Seni Kerja Dari Rumah Untuk Ibu Rumah Tangga

kerja dari rumah online.jpg
photo from unsplash

Seni Kerja Dari Rumah Untuk Ibu Rumah Tangga – Tak terasa sudah hampir 7 tahun saya memutuskan berhenti bekerja kantoran. Saya tidak lagi ‘menengok ke belakang’ dan cukup enjoy bekerja dari rumah. Tentu semua ada sisi enak dan enggaknya, namun saya telah menerima semua itu.

Lagipula semua berbeda ketika sudah punya buntut alias anak. Tak sampai hati saya tinggalkan si kecil yang masih balita kepada orang lain, sementara sejak lahir dia selalu nempel di ketiak saya.

Begini awal mulanya saya memilih kerja dari rumah:

Awal Bekerja Di Rumah

Tahun 2014 saya putuskan resign karena beberapa hal. Yang pertama, saya sudah terbenam ke dalam zona nyaman di pekerjaan yang sudah saya geluti bertahun-tahun. Yang kedua, saya sudah tidak lagi happy mengerjakan job saya di kantor.

Secara keseluruhan, rasanya seperti seluruh semesta ‘berkolaborasi’ ingin saya kerja dari rumah. Tentu ada yang mempertanyakan keputusan saya, tapi itu berbeda persoalan lagi (mungkin saya akan share di lain kesempatan).

Awalnya saya enggan kerja dari rumah. Tapi setelah saya pikirkan lagi dan memori masa kuliah kembali, saya selalu ingin kerja dari rumah jika sudah berkeluarga. Pertimbangannya karena saya tidak ingin meninggalkan anak, jika sudah dikaruniai buah hati.

Lucunya, saya merasa seperti ‘ditatar’ membiasakan diri di rumah sebelum anak saya lahir. Iya, bahkan sebelum pandemi menguasai dunia.

Ternyata, memang pasangan tidak begitu mendukung saya kerja kantoran. Karena dia pun sudah lebih awal kerja dari rumah.

Kalau suami sudah tidak ridho, maka sulit deh ya meneruskan yang kita mau. Kala itu, batin saya juga sudah sangat ingin move on dari pekerjaan lama.

Senangnya Kerja Dari Rumah

No Cost dan Energi Transportasi

Ketika saya baru resign, saya lega tidak menjadi angkoters lagi. Saya tidak perlu lagi tergesa-gesa bangun untuk mengejar jam masuk kantor. Tidak lagi harus naik angkot yang kepenuhan, ngetem lama dan belum lagi menghirup polusi di Jakarta. Tak ada lagi energi dan biaya yang keluar untuk naik transportasi demi duduk kerja di kantor.

Mungkin saya telah lelah bertumpuk-tumpuk dengan suasana jalanan Jakarta. Apalagi sebelumnya, saya terbiasa naik busway yang disiplin dalam mengangkut dan menurunkan penumpang.

Makan Di Rumah Irit Biaya

Menu makan juga menyiapkan sendiri di rumah. Jadi cukup hemat. Mau beli di luar juga bisa. Tergantung keinginan, mau beli jauh apa dekat. Kalau sekarang apalagi, bisa pesan ojek online ke rumah.

Untuk masak sendiri, kita harus jeli memasak yang ringkas saja kalau banyak pekerjaan. Atau, sudah lebih dulu mempersiapkan sehingga waktu tidak molor.

Fleksibel Waktu

Mau kerja tapi mau lihat jemuran dulu, bisa. Mau ngerjain setrikaan dulu baru kerja, bebas. We are our own project manager. Yang penting kerjaan beres sebelum deadline. Kebetulan suami juga sama, kerja dari rumah. Bebas mengatur waktu kerja.

Patut diingat, saya sempat bekerja lepas juga mengurus online shop kala baru lepas kerja. Beda ya sama teman saya yang memang manager yang kerja dari rumah. Dia cuma bisa break saat jam istirahat, itupun termonitor. Melihat ini, maka bisa jadi kondisi pekerjaan tiap orang berbeda.

Kerja dari rumah 2021.jpg

Selalu Dekat Dengan Anak

Tak perlu ada jarak dari anak dan kita. Saya selalu bisa mengawasi anak yang masih balita. Tak ada kesulitan besar mengatur waktu kebersamaan dengan anak dan hampir selalu bisa hadir untuk anak.

Kesulitan Bekerja Dari Rumah

Ketika Malas Menyerang

Judulnya memang di rumah. Kebebasan memang di genggaman, di luar kuasa Tuhan ya. Tapi justru itu. Ketika malas menyerang, we are our own barrier. Maka itu, ketika sudah mengikuti mager maka bisa kebablasan. Deadline bisa molor.

