Fiksi

Atika, Oka dan Hujan (Part 3)

Baca Atika, Oka & Hujan Part 1 dan Part 2

Atika merasa lega karena ada secercah harapan. Sebuah solusi dari masalah besar yang mereka sedang alami. Mereka tak perlu gadaikan barang atau pinjam uang, karena bisa menggunakan dana THR pekerjaan Oka untuk biayai kepindahan mereka.

Namun ternyata Oka tidak suka dengan ide itu. Ia sudah punya rencana tadinya penggunaan THR untuk apa saja dan sama sekali bukan untuk pindah rumah lagi.

Atika kecewa dengan respon Oka. Ia tak habis pikir, bagaimana Oka bisa membiarkan keluarga mereka hidup dengan rumah terancam banjir sewaktu-waktu? Mungkin THR itu bisa membayarkan barang-barang atau keperluan lain, tapi kebutuhan mendasar seperti rumah tinggal yang layak seharusnya mengalahkan semua keperluan. Atika pikir Oka masih dalam penyangkalan.

Tiap mereka mendengar suara petir menggelegar dan suara hujan mulai turun, rasa takut langsung merayap. Selalu ada kemungkinan air akan naik ketika curah hujan membesar dan lantai bisa dipenuhi dengan… bukan cuma air, tapi air kotor yang lengket! Memikirkan itu Atika jijik dan ngeri.

Ada kalanya Atika bisa tenang kala hujan turun. Batinnya bilang, ya sudah kalau hujan dan air naik itu sudah ketetapan-Nya. Namun seringnya hati Atika panik, dan anehnya ketika hatinya makin gak karuan, hujan malah turun semakin lebat.

Apalagi jika Oka tidak sedang di rumah, Atika semakin tidak bisa mengontrol emosinya. Namun lama-lama Atika lelah dengan rasa panik itu. Ia lalu berusaha mengalahkan rasa takutnya. Ia tidak mau lagi dimain-mainkan oleh perasaan ngeri.

Meski takut, Atika selalu mengintip dari jendela depan apakah air meninggi. Kadang ia tidak mau walaupun ingin tahu, karena takut malah makin panik. Lucunya, setinggi-tingginya air, tingginya cuma sampai batas beberapa milimeter dari tinggi lantai pintu depan. Namun tak pernah sama tinggi dan tak pernah sampai masuk pintu depan, seperti yang ditakuti Atika.

“Aneh,” pikir Atika, “Seolah-olah kalau hati semakin ketakutan, semakin membuat hujan makin besar.” Iya, meski Atika sudah membaca doa hujan, namun kala hatinya tidak meyakini doa itu, malah hujan jadi besar dan air meninggi.

Iya, Allah takkan berikan ujian melampaui batas kemampuan hamba-Nya. “Jikapun banjir, berarti aku bisa melaluinya.” Pikir Atika. Dan, Allah selalu mengikuti persepsi hamba-Nya.

Mengingat itu Atika menjadi lebih tenang. Dan benar, ketika hujan datang dan panik datang, Atika berusaha mengingat pemikiran dan hadist itu. Hatinya tenang memikirkan Allah akan selalu menjaganya.

Jangan-jangan, pikir Atika, ini semua ujian buat hatinya. Ujian dari-Nya agar ia yakin dengan apa yang ditetapkan-Nya. Ia melihat Okapun kadang tenang, kadang berusaha terlihat tenang, kala curah hujan membesar.

Akhirnya Oka mengalah. “Oke, aku akan coba menanyakan ke bosku.” Atika lega bukan main mendengar perkataan suaminya itu.

Tapi sebenarnya ada ragu menghinggapi pikiran Oka. Ia merasa bosnya mungkin takkan setuju atau menanggapi permintaannya itu. Sejujurnya, Oka merasa ia bukan pegawai favorit si bos. Dan itu bukan karena kinerjanya. Oka ragu mau mengajukan permintaan ini.

Lagi-lagi ada sekelumit kekhawatiran di benak pasangan suami istri ini. (bersambung)

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *