Tentang Laut: Polusi, Relaksasi & Masa Depan

Laut dan Saya

Lahir dan besar Ibukota, saya sebelumnya nggak ngeh betapa overrated-nya hidup di kota besar. Jalanan selalu penuh dan padat. Langit hampir selalu kelabu. Udara hampir selalu penuh dengan polusi. Bisingnya suara dimana-mana, karena kepadatan penduduk dan mobil dimana-mana.

Kalau disuruh memilih pergi ke gunung atau pantai, saya selalu memilih ke pantai. Selain saya nggak tertarik dengan mendaki gunung, saya lebih suka menikmati pemandangan pantai dan laut yang terasa rileks di hati. Saya lebih memilih merasakan pasir hangat dan air pantai di kaki.

Ternyata hubungan saya dan laut ada, walau koneksinya tidak terbilang dekat. Meski saya lahir di ibukota, orangtua saya lahir di kepulauan Indonesia sebelah Timur yang kaya akan hasil alam laut, Maluku Utara. Ya, sebagian besar keluarga saya berasal dari sana, namun keluarga dekat pindah ke Ibukota.

Almarhum Bapak saya hidup di dekat laut waktu kecil dan biasa berenang di sana. Terlihat jelas wajah gembiranya menyapa laut saat sekeluarga refreshing ke pantai Anyer. Almarhum Bapak saya kembali ke darat setelah berenang di laut waktu matahari akan tenggelam, sungguh pemandangan tidak biasa, karena yang saya tahu dia lebih suka di rumah saja. Saya baru sadar mungkin almarhum Bapak saya kangen berat main ke laut kala itu, setelah tinggal berpuluh tahun di kota besar.

Waktu akhirnya saya kembali ke Ternate tahun 2010, saya langsung merasa terhubung dan anehnya familiar. Ternate dikelilingi laut biru yang dalam. Kekayaan alamnya melimpah, nggak usah diomongin lagi dari hasil lautnya. Wah, makanan ikannya segar-segar semua. Saya merasa begitu beruntung berasal dari Ternate, walau kini saya tidak tinggal disana.

Permasalahan di laut

Bumi usianya sudah tidak muda. Alam yang diciptakan bersih tanpa cemaran apa-apa kini sudah dinodai oleh berbagai polusi. Penyebabnya tak lain dan tak bukan dari aktivitas manusia sendiri. Antara tidak sadar atau kesewenang-wenangan, manusia berpikir laut itu wadah sampah yang bisa ‘sembuh sendiri’. Bayangkan saja, kabarnya ada 12 miliar ton sampah plastik dibuang ke laut setiap tahun, mayoritas melalui sungai. Sampah yang terlihat di mata hanya 1%, sementara 99% tidak diketahui dan sangat mungkin dikonsumsi makhluk hidup di laut.

Penyebab dari polusi ini pertama, dari pengunjung yang datang ke tempat wisata laut dan pantai tak jarang meninggalkan sampah saat berwisata. Kedua, dari penduduk sekitar yang membuang limbah dan sampah rumah tangga ke laut. Ketiga, dari perusahaan yang memilih mendirikan pabrik di dekat laut karena berpikir bisa dengan mudah membuang limbah ke pantai. Keempat, para pemburu ikan liar yang memilih pengeboman di laut untuk menangkap ikan. Seterusnya, mungkin ada lagi tapi yang jelas nggak membanggakan untuk ditulis.

https://www.instagram.com/p/B0fgnpZndtK/

Yang buat makin malu, hal ini terekspos di dunia internasional. Diantaranya dari foto ‘lucu’ kuda laut yang memegang cotton bud di Sumbawa menjadi foto finalis di ajang kompetisi foto internasional. Ada pula aktor Adrian Greiner mengunggah hasil pungutan sampah di pantai Bali di akun instagramnya. Ini jadi ‘tamparan’ buat kita, yang mungkin harus disindir oleh orang asing agar tergerak hatinya.

Relaksasi Efek Pandemi

Mungkin polusi adalah salah satu alasan kenapa Allah turunkan virus Corona, sehingga manusia diharuskan dikarantina di rumah dan alam mengalami relaksasi. Salah satunya yang merasakan ini adalah laut. Ini yang saya dengar di Talk Show Ruang Public KBR – Menjaga Laut di Tengah Pandemi.

Menurut narasumber Mbak Githa Anathasia, Pengelola Kampung Wisata Arborek dan CEO Arborek Dive Shop Raja Ampat, polusi di laut jauh berkurang saat pandemi berlangsung karena tidak ada wisatawan dan aktivitas dari boat dan semacamnya. Sekarang justru lebih banyak yang memancing. Ya, wajar saja, ikan-ikan dan hewan laut pasti happy karena laut jernih dan bersih. Plus, juga lebih banyak interaksi antar masyarakat lokal di pelabuhan yang biasanya terfokus ke wisatawan

Sampah limbah juga berkurang dan lebih berasal dari sampah limbah rumah tangga organik, menurut narasumber Ahli Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM)Yogyakarta, Pak Akbar Reza. Yang paling menyedihkan mendengar tenggelamnya 3 desa di daerah Demak karena perubahan garis pantai, yang tadinya merupakan area pertanian menjadi genangan air.

Hal lain yang sangat disayangkan selain dari relaksasi laut ini, masih ada bentuk sampah yang lain: yaitu masker dan sarung tangan! Itu saya baca di komentar top di akun youtube KBR yang membahas.

“Banyak sekali sampah sarung tangan dan masker sekali pakai yang ditemukan di Laut”

Sandy Apriliansyah​

Nah ini menurut saya ngeri banget ya, karena virus Corona sendiri bisa menempel di permukaan benda selama beberapa jam dan jika menempel di air dan terpapar orang lain, bisa jadi medium untuk menularkan virus ke orang lain lagi. Walau, seharusnya tidak ada banyak orang saat masa karantina. Namun, jika memasuki masa New Normal dan aktivitas kembali normal, sampah ini dikhawatirkan jadi penyebab pencemaran baru.

Ini Saatnya…

Sebelum aktivitas benar-benar normal, mungkin ini saatnya menerapkan new normal demi kebersihan laut kita. Apa saja sih yang bisa kita lakukan agar laut tetap bersih?

  • Reuse plastik dan kurangi sampah. Sebisa mungkin kita menggunakan ulang sampah plastik yang kita gunakan untuk hal lain atau didaur ulang. Karena kita tidak tahu sampah-sampah plastik itu bisa tercecer ke tempat lain. Juga sebisa mungkin mengurangi sampah
  • Memakai produk dan jasa yang mendidik dan mendukung kesehatan laut, misalnya produk kecantikan atau jasa travel yang aman lingkungan
  • Menyadarkan dan mengkampanyekan pentingnya kesehatan laut dan isinya. Buat statement untuk mengingatkan orang-orang bahwa kita perlu menjaga kebersihan laut dan kekayaan alamnya.
  • Melarang penggunaan bahan yang membahayakan ekosistem laut seperti bahan peledak.
  • Tidak menjadikan laut sebagai tempat membuang limbah produksi pabrik

Sementara itu, untuk bagian laut yang telah terpolusi bisa ditanggulangi dengan cara-cara ini:

  • Melakukan proses bioremediasi untuk menanggulangi limbah minyak di laut
  • Melakukan fitoremediasi, yaitu teknik membersihkan area terkontaminasi dengan tanaman hidup
  • Melakukan pembersihan laut secara berkala dengan melibatkan peran serta masyarakat

Masa Depan Laut

Membicarakan masa depan laut tak lepas dari tanggung jawab manusia sebagai penghuninya. Jadi, jika ingin laut tetap jernih, tentu harus melakukan berbagai pencegahan dan penanggulangan seperti yang telah disebutkan di atas. Jika tidak, maka siap-siaplah menghadapi ancaman-ancaman yang bisa membahayakan laut dan isinya. Dan pada akhirnya berpengaruh juga ke kehidupan manusianya.

Setelah mengetahui hal-hal ini, apa kita masih mau mengotori laut dengan kesewenang-wenangan kita? Ingat bahwa mencemari lingkungan laut berdampak ke kesehatan bumi dan tempat tinggal kita. Mumpung laut kini mengalami penjernihan kembali, alangkah baiknya jika tetap demikian. Tentunya dengan andil kita semua.

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.

Sunglow Mama Signature

Referensi:

Talk Show Ruang Public KBR – Menjaga Laut di Tengah Pandemi

https://www.dictio.id/t/bagaimana-cara-penanggulangan-pencemaran-laut/110005/2

http://lipi.go.id/berita/pengembangan-teknologi-fitoremediasi-untuk-menangani-pencemaran-lingkungan/22022

27 thoughts on “Tentang Laut: Polusi, Relaksasi & Masa Depan”

  1. barusan saya liat postingan di twitter, iyaa sedih liatnya, masa pandemi membuat sampah plastik berkurang tapi diganti sama sampah masker dan sarung tangan. sedih liatnya…

    kan juli ini di jakarta penerapan larangan plastik sekali pakai, selain itu tahun ini plastik akan dikenakan cukai (pajak) untuk menekan penggunaan plastik.

    kalo digalakkan, bawa kantong sendiri semoga bisa jadi kebiasaan, karena masih enggan bawa sendiri

    Reply
  2. Kenapa sih ya sampah-sampah itu bisa turun ke laut? Padahal yang bawa manusia lho? Aku kok curiga ya, ini sebenarnya sampah yang dibawa dari aliran hulu sungai sampai ke laut. Soalnya kan masih banyak orang buang sampah di sungai.