Apalagi ketika saya baru saja keluar dari kerja kantoran, lebih sulit memecuti diri agar tidak keterusan ikutin malas. Kini, saya lebih bisa mengatur diri dan pikiran. Minimal, jangan sampai rintangan berasal dari pikiran sendiri.

Waktu Luang Kadang Tidak Terbaca

Kini tantangannya bukanlah pikiran saya, melainkan aktivitas saya sebagai IRT. Setelah punya anak, bekerja menjadi lebih penuh tantangan. Namun, dasarnya saya memang workaholic. Jadi saya memang suka berlama-lama dengan pekerjaan.

Saya akui, tidak pernah bisa benar-benar ‘membaca’ waktu luang atau kosong. Mungkin karena anak masih balita, sehingga belum bisa dilepas atau mandiri betul.

Kalau sudah begini dan pekerjaan sedang deadline, maka saya harus sedikit mengorbankan waktu istirahat.

Jenuh Tidak Bisa Ditelorir

Pada dasarnya, saya orang rumahan. Saya suka berada di rumah, dengan catatan rumah nyaman. Namun, saya juga makhluk sosial walau saya memang introvert. Berada terus di dalam rumah, wajar jika jenuh muncul.

Salah satu cara agar tidak jenuh, tentu melakukan hobby atau sesuatu yang diluar rutinitas. Tapi ketika sudah memuncak, kejenuhan tidak bisa diobati selain memang keluar rumah. Tentu sebuah tantangan ketika musim pandemi.

Jadi, tidak apa keluar rumah untuk mencari suasana baru. Tentu diluar deadline pekerjaan dan ke tempat yang terproteksi kesehatannya.

Tips Bekerja Dari Rumah Untuk Ibu Rumah Tangga

Selama ini saya selalu bekerja dengan status pekerja lepas. Beda dengan staf kantor yang harus WFH, mungkin lebih ketat ya dalam waktu. Tapi overall, saya bisa menemukan ritme sendiri, terutama ketika anak sudah tidak lagi toddler.

Jika di awal work from home saya bekerja sebagai pembuat konten lepas, kini saya ambil pekerjaan sebagai blogger dan sesekali sebagai desainer dan influencer.

Fleksibel

Karena kesibukan tidak bisa ditebak dan pekerjaan diluar IRT adalah pilihan saya, maka saya harus menjadi yang fleksibel. Tidak bisa kaku, karena saya ada kerjaan maka saya menelantarkan pekerjaan rumah atau anak. It’s a big no.

Karena anak titipan Tuhan dan tidak ada yang bisa benar-benar menggantikan status Ibu, maka tidak bisa saya kaku dan harus mengerjakan pekerjaan tok. Proses pertumbuhan anak juga tidak akan kembali lagi, jadi jangan sampai diabaikan.

Atur Prioritas

Prioritaskan segala yang lebih urgent. Dalam kasus saya sehari-hari, yang lebih urgent adalah kebutuhan keluarga. Maka, disela-sela itu barulah saya mengerjakan pekerjaan. Karena kalau melalaikan prioritas atau yang lebih memiliki urgensi, maka akan mengganggu kegiatan yang sedang kita lakukan.

Namun, saya dapat mencari celah ketika memungkinkan untuk bekerja. Itulah keuntungan masa kini dengan internet wireless, bisa bekerja dimana saja dalam jangkauan sinyal dan bisa membuat konten dari handphone.

Jadwalkan To-Do-List Per Hari

Dari pengalaman, menuliskan to-do-list keesokan hari jauh lebih lancar dalam menjalankan hari. Paling tidak, ada pointer atau poin-poin utama yang harus dijalankan dalam hari itu.

Dengan begini, kita bisa fokus melaksanakan yang sudah dijadwalkan. Juga tidak melakukan yang sebenarnya tidak begitu darurat.

Ambil Job Sesuai Kemampuan

Kadang ada hasrat mengambil pekerjaan karena tergiur pendapatan, namun sebagai IRT harus jeli dengan scope of work atau ketentuan pekerjaan. Lalu, mencocokkannya dengan kemampuan/kapasitas kita. Terutama dari segi waktu dan energi.

Jangan sampai mengorbankan waktu atau hak anak atau jam istirahat sama sekali, karena bakal jadi bumerang. Pekerjaan gagal, anak dan rumah terbengkalai. Naudzubillah min dzalik.

Lagi Deadline, Rencanakan Plan A dan B

Kadang kala, situasi tidak bisa ditebak. Di saat yang sama, bisa saja anak rewel dan pekerjaan butuh diselesaikan. Maka, jauh dari harus persiapkan strategi. Agar keduanya tetap berjalan.

Mungkin, dibantu pasangan atau saudara menjaga anak. Mungkin membiarkan anak tidur sedikit lebih larut. Intinya, siapkan solusi dari kemungkinan terjadi yang tidak diinginkan.

Berserah Diri atau Lapang Dada

Bekerja dari rumah terkadang bisa terasa begitu overwhelmed atau berat bertumpuk. Maka itu jangan lupa minta kepada-Nya agar semua urusan dilancarkan. Karena tak ada yang bisa membuka atau menutup jalan tanpa izin-Nya.

Rajin Networking Di Dunia Maya

Ketika kerja di rumah, secara fisik kita cuma bergaul dengan orang rumah dan tetangga. Dengan lingkup sosial yang mungkin tidak sebesar kerja kantoran, maka sebaiknya kita tidak menutup diri dalam berteman di dunia maya.

Carilah network yang sekiranya satu niche atau bidangnya dan tentunya yang sewajarnya (ngga over juga). Bergabunglah dengan komunitas satu hobby atau satu minat.

Hal ini bisa membuka peluang-peluang baru dan bisa menepis kejenuhan di rumah.

Ibu Bekerja Dari Rumah Menurut Islam

Selama ini ada persepsi bahwa Ibu bekerja tidak diperbolehkan dalam Islam. Sebenarnya bukan tidak boleh, namun ditakutkan akan membebani IRT, yang tanpa bekerja diluar kerjaan rumah saja sudah bisa overload.

Beberapa ayat di Al Qur’an yang menyebutkan ini:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Para lelaki (suami) itu pemimpin bagi para wanita (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (yang lelaki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (yang lelaki) telah memberikan nafkah dari harta mereka” (QS. An-Nisa: 34).

Begitu pula firman-Nya:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

Hendaklah kalian (para istri) tetap di rumah kalian” (QS. Al-Ahzab:33).

Ahli Tafsir ternama Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan perkataannya: “Maksudnya, hendaklah kalian (para istri) menetapi rumah kalian, dan janganlah keluar kecuali ada kebutuhan. Termasuk diantara kebutuhan yang syar’i adalah keluar rumah untuk shalat di masjid dengan memenuhi syarat-syaratnya” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/409).

Menurut referensi lain yang saya dapat, Ibu boleh bekerja dengan izin suami. Lalu, meski mengambil pekerjaan, ambil pekerjaan yang sesuai hobby agar tidak terasa berat.

Penutup

Nah, begitulah pandangan saya tentang seni bekerja untuk IRT. Saya menyebutnya ‘seni’ karena harus ada balance yang dikuasai. Selama 7 tahun bekerja di rumah secara online, saya rasa cukup cocok dengan karakter saya juga yang doyan ngadem di rumah.

Bagaimana pendapatmu? Share yuk.

sunglow mama signature

Referensi:

Sunglow Mama

Seorang Ibu Rumah Tangga yang suka blogging dan berbagi tentang sisi kreatifnya. E-mail saya ke missdeenar@gmail.com untuk kerjasama

This Post Has 14 Comments

  1. ainun

    belum pernah coba kerja dari rumah atau lepas dari kerjaan yang lagi digeluti
    tapi sejak pandemi, beberapa bulan hanya merasakan WFH saja dan itupun remote komputer kantor dari rumah, sibuknya sama apalagi kalau lagi tanggal tanggal deadline
    awalnya agak berat ya mbak buat mutusin keluar dari zona nyaman, aku waktu itu sempat merasakan hal yang sama juga

  2. maya rumi

    aku dari dulu belum kebayang sih mba kerja dari rumah tapi semenjak pandemi harus wfh jadi tahu rasanya kerja dari rumah dengan anak-anak berat sekali… dan sungguh salut dengan mba nih yang mampu memanage dengan baik antara urusan kerja dan urusan rumtang.
    aku setuju sama tips-tipsnya mba, apalagi buat aku yang gak sanggup kalau dirumah tanpa art, karena meladeni 2 anak dan kerjaan aja kadang kala bikin emosi juga.

  3. Linimasaade

    Suka banget sama ceritanya mbak. Hidup adalah pilihan ya mbak. Poin penting yang saya bold adalah mengetahui fitrah sebagai seorang perempuan dan menjadi ibu. Jadi semangat saya kerja dari rumah meskipun belum memasuki rumah tangga hihi.

