Cerita Kamera Holga Pecah dan Melepaskan Barang-Barang Koleksi Lama

Cerita Kamera Holga Pecah dan Melepaskan Barang-Barang Koleksi Lama by Sunglow Mama

Ibu-ibu, apa punya koleksi barang, baju atau tas? Sebagai manusia kita tentunya punya minat dan hobby. Dan dari hobby dan minat itu ada benda-benda yang menunjang si hobby. Misalnya seperti memancing ya ada pancingannya, senang sepatu ya koleksi sepatu, senang merajut ya punya banyak koleksi rajutan dan alat merajut. Dan banyak lagi.

Biasanya minat ini berlangsung di suatu masa atau periode dalam hidup. Misalnya waktu saya SD, punya koleksi orang-orangan. Waktu SMP saya naksir aktor Keanu Reeves dan punya koleksi klipingnya (suka dikasih dari teman-teman juga). Waktu SMA, saya doyan baca novel dan punya koleksi beberapa buku novel. And so on.

Kita cenderung mengoleksi dan akhirnya menimbun barang-barang minat kita ini. Karena ya, kita suka dan mau punya koleksinya sehingga bisa kita gunakan dan kagumi sewaktu-waktu.

Awal Mula Mendapat si Holga

Mungkin, koleksi termahal yang pernah saya punya adalah kamera, dari yang plastik maupun digital (saya cuma punya dua kamera digital dalam periode yang berbeda). Sebenarnya kamera plastik lebih murah dari kamera digital, karena dia memang sebenarnya kamera mainan. Tapi berfungsi dan bisa diisi film.

Hingga kini, karena satu dan lain hal (salah satu alasannya mengurangi koleksi dan takut dihisab), satu persatu kamera-kamera itu pergi ke pemilik barunya, hingga tinggal satu saja yang paling memiliki nilai personal. Kamera itu adalah kamera Holga.

Kamera dari brand Lomography yang saya beli menggunakan film format 120 (lebih besar dari ukuran standard 135mm) sehingga bentuknya kotak ketika dicuci dan dicetak. Meskipun akhirnya Lomography banyak mengeluarkan warna-warni dari versi Holga ini, saya beli versi pertamanya yang hitam dan punya empat warna flash berbeda di atasnya.

Menggunakan Holga dan Tantangannya

Membeli kamera ini terpengaruh kawan saya yang sudah lebih dulu beli kamera plastik seri yang lain. Saya inget banget belinya aja waktu jam makan siang kantor, melipir ke toko buku kekinian yang menjual barang-barang keren, seperti si Holga. Belinya nitip sama karyawan tokonya yang kebetulan temannya kawan saya itu. Waduuh, senang banget bisa punya akhirnya.

Baca Juga: Biar Plong, Ini Hal-Hal Yang Bisa Dipelajari dari Ramadhan 2020

Tentu saja menggunakan kamera analog nggak semudah kamera digital. Mendapatkan filmnya saja susah dan jarang. Adapun, bisa aja mahal. Anak lomo gemar mengelilingi Pasar Baru mencari kamera analog antik dan film langka.

Jika kamu suka foto, tentunya kamu suka menangkap foto dan momen, alias hunting foto. Adalah sedikit tantangan mencari waktu hunting karena saya bekerja kantoran. Beberapa kali saya ikut hunting foto dengan anak lomo, kadang saya bawa saja si Holga di tas kalau jalan-jalan berharap ada momen bagus. Usai foto, harus cuci cetak foto. Ini yang buat deg-degan.

Ya bayangkan saja, kamu sudah habiskan waktu dan energi juga biaya untuk hunting foto dan berkeliling buat menangkap foto. Ternyata waktu dicuci hasilnya gagal. Entah underexposure, overexposure, kesalahan teknis atau apa. Tips dari senior lomo sih, positive thinking all the time dari hunting hingga cetak.

Prestige dan Imej Memakai Kamera

Sudah biasa jika seseorang pecinta fotografi ingin dan punya kamera yang oke dan canggih untuk menangkap foto. Mereka suka mengalungkan kameranya di leher kala waktu hunting, mendiskusikannya bersama sesama pecinta fotografi. Bahkan ada tim Brand Nik** dan Can*** segala.

Di event-event keren, salah satu yang pernah saya datangi, Pasar Seni ITB 2010, kamera DSLR bagaikan item fashion pengunjung. Hampir tiap grup pengunjung memakai kamera DSLR dikalungkan di lehernya. Mereka terlihat modis dan hipster.

Bagaimana dengan kamera lomo? Ada sedikit rasa ‘bukan cuma anak foto biasa‘ ketika memakainya. Dan, produk-produk ini nggak cuma dijual untuk menangkap momen tapi juga untuk fashion dan prestige. Dan sejujurnya, hal ini yang sebenarnya nggak perlu.

Iya dong. Jika kamu cinta foto, yang penting itu karya foto kamu..bukan kerennya kamera kamu.

Holga Dulu, Holga Sekarang

Ketika sedang hot mempelajari ilmu foto analog dan perintilannya, ya saya sering foto. Tapi seiring perjalanan, karena kesibukan dan gak sempat hunting, akhirnya Holga cuma ditaruh di lemari aja. Apalagi menghasilkan foto dengan Holga nggak cuma dengan jepret, harus cuci foto dan scan kalau mau di upload atau save di komputer. Semua itu butuh waktu dan energi sendiri.

Menikah dan pindah rumah buat saya lupa banget sama hobby ini. Saya pun harus pindahan rumah beberapa kali.

Baca Juga: Ngomongin Terjebak di Comfort Zone Atau Zona Nyaman dan Cara Mengatasinya

Terasa sekali ‘beratnya’ memiliki kamera-kamera yang saya punya terutama ketika sudah berkeluarga. Berat dalam artian dari kesia-siaan penggunaan, waktu, biaya dan space penyimpanan (suka bingung ini kamera disimpan dimana). Dia tergojrok aja di lemari di sebelah perlengkapan perawatan diri saya.

Akhirnya si Holga Pecah

Akhirnya sampai ke the sad ending. Setelah beberapa lama si Holga saya simpan rapat di wadah selama si kecil masih bayi hingga tiga tahun, di suatu kesempatan Holga itu keluar dari wadahnya. Dilihat si kecil dan ternyata si kecil suka banget.

Dia bilang, kameranya punya dia (self-claim). Lalu berpose layak fotografer jeprat jepret saya dan bapaknya. Kalau si kecil lagi nggak main, saya simpan lagi. Begitu beberapa kali. Namun terbersit di benak, kenapa saya nggak jual aja si Holga? Apalagi setelah saya belajar, benda itu nggak baik cuma disimpan tanpa digunakan. Mendingan si Holga dipakai buat anak muda lain yang mau belajar foto 🙁

Biarin deh, buat mainan si kecil, pikir saya. Kawan saya padahal sarankan agar nanti saja dimainin si kecil waktu dia sudah lebih besar. Namun, sebagai ibu saya suka ngasih aja ke si kecil. Senang lihat si kecil eksplor si Holga. Nggak selalu juga dia mainkan. Kalau lagi asyik dengan mainan lain juga lupa.

View this post on Instagram

Today's celebrity #lomo #dianamini #analogue

A post shared by andinzki (@andinzki) on

Lalu pada suatu pagi, kala perasaan lagi rapuh, tiba-tiba kamera Holga itu tersenggol si kecil dari sofa dan bagian ujung kirinya… pecah. Saya terkejut dan shock selama beberapa saat. Saya marah sekali dengan si kecil.

Selama beberapa saat saya diam menahan emosi. Seisi rumah (suami dan si kecil aja sih) bingung lihat saya diam ngambek. Disitu saya merasa sudah diambang emosi. Sebenarnya, ada faktor internal lain yang mempengaruhi sih, menambah kepala mendidih.

Ya ampun, si Holga pecah.

Dapat Pencerahan

Kejadian kamera holga pecah ini sebenarnya penanda, bahwa saya benar-benar harus move on. Ya si holga hadir ketika fase saya masih single, bekerja dan hidup buat hati sendiri happy aja. Ia menandai fase dimana saya pernah jadi anak foto, anak lomo dan mungkin sedikit hipster.

Tentu jadi ibu terasa sangat fulfilling, namun si holga ada jadi sebuah lambang sendiri di sebuah fase umur 20an saya. Ya, sebuah bukti ‘saya pernah loh jadi anak keren ini’. (Sekarang? jadi mama keren)

Akhirnya, saya sadar sikap saya konyol banget. Saya emosi sama anak karena sebuah plastik. Holga itu cuma benda, yang saya nggak pernah lagi pakai. Ini sebuah teguran. Harusnya saya relakan saja si Holga, daripada akhirnya pecah dan akhirnya nggak bisa dipakai. Sayalah yang harusnya bertanggung jawab mengamankan si Holga. Tidak digeletakkan di sofa begitu saja.

Kalau dipikirkan lagi buat apa memiliki barang jika barang itu hanya untuk dipamerkan dan dipajang. Dimiliki tapi nggak atau jarang digunakan. Dulu sih nggak masalah, kala single dan ada waktu untuk hobby. Nggak masalah punya selama itu memang hobby dan positif. Selama kamu juga udah gunakan uang dengan bijak dan ada lebih buat dirimu sendiri.

Tapi kalau nggak ada gunanya lagi, nggak ada ruang buat hobby yang butuh ketotalan (saya saat ini nggak memungkinkan jepret foto dan harus cuci-scan lagi), mendingan barang itu kamu kasih orang atau jual. Just let it go.

Ini hadist yang menyinggung memiliki barang koleksi:

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya”.

(HR. Tirmidzi).

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”.”

(QS. At-Taubah : 34-35)

Itu dia cerita tentang Holga pecah saya. Bagaimana dengan ibu-ibu? Adakah barang koleksi yang sudah tak dipakai lagi tapi masih disimpan?

40 thoughts on “Cerita Kamera Holga Pecah dan Melepaskan Barang-Barang Koleksi Lama”

  1. Saya jadi teringat banyak barang peninggalan alm ayah yang masih banyaaak tersimpan. Bingung mau diapakan pdhal sebagian besar sudah d sumbangkan, tapi kalau disimpan terus takut jadi beban utk beliau disana.

    Reply
  2. Saat hendak menyusul suami tugas belajar jauh dari tanah air, dengan berat hati harus menyortir barang-barang kesayangan. Karena tempat penyimpanan tidak akan muat menampung semuanya. Berat memang melepaskan barang yang kita sayangi. Tapi memberikan barang yang kita sangat sukai, qpalagi masih sangat bermanfaat, tentu akan diganti dengan ganjaran berlipat.

    Reply
    • Masya Allah, benar mbak. Insya Allah diganti dengan yang lebih bermanfaat. Saya juga beberapa kali pindahan, harus melepas benda yang nggak berguna lagi alias nggak lagi dipakai

      Reply
  3. Aku bisa merasakan sakitnya saat Holga jatuh u u u.Yup aku juga sering emosian sesat saat benda kesayangan yg susah payah dibeli tiba tiba jatuh.Kalo udah emosi biasanya aku lemes terus istigfar deh .

    Reply
    • Iya mbak. Gampang sih emosi ketika anak nggak sengaja merusak benda yang kita sukai, padahal anak titipan Tuhan. Benar mbak, istighfar aja dan minta maaf ke anak

      Reply
  4. Melihat barang kesayangan dipecahin sama anak tentu sedih banget ya mbak. Tetapi harus ingat kembali bahwa anak jauh lebih berharga dari barang yang dipecahkan tadi.

    Habis baca artikel ini saya mau cari barang-barang lama saya yang sudah tidak terpakai. Kalau bisa mau saya hibahkan supaya bisa bermanfaat bagi orang lain. Terima kasih mbak telah diingatkan hal baik ini

    Reply
  5. butuh keikhlasan besar emang ya mba, apalagi barang yang disayang tentu enggak mudah. memang sih kita diajarkan di agama untuk enggak mempertahankan barang2 yang tak digunakan. hisabnya berat nantinya. makasih mba pengingatnya.

    Reply
  6. Wah… jadi inget dulu papa saya punya kamera kayak gini. Sekarang mah udah jarang kali ya. Kalau pun ada yg punya, untuk pegiat hobi.
    Kalau barang koleksi, Saya punya barang koleksi perangko. Masih saya simpen sih sekarang, tapi udh males hunting lagi,hehe

    Reply
  7. Sepertinya saya juga pernah mengalami hal-hal seperti itu Mba, untuk beberapa barang berharga. Dan sama seperti Mba, kerusakan seperti itu memang sepertinya sebuah pertanda jika barang itu tidak penting lagi dan bukan prioritas lagi. Soalnya kalo barangnya masih penting, pasti dijaga sepenuh hati, dan disimpan baik-baik, diliat boleh dipegang jangan Kalo saya kemaren-kemaren sih, begitu

    Reply
  8. Pokoknya tetap keren ya Mbak ha ha ha. Ntar jadi mertua keren, trus nenek keren. Ngomongin kamera, aku juga lagi sedih. Kamera dslr jadul satu2nya milikku juga rusak. Mau benerin mahal. Yah, cuma bisa nahan rindu. Ngayal balik ke jaman dslr ku masih eksis.

    Reply
  9. Kebetulan barang koleksi saya yang receh-receh aja mba. Kartu pos doang beberapa kotak plus beberapa album. Ga tau deh mau dihisab ntar kayak gimana, soalnya itu emang tuker-tukeran dengan sesama pencinta kartu pos dari berbagai negara. 😉
    Klo untuk fotografi, so far saya masih pencinta fotografi ponsel. Dari dulu mpe sekarang ya mampunya pake hape aja hehehe…

    Reply
  10. Duh, terima kasih remindernya, Mbak. Saya rasanya udah nggak punya barang-barang yang disimpan hanya karena memorinya aja. Sejak baca buku Goodbye, Things: The New Japanese Minimalism Fumio Sasaki jadi belajar melepaskan ikatan dengan barang. Yang PR masih barang-barang suami sih. Dia belum rela melepas benda-bendanya meski sudah nggak pernah dipakai.

    Reply
  11. Jlebb ini remindernya. Memang sebaiknya hobi kita tak membuat kita menimbun barang ya, Mbak. Saya sedang berusaha mengurangi jumlah baju di lemari dengan menyumbangkannya. Juga buku-buku. Nice sharing tentang si Holga. Jadi tau sisi lain hobi fotografi

    Reply

Leave a Comment

Share via
Copy link