    Reply
  3. Sampah di pantai dan laut ini berkaitan dengan masyarakat yang tinggal baik dari hulu maupun hilir..karena kesemua aliran sungai akan berakhir di laut.
    Bukan hanya peran masyarakat di daerah pinggir pantai saja. Tetapi di hulu dan daerah tengah pun harus turut ikut aktif menjaga lingkungan.

    Reply
  4. Suatu hari saya snorkling dan melihat banyak sampah di dalam laut rasanya sedih bangeeett kumaha ikan2 dan hewan serta makhluk air yang hidup disanaaa.. T.T

    Semoga masyarakat Indonesia bisa lebih aware dan menjaga kelestarian laut

    Reply
  5. Wisata di pantai memang menyenangkan. Tapi jangan lupa kita harus bawa kantong plastik untuk bawa pulang sampah. Aku pernah KKN di pulau yang letaknya tengah selat madura Mbak… sedih lihatnya karena banyak sampah

    Reply
  6. Memalukan sekali ketika harus melihat justru orang asing yang mengkampanyekan sampah-sampah yang justru ada di daerah yang paling diminati wisatawan. Saya juga sangat berharap, Pak Presiden yang langsung mengintruksikan dan menghimbau, seperti ketika beliau mengintruksikan protokol kesehatan karena wabah covid 19 ini

    Reply
  7. Masih berjuang dengan namanya meminimalisir sampah ni saya mbak. Belum sepenuhnya bisa no sampah dirumah, huhuhu. Tontonan dari para influencer pecinta lingkungan setidaknya saya lakoni agar menancap di memori dulu

    Reply
  8. Di kampung sy kebanyakan org buang sampah di sungai, padahal sungsi itu pusat semua kegiatan, airnya di sedot di penampungan setiap rumah warga. Kendalanya satu, tidak ada satupun tempat membuang sampah. Kalau sampah yang bisa di bakar ya di bakar, tapi kalau yang tidak bisa mereka buang ke sungai. Miris.

    Reply
  9. Selama ini banyak dari kita yang menikmati laut tanpa peduli dengan kelestariannya. Banyak wisatawan yang ngakunya cinta laut tapi buang botol air mineral di pinggir pantai, hiks. Semoga ke depannya kita bisa ikut menjaga laut dimulai dengan cara yang sederhana seperti yang ditulis Mbak Shafira.

    Reply
  10. Semoga semakin banyak warga Indonesia yg peduli akan kebersihan laut ya Mbak.
    Aku malah suka lihat di obyek wisata, botol bekas air kemasan. Baru-baru ini malah ditemukan masker bekas pakai…Btw…cita-cita tuh ke Maluku. Lautnya bisa beniiiing banget.

    Reply
  11. Iya lho, sampah laut indonesia parah banget..
    Nomor dua terbanyak di indonesia
    Makanya kesadaran untuk menjaga laut semakin dipupuk

    Reply
  12. Masalah plastik memang pelik ya mbak. Kami di rumah sudah berusaha mengurangi pemakaian plastik, tapi ya adaa aja. Mulai dari tukang sayur yang ngeyel ngasih plastik krn menganggap wadah yang saya bawa bisa bocor sampai aturan dari RT kalau setiap sampah yang mau diangkut truk harus dimasukan ke plastik, huhu. Memang sadar lingkungan itu harus dilakukan berjamaah ya, ga bisa sendiri-sendiri 🙁

    Reply
  13. Sedih ya lihat laut yang penuh sampah. Dan semuanya karena sampah manusia. Kita egois banget ya nggak mikirin hewan2 yang Ada di dalam laut harus berperang melawan laut. Semoga ke depannya bisa menjaga laut lebih baik.

    Reply
  14. Rasanya tuh enggak percaya lho ada manusia yang dengan begitu mudahnya membuang sampah sembarangan. Apa nggak risih gitu ya melihat sampahnya dibuang begitu saja dan terlihat mata. Sepet padahal ya untuk kita yang terbiasa membuang sampah di tempat sampah. Semoga aja pandemi ini banyak membawa pelajaran hidup bagi manusia, salah satunya tentang menyayangi lingkungan dimana kita tinggal dan menggantungkan hidup ini.

    Reply

Leave a Comment

Share via
Copy link