Kehidupan Ibu,  Pengalaman

Hikmah Di Balik Bikin Kolak Pisang Sendiri dan Topping Khas Pisang Goreng Keluarga

Yes, akhirnya saya bisa buat suguhan klasik di bulan puasa, yaitu kolak pisang. Saya berhasil menaklukkan pikiran saya sendiri soal membuat makanan ini. Plus, saya menambahkan topping ekstra khas kampung halaman saya waktu menyantap pisgor baru-baru ini. Penting banget, hehehe. Awalnya gimana ini?

Alhamdulillah, kita sudah sampai di minggu terakhir Ramadhan di tahun 2020. Kalau mengingat awal puasa, rasanya (kalau saya ya) sedikit tertantang. Jadi, biasanya saya selalu kerepotan di bulan puasa di tahun-tahun sebelumnya. Biasanya memang saya yang anak bungsu ini biasanya selalu tersuguhi makanan sudah jadi di rumah orangtua. Kalau membantu sedikit-sedikit ada, seperti goreng-goreng makanan yang gampang, cetak-cetak adonan kue kering, bikinin teh manis. Tapi me-manage household dan masak semua sendiri? Baru lima tahun ini, setelah menikah tepatnya.

Flashback dulu. Tahun pertama, saya masih kerja kantoran. Seringnya pulang sampai rumah beberapa menit sebelum buka puasa. Beli gorengan atau beli makanan buka puasa aja di dekat rumah. Lalu pulang dan menyantapnya bersama suami.

Tahun kedua, sudah mulai di rumah dan bikin makanan buka puasa sendiri. Tapi masih suka jajan. Maklum, masih belum punya anak dan masih suka-suka aja berdua.

Baca Juga: Bukan Hidroponik, Ini Hobi Baru Saya Saat Pandemi

Tahun ketiga, anak saya baru lahir. Umur anakku masih sebulanan. Saya masih dalam fase nifas. Alhasil, suami puasa sendiri dan saya sebisanya menyediakan makanan untuknya. Begitupun dengan tahun keempat dan kelima, anak saya yang masih bayi dan usia 2 tahun yang lagi fase terrible two agak susah ditinggal. Jujur ini repot banget. Apalagi tahun keempat, saya juga baru pindahan rumah.

Tahun ini, anak saya sudah mau empat tahun. Sudah bisa agak ditinggal-tinggal. Saya ngerasa, nggak boleh ada mindset ‘bulan puasa pasti repot’. Sayang banget, padahal ini bulan yang dimuliakan kita semua. Padahal sih, suami saya nggak pernah muluk-muluk minta makanan. Jadi memang seringnya, saya punya goal sendiri. Seringnya karena banyak yang dikerjakan, suka nggak tercapai beberapa to-do-list yang saya buat. Tercapaipun, saya sering memforsir badan sehingga badan capek dan ujungnya cranky.

Setelah hampir sebulan ini berusaha membuat dan mengatur kegiatan agar nggak serepot dulu, akhirnya ada solusinya. Apa tips biar nggak kerepotan?

  1. Berpikirlah bahwa melakukan semua pekerjaan rumah adalah bentuk jihad, bentuk ibadah kita yang perempuan ini kepada Yang Maha Kuasa. Dengan mengingat ini, melakukan segala sesuatu lebih plong.
  2. Buat menu harian dan buka puasa secukupnya atau jangan banyak maunya. Ketika lagi menahan lapar, kita suka maunya banyak ya. Tapi sebenarnya nggak perlu banyak-banyak.
  3. Makan secukupnya. Makan terlalu banyak tidak dianjurkan di Islam. Ini juga bisa menghambat ibadah seperti shalat tarawih dan lainnya, perut berat bikin nggak nyaman.
  4. Jadwalkan atau atur kegiatan anak sehingga tidak bentrok dengan jadwal kita. Beri pengertian ke anak kalau ada jadwal baru seperti sahur dan buka puasa khusus di bulan Ramadhan
  5. Jangan remehkan atau tinggalkan waktu tidur cukup. Pekerjaan IRT itu banyak, dan tidur itu mesti demi ketahanan tubuh. Kita sakit, sekeluarga bisa nggak keurus.

Membuat Kolak Pisang

Pisang sendiri adalah buah yang cukup digemari, terjangkau dan dikonsumsi di keluarga saya untuk membuat kolak dan pisang goreng. Sudah jadi hal yang lazim membeli sesisir pisang buat disantap sekeluarga. Jujur aja, saya rindu dengan tradisi rumah ini.

Karena satu dan lain hal, saya mulai coba-coba resep baru seperti roti goreng (yang gagal tapi saya berhasil mengulen roti secukupnya), membuat pie susu mini dan yang menurut saya paling jadi triumph atau kebanggaan adalah membuat kolak pisang sendiri.

