Pentingnya Journaling dan Menulis Tangan

menulis jurnal harian.jpg
photo by sunglow mama blog

Pernahkah dirimu menulis jurnal? Atau, menulis buku diary? Minimal ketika kamu masih kecil?

Saya ingat, waktu kecil punya buku diary berukuran A5 berkertas pink dan berbau harum, alias memakai scented paper. Saya juga punya buku diary lain dimana saya menulis kegiatan sehari-hari, perasaan saya hingga kesenangan saya. Saya bahkan masih suka journaling sampai masa kuliah.

Kini sudah masa digital, menulis tangan lebih jarang dilakukan karena dianggap tidak praktis dan memakan waktu. Padahal, menulis tangan memiliki keuntungan dan manfaatnya sendiri, lho.

Pengalaman dan Memori Berharga Menulis Tangan

Handwriting atau menulis tangan itu sesuatu yang relatif jarang saya lakukan sekarang. Karena kalau saya menulis di buku, si kecil biasanya minta gambar ini-itu dan waktu journaling buyar. Minimal saya menulis ketika mencatat materi kalau ikut webinar, atau menulis alamat paket untuk dikirimkan.

Tapi tulisan tangan saya dianggap bagus, hingga suka diminta menulis untuk kartu ucapan atau alamat untuk ditempel di paket. Pernah juga suatu ketika, saya diminta menulis untuk papan nisan(!).

Oh ya, saya juga sempat mendapat kelas tipografi waktu kuliah. Tak disangka, saya menikmati kelas itu di saat teman-teman sulit mengeluh susah membuat tugasnya. Nilai saya di mata kuliah dengan bobot 3 SKS itu adalah A, lho (nggak nyangka juga).

Yang menarik lagi dari menulis tangan, adalah setiap orang punya karakter tulisan tangan berbeda-beda. Bahkan, dari tulisan tangan bisa ketahuan sifat dan emosi kita. Wow.

Manfaat Menulis Tangan

Jangan dulu berpikir ‘tulisan tanganku jelek, nggak usahlah repot menulis tangan’. Juga jangan buru-buru menganggap menulis tangan itu ribet. Ternyata ada keuntungannya menulis dengan tangan dibanding mengetik.

Ada penelitian yang membahas fenomena ini:

...Mereka yang menulis tangan punya memori pengingat yang lebih baik ketimbang mereka yang menulis menggunakan kibor. Lebih lanjut, kelebihan menulis tangan yang lain yaitu membantu seseorang memahami suatu hal lebih efektif .

literasinusantara.com

Mungkin itu sebabnya waktu sekolah kita diharuskan mencatat tulisan pelajaran dari papan tulis. Ternyata handwriting bermanfaat untuk mempelajari sesuatu.

Manfaat Menulis Jurnal Pribadi

Ada kabar baik untuk Sunglow Reader yang suka menulis jurnal, khususnya menulis jurnal harian. Dari sisi kesehatan khususnya. Ini manfaat lain dari menulis di buku jurnal:

  • Ada catatan mengenai kegiatan sehari-hari atau suatu periode waktu
  • Memiliki pengaruh positif ke emosional kita, diantaranya karena kita melampiaskan perasaan dan membuat kita mengatur emosi selagi menulis
  • Mengurangi stress, karena dengan menulis kita jadi bisa mengukur dan melihat sumber stress

Waktu kuliah saya pernah membuat jurnal syukur dan menuliskan keluh kesah, lalu disampingnya menuliskan hal yang harus dirubah atau solusinya. Ini cerita nyata, rasanya pikiran lebih terbuka dan aura negatif memudar.

Tips Memilih Jurnal Yang Pas

Jika kamu ingin menulis di jurnal, pilihlah jenis buku jurnal yang oke. Sebaiknya, pilihlah buku jurnal yang seperti dianjurkan ini:

  • Sesuai kepribadian. Kepribadian dan karaktermu seperti apa? Kalau buku jurnal yang ada tidak sesuai kepribadianmu, bisa jadi mood menulis hilang. Ada juga ya, jurnal yang bisa di-custom dengan nama, kertas dan cover. Semua tentu berpulang ke diri kita masing-masing, lebih suka seperti apa.
  • Nyaman untuk dituliskan. Diantaranya kenyamanan tergantung ukuran buku jurnal dan jenis kertas. Pilihlah ukuran buku yang sesuai dengan tempat menulis dan ukuran tanganmu. Jangan sampai media menulis kekecilan. Jenis kertas juga menentukan.
  • Mudah disimpan atau dibawa. Biasanya buku jurnal berisi catatan pikiran, khususnya buku diary yang bukan untuk konsumsi publik. Jika kita tipe yang mobile alias memiliki aktivitas di luar rumah yang sering, maka sebaiknya memilih buku jurnal yang mudah dibawa.

Handmade Journal Hibrkraft

Awal tahun ini, saya mengenal produk buku jurnal yang menurut saya jarang ditemukan di era mass produce ini. Produk jurnal ini handmade cocok dengan definisi buku diary aesthetic yang menarik perhatian saya. Kalau melihat produk Hibrkraft, saya jadi terbayang traveler atau turis backpacker yang menjelajah ke tempat baru membawa buku jurnal kulit mereka, mencatat setiap memori berharga di perjalanan (hmmm, imajinatif banget ya).

Kenapa juga suka produk handmade? Bagi yang pernah belajar sedikit tentang dunia seni, handmade itu tidak mudah dibuatnya. Plus, tidak semua orang, eh, tangan bisa buat ya. Jadi one of a kind dalam setiap craftmanship. Jadi dimasa semua diproduksi massal dan era copy-paste itu biasa, tentu produk handmade jadi terasa spesial.

Tentang Hibrkraft

Sejak 2013, Hibrkraft, UMKM yang memproduksi jurnal atau agenda kulit, juga paket branding dan merchandise, membagi 2 jenis produknya: personal dan institusi. Alasannya karena keduanya bisa berjalan secara simultan.

Hibrkraft yang bermarkas di Bogor ini bahkan tak hanya mengirim produknya ke seluruh Indonesia, tapi juga ke Jerman, Belanda, Kanada, Australia, dan Uni Emirat Arab. Produk-produknya dibuat handmade dan secara seksama, melakukan improvement secara berkala, dan kerennya lagi juga bermanfaat tak cuma untuk pelanggan tapi juga masyarakat sekitar.

Maklum, awalnya Hibrkraft memproduksi produk handcrafting yang bervariasi, bahannya dari mendaur ulang kertas dan majalah bekas. Yang awalnya dijual dari kenalan dan lingkup pergaulan owner-nya, lalu meluas ke kampus dan sekolah-sekolah. Yang tadinya bernama Hibrcraft menjadi Hibrkraft.

buku catatan custom.jpg
Trevi Journal dari Hibrkraft (kiri saat ditutup-kanan saat strap dibuka)

Kini puluhan ribu produk Hibrkraft telah diproduksi demi mengembalikan kecintaan ke journaling. Walau mengalami pasang surut, tapi Hibrkraft terus menjalankan misi agar kita kembali cinta tulis-menulis. So sweet, ya?

Produk Hibrkraft sudah lebih bervariasi untuk one branding service: konsultasi branding, pembuatan merchandise dan suvenir (pouch, totebag, buku catatan, pulpen, box exclusive, dan lainnya). Uniknya, ada juga servis reparasi dan repurpose buku. Rasanya saya baru dengar ada servis repurpose buku, suka deh.

Travel Journal Trevi

Diantara semua produk jurnal Hibrkraft, salah satu yang saya suka itu produk Travel Journal Trevi. Alasannya, karena dasarnya saya ini orangnya suka yang klasik dan simpel. Model jurnal bercover kulit dengan strap terasa praktis, timeless dan sederhana. Dan yang saya suka sekali, dia refillable alias bisa diisi lagi. Waah, bisa dipakai terus sampai diturunkan ke anakku kayaknya bisa nih. Bagai buku diary kunci tapi lebih basic.

Masih banyak kok jenis produk jurnal Hibrkraft lain yang mungkin lebih sesuai karaktermu. Segala info yang mungkin dibutuhkan ada di website Hibrkraft.

Kesimpulan

Walaupun menulis tangan terkesan jadul dan ‘ditinggalkan’ di masa digital ini, melakukan handwriting memiliki keuntungan tersendiri seperti lebih mudah memahami sesuatu. Lalu, menulis jurnal adalah suatu bentuk usaha melepas stress dan baik untuk kesehatan mental.