  4. Yuni Bint Saniro

    Saya mah baru tahun lalu dirumahkan dari perusahaan karena ulah pandemi. Dan sampai sekarang akhirnya aku memilih bekerja dari rumah. Meski hasilnya tidaklah bisa dibandingkan dengan saat bekerja pada perusahaan. Tapi nggak papa. Hitung-hitung belajar jadi istri yang baik saat menikah besok. Hehehe

    Tapi benar sih. Kalau bekerja di rumah tu kita sulit membedakan waktu luang. Semua berasa bisa jadi jam kerja. Lebih susah lagi kalau jenuh melanda. Hehehehe

  5. Andayani Rhani

    Keren banget mba ternyata sudah selama 7 tahun ya bekerja dari Rumah. Sejauh ini, hal yang paling membuat saya iri dan merasa insecure adalah ibu-ibu yang bisa berkarya sekaligus pintar dalam manajemen waktu untuk keluarga dan dirinya. Berasa saludd banget gitu, saya yang masih kuliah saja rasanya ngos-ngosan hidup. Karena harus pinter” ngatur waktu kuliah, kerja, dan organisasi padahal hidup ya masih tentang saya sendiri, belum ada anak apalagi suami. Talking about pandemi, saya juga kadang merasa terbantu dengan adanya pandemi ini karena hidup jadi lebih fleksibel but suatu titik pasti juga akan kerasa jenuh sekali. tips ini sangat bermanfaat banget bagi saya, salah satu yang sudah saya terapkan adalah membuat to do list setiap harinya agar hidup lebih terarah dan meminimalisir wastime. Anyway cita-cita saya juga ke depannya bisa berkarya dari rumah meskipun sudah jadi ibu rumah tangga, doakan semoga semesta mendukung ya mbak hehe, thanks for sharing ^^

  6. lendyagassi

    Senang sekali yaa…bisa tetasp produktif walau di rumah.
    Aku selalu bahagia dengan pekerjaan dari rumah begini…dan gak nyangka suami juga bangga ((ternyata)). Karena aku pernah nge-gap in dia ngobrol sama orang lain kalau ditanya “Istrinya kerja apa?”
    Dia bangga banget bilang,”Istri saya penulis.”
    Uuuh….

    Melihat penjelasan kak Andina, aku semakin terharu…
    Barakallahu fiik~
    Semoga Allah mudahkan dan lancarkan selalu segala urusan kita.

  7. Antung apriana

    Kalau saya belum ada rencana sih buat bekerja di rumah karena memang sudah cukup nyaman dengan kerjaan yang sekarang dan kondisi keuangan keluarga juga membuat saya harus tetap bekerja. Tapi memang sekarang lebih enak ya karena banyak pekerjaan yang bisa dihandle dari rumah jadi para ibu nggak perlu bingung lagi

  8. Eri Udiyawati

    Wah, selamat, Mbak. Udah bisa kerja dari rumah. Saya tahun kemarin merasakan WFH, dan pekerjaan ambyaaarr. Wkwwkkwkw. Semuanya gagal total, pekerjaan rumah ya numpuk, pekerjaan kantor ya oleng.

    Kerja di rumah jenuhnya memang lebih terasa, ya. Tapi semangat ya, Mbak. Keluar dari zona nyaman emang rada susah, ya. Saya juga belum berani resign dari kantor. Masih nyaman.

  9. @mirasahid

    Setelah melewati perjalanan kerja kantoran, resign, kerja lagi, resign lagi, kurasa-rasa, bekerja dari rumah atau tanpa ikatan waktu itu “gue banget”, karena buatku bekerja dengan nyaman adalah prioritas yang bisa memengaruhi produktivitas. Jadi, buat para freealncer yang bekerja dari rumah atau di manapun, tetap semangat yaa 🙂

  10. Rinda Gusvita

    Satu lagi Mbak nilai plusnya kerja dari rumah. Kalau di aku jadi hemat baju. Nggak perlu setrika amat. Pakai baju juga yang itu-itu Aja. Meski pun Penting untuk dress up kayak Kita kerja do kantor tapi tetap nggak seboros itu

  11. Selama pandemi ini saya terpaksa WFH, nggak terasa udah 2 tahun. Awalnya dulu kayak aneh, harus menyesuaikan diri dengan situasi di rumah mulai dari istri minta tolong bantu ini itu sampai harus dampingi anak sekolah di rumah. Tapi lama kelamaan jadi semakin enjoy karena saya bisa mengerjakan semua tanggung jawab saya dengan lebih mudah ketika di rumah.

Leave a Reply to ainun Cancel reply