Kenapa? Soalnya dulu saya selalu beranggapan bikin kolak pisang itu ribet. Entah darimana pemikiran itu. Jujur aja, beberapa tahun terakhir saya rindu sama kolak pisang. Makannya cuma pas main ke rumah mertua sama orangtua aja. Padahal, setelah buat sendiri, gampang banget!

…kandungan yang ada di dalam pisang kepok. Ternyata, 118 gram buah pisang kepok mengandung 105,2 gram kalori, 21,5 gram vitamin B6, 16% zat mangan, serat sebanyak 12,3%, vitamin C sebesar 17,1% dan kalium sebanyak 12,1%

akurat.co

Ya, setelah saya konsultasi sama ibu saya, yang bilang, “Bikin kolak gampang banget. Resepnya cuma panaskan gula merah dan disaring, lalu rebus sama pisang yang udah dipotong-potong dan kasih santan setelah masak. Setelah itu kasih pandan dan jahe.”

Biar makin yakin saya sampai browsing resep di aplikasi cookpad. Iya, biar sekali bikin langsung sukses gitu. Beberapa resep bahkan menambahkan kayumanis di kolak pisangnya. Alhamdulillah, saya ada stok kayumanis, yang harusnya dipakai untuk minum teh tapi nggak banyak digunakan. Prinsip saya sekarang, apalagi setelah wabah corona ini mulai, mulailah berdayakan rempah karena pakai rempah di makanan itu bikin rasa makanan makin kaya. Apalagi kita tinggal di Indonesia yang kaya rempah. Kayumanis di cafe terkenal aja kena charge mahal buat topping kopi.

Air rebusan kayu manis juga memberikan efek hangat pada tubuh. Minuman ini cocok dikonsumsi saat musim hujan. Efek obat dalam kayu manis menjadikan minuman ini kaya manfaat. Manfaat ini termasuk membantu penurunan berat badan, meningkatkan kesehatan jantung, mengurangi kram menstruasi, dan mengurangi peradang.

Liputan 6

Oke, saat eksekusi memasak kolak pun lancar aja. Mulai buatnya 5 pisang kepok dulu, karena ngeri gagal. Tapi Alhamdulillah, enak kolaknya. Dipuji juga sama suami, cihuy. Jadi saya nggak anti lagi sama kolak pisang. Malah nyesel, bikinnya nggak sekalian banyak.

Pisang Goreng Topping Kacang

Nah, dengan banyak stok pisang kepok di rumah, sisanya akhirnya saya buatkan pisang goreng. Waktu saya baru beli pisangnya, saya tunjukin ke ibu saya via foto untuk make sure apa pisangnya sudah matang. Ibu saya malah bilang, “Enak pisangnya digoreng sama dimakan sama keju.” Di rumah, suami saya nggak biasa makan pisgor sama apa-apa. Karena lagi irit keju, saya baru ingat juga kalau di rumah ada stok kacang tanah.

Baca Juga: Be Mindful, Ketahui Cara Ngemil Bijak Di Era Pandemi Ini

Makan pisang goreng dengan kacang ini khas dari kampung halaman saya, Ternate, bagian Maluku Utara. Ini hal yang kecil ya, makan pisgor sama kacang aja. Tapi paduan ini bikin saya nostalgia waktu saya main ke Ternate beberapa tahun lalu. Saya makan pisang goreng dengan kacang sambil memandang gunung Sulamadaha, yang indahnya bukan main. Pisang gorengnya sih biasa aja, tapi pengalamannya, masya Allah. Gunung ini, saking indahnya, tercetak di uang seribuan rupiah kita.

Makan pisang goreng dengan kacang juga adalah hal yang biasa di rumah orangtua saya. Cuma, saya nyaris nggak pernah melakukan ini habis menikah. Jadi, menambahkan kacang waktu makan pisang goreng bagi saya nikmat banget. Biarin aja walau suami saya bilang, ini kebiasaan yang aneh, hihihi.

Apa hikmah dari membuat kolak pisang sendiri? Yaitu jangan buru-buru mencap sesuatu sebelum dijalani sendiri. Salah-salah malah rugi sendiri. Seandainya saya masih mikir bikin kolak pisang itu ribet, nggak akan saya rasakan masakan sendiri dan pengalaman buka puasa personal yang nikmat. Itu aja.

Makasih ya sudah baca pengalaman masak saya yang receh ini, hihi. Bagaimana dengan ibadah puasa ibu-ibu? Mencoba resep barukah? Share yuk disini.

Tulisan ini juga adalah artikel tantangan untuk blogging bulan Mei dari Ibu-Ibu Doyan Nulis.

Sunglow Mama Signature

24 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *