bahwa menemukan tambatan hati atau jodoh saja sudah merupakan berkah. Yang harus difokuskan justru kehidupan setelah hari pernikahan. Ya tempat tinggal, pemasukan hari-hari, pengaturan rumah tangga, rencana memiliki momongan, dan sebagainya.

Saya sempat juga tanya ini ke teman-teman di akun instagram saya (@andinzki) via instagram story. Responnya kurang lebih sama:

Menurut mbak Yulia Pasca yang juga seorang blogger: “Gak lah(soal harus menikah di gedung)! Prosesi nikah itu yang penting sah nya, untuk pesta-pesta mah gak harus mewah”.

Sementara mbak Novia yang berprofesi guru dan juga seorang blogger berpendapat: “Setuju banget. Alhamdulillah waktu gw nikah, kedua keluarga ga ada yang nolak pas kita mau akad (saja).”

Mbak Shelly yang ibu satu anak juga sharing: “Ada adik nya temen.. bela-belain minjem uang buat nikah. Sayangnya pernikahnnya ga bertahan lama, tapi masih harus bayar cicilan hutang biaya nikah dulu itu 🙈 jadi kalau menurut aku sih semampunya aja, jangan sampai dipaksain mewah dan kalo bisa jangan sampe minjem uang. Kan yang penting sah udah nikahnya ya.”

Kesimpulannya, mengadakan pernikahan di KUA maupun venue, semua terserah diri dan pasangan masing-masing. Yang penting sah secara agama dan negara, dan nggak memberatkan di kemudian hari.

Bagaimana dengan pengalaman menikah anda? Apa saja yang dulu dipikirkan sebelum mengucap ijab qabul?

25 thoughts on “Menikah di Gedung, Kemauan Pribadi Atau Keluarga?”

  1. Saya menikah di gedung, karena kalau menikah di KUA, tetap saja nanti akan ada pemberitahuan ke tetangga dan kerabat orang tua, lagipula menikah di KUA berarti merelakan jatah cuti 1 hari, yang harusnya bisa dipake buat liburan.

    Pilihan realnya dulu menikah di rumah atau gedung? Tapi saya ngga mau repot dengan beres2 dan perintilan dapur, jadi lebih baik di gedung saja.

    Reply
    • Benar juga mba, menikah di KUA tanpa mengundang banyak orang berarti harus memberikan pemberitahuan lagi ya. Betul, karyawan sangat penting menggunakan jatah cuti sebaik-baiknya.

      Sama mbak, saya juga nggak mau di rumah karena merepotkan orang rumah dan nggak ada lahan parkir luas

      Reply
  2. Wah di mention 🙂 thank you Andin.

    Sebenarnya memang mau menikah dimanapun urusan masing2 tapi alangkah baiknya kalau memang pernikahan itu ga memberatkan siapapun.

    Dari dulu ga pernah kebayang nikah ala2 kebanyakan orang Indonesia yang harus duduk bangun salaman di atas panggung dan alhamdulillah dikabulkan Allah, akad lalu kesana kemari ngobrol dan haha hihi sama teman2. Ga pusing dengan katering dan undagan dan ini itu. Benar2 hari pernikahan yang sangat berkesan buat saya dan suami

    Reply
    • Hampir mirip kita Novia, aku ada pelaminan tapi bebas wara-wiri. Cuma tamu selalu datang bersalaman hampir setiap waktu, jadi kita turun pelaminannya agak lama. Alhamdulillah, aku berkesan juga nikahannya.

      Reply
  3. Dulu aku sempat berpikiran sama. Cukup di KUA dan bagi nasi kotak.. Ternyata orang tua lebih bijaksana. Alhamdulillah pernikahan berjalan sederhana namun “meriah” dan menjadi kenangan terindah untuk semua yang hadir.
    Setidaknya, itu menurutku.

    Reply
  4. Kalau saya yang penting makna dari pernikahan itu tercapai mbak, ijab qabul dwngan di saksikan oleh saksi dan keluarga besar. Tapi kadang kita juga harus menghormati keluarga besar juga ya mbak, mengikuti apa mau mereka. Tapi tetap ya di sesuaikan dengan kemampuan. Sederhana yang penting sah dan langgeng pernikahannya kelak.

    Reply
    • Iya mbak, tentu ada sisi menghormati keberadaan keluarga besar, namun yang nggak sehat adalah ketika keluarga besar justru mendominasi keinginannya dan menghilangkan hak pengantin 🙂

      Reply
  5. Benar sekali mbak, prosesi menikah itu yang penting adalah sah. Kalau ada pesta tidak perlu mewah, tapi kalau ada dana mewah tak masalah. Tapi kalau dana terbatas, tidak perlu memaksakan diri untuk melakukan pesta yang mewah.

    Reply
  6. Sekarang pasangan-pasangan muda lebih bisa bersuara dibandingkan dulu, harus nurut kata orang tua. Mau mengadakan walimahan di gedung, ya ikut saja. Saya setuju walimahan sederhana tapi berkesan, daripada mengundang ribuan orang yang engga ada yg kenal…hehe…

    Reply
    • Alhamdulillah, saya ini anak bontot jadi mungkin yang kebagian nurut udah lewat mba 🙂 Alhamdulillah juga keluarga sih ngerti konsep pernikahan sederhananya 🙂 Iya kan mba, mendingan mengundang mereka yang kita akrab dan kenal baik

      Reply
  7. Fenomena seperti “malu kalo ga menikah di gedung”
    Ga cuma terjadi pada keluarga berada aja tapi di keluarga sederhana sekalipun.
    Bener sih menikah itu yang prnting sah. Namun balik lagi ke moment yang hanya dimiliki sekali seumur hidup. Asal jangan menikah beberapa tahun bahkan bulan terus cerai deh.

    Reply
  8. Kalau waktu remaja kepengennya nikah di venue dengan dekorasi penuh bunga2. Tapi pas mau nikah beneran malah mikir aah mending ijab qabul Aja lalu nyebar bancakan ke tetangga. Malas ribet. Apalagi kondisi ibu juga saat itu harus di kursi roda kasihan kalau lama2 acara.

    Awalnya ortu setuju2 saja. Eh pas rapat nikahan tiba2 rencana berubah. Ibu bikinin resepsi. Katanya Masa anak perempuan pertama nggak diresepsiin. Gedubrak. Karena itu permintaan ibu ya sudahlah. Resepsinya sih di rumah Aja.. dengan tamu undangan kebanyakan tetangga dan teman2 ibu. Teman2 yang kuundang cuma yang bener2 dekat. Jadi lebih terasa homey. Gitu Aja lumayan Juga habisnya zaman 2008. Wkwk.

    Tapi ternyata Ada benernya dengerin ortu. La pada akhirnya Saya anak satu2nya yang sempat dinikahkan bapak ibu. Adik Saya meninggal saat umur 18 tahun.. jadi resepsi pernikahan itu kenangan buat semua keluarga kami.

    Reply
  9. Ada kasus nyata, saat menikah besar2an uang orang tua. Ternyata orang tua ngutang dan pengantin tidak tahu. Setelah menikah baru dikasih tau suruh bayar hutang ini itu karena pernikahannya.

    Reply
  10. Menikah di gedung pernah menjadi keinginan diri sendiri, karna rumah saya meskipun ada lapangan tapi kurang strategis, tapi tetap saja gimana ortu, karena ini hajatan ortu hehehe yang penting ortu senang

    Reply
  11. Dulu aku menikah yang membiayai orangtua. Jadi ya manut aja ketika ibuku minta untuk diadakan di gedung dengan budget terbatas. Ibuku ga mau repot bersih-bersih rumah setelah acara, gitu sih alasannya.

    Reply
  12. Iyaa… pada akhirnya menikah di geding atau kua itu tergantung hasil.komunikasi dan kesepakatan bersama ya .mba.. selama.budgetnya ada dan tidak merrpotkan banyak org mah go aja mau di venue. Cuma untuk yg ga punya budget emang harus pinter2 ya menahan diri biar ga numpuk utang bertahun2
    ..

    Reply
  13. Kalau saya dulu menikah di venue atas kemauan bersama. Awalnya cuma mau yang sederhana aja yang penting akad nikah di masjid. Tapi ternyata orang tua punya pemikiran lain, mengadakan resepsi di gedung dan mereka bersedia membiayai. Ya sudah, alhamdulillah.

    Reply

Leave a Comment

Share via
Copy link