Kita bisa memilih buku jurnal yang pas untuk kepribadian kita, seperti Hibrkraft, UMKM yang visinya mengembalikan kecintaan pada tulis-menulis. Mau coba efek positif journaling? Yuk dicoba.

sunglow mama signature

Referensi:

https://literasinusantara.com/kelebihan-menulis-tangan-dibanding-mengetik/

https://hellosehat.com/mental/stres/manfaat-menulis-jurnal-mental/

Sunglow Mama

Seorang Ibu Rumah Tangga yang suka blogging dan berbagi tentang sisi kreatifnya. E-mail saya ke missdeenar@gmail.com untuk kerjasama

This Post Has 32 Comments

  1. nurulrahma

    Wah, jadi keinget kalo aku nih jaraaaanggg banget nulis tangan.
    apa2 selalu pake gadget
    baiklah, sekarang mau berusaha rajin nulis tangan!

  2. ainun

    aku suka nulis, dari SD nulisnya di surat untuk sahabat pena, waktu SMP iseng nulis di buku diary soal cerita cinta monyet-monyetan, ehh dibaca bapak, maluuu, terus absen nulis di diary akhirnya
    sekarang nulisnya via online.
    suka sama model model notes yang vintage seperti itu mbak, terlihat unik

  3. Fanny_dcatqueen

    Eh beneeer loh mba, menulis itu mempermudah untuk mengingat sesuatu. Dulu aku sering mencatat secara cepet apa yg diajarin guru, pas belajar itu JD LBH gampang utk diinget.

    Dr zaman sekolah Ampe skr, aku msh menulis di jurnal mba :). Malah ada 3.

    Jurnal 1 aku pake utk nulis agenda sehari2. JD biasanya setahun sekali pasti aku ganti

    Jurnal 2 utk mencatat pengalaman traveling ATO kuliner. Aku catat poin2 pentingnya aja. Dan ntr aku pindahin ke blog

    Jurnal 3, itu aku tinggal di rumah biasanya, Krn isinya pasword2 perbankan, PIN ATM semuanya :D, pasword email dan pembaharuan pasword dan pin aku tulis di situ. Maklum mba, aku pelupa. Aku takut kalo tulis dibgadget, ntr dihack :p. JD nulisnya di jurnal. Makanya buatku jurnal itu penting banget.

    Baguus nih jurnal hibrkraft. Aku udh sempet teratrik, tp waktu itu aku udh telanjur beli jurnal untuk THN ini. Ntr THN depan mau coba jurnal dr mereka 🙂

  4. Sarieffe

    Aku termasuk yang masih suka nyimpan catatan di buku mba, baik itu tentang curhatan, target dan impian maupun sekedar healing. Hibrkraft ini covernya kece banget ya mbak, dari kulit sehingga terkesan unik

  5. Okti Li

    Saya pun suka menulis dan mempertahankannya meski tulisan tangan saya seperti bekas cakaran ayam

  6. Saya sampai sekarang masih nulis diary Mbak, hehe. Selain menyimpan memori, nulis diary juga healing buat saya. Ada yang enggak bisa digantikan dengan digital sih menurut saya, perasaan puas waktu menggerakan pulpen di atas kertas. 🙂

  7. Marita Ningtyas

    Aku sedang belajar untuk rajin menulis tangan lagi nih mbak. Berhubung kalau nulis panjang jadi malah capek sendiri, aku lagi latihan nulis yang pendek-pendek semacam kata=kata motivasi gitu. Pakai jurnal dari Hiberkraft juga lo 🙂 Tapi aku pilih yang tenun, soalnya udah punya jurnal berbahan kulit dari merk lain.

  8. Rindang Yuliani

    Nulis tangan memang bikin healing. Aku nggak rutin nulis sih tapi aku punya jornal yang akan kubuka dan kuisi ketika pikiran di kepala sedang bertumpuk. Saat menuliskannya, eh aku heran sendiri. Ternyata jumlahnya tidak sebanyak itu, aku bahkan kadang bingung harus menuliskan apalagi padahal sebelumnya merasa otak isinya penuh banget.

  9. Irene

    Aku juga dulu punya diary Teh. berbuku-buku, hihihi.. pernah ketemu di gramedia yang berseri lagi jadi di sampul sampingnya ada tulisan 1, 2, 3. Ngomong-ngomong baru-baru ini baca biografinya Ratu Victoria dan jadi tahu kalau dia nulis diary setiap hari selama 69 tahun, seharinya kira-kira 2000 kata! dan pakai tulisan tangan. Belakangan karena liat anak-anakku belajar menulis di SD dan harus huruf sambung, plus terinspirasi Queen Victoria aku jadi suka nulis pakai huruf sambung lagi 🙂

  10. Irene Cynthia

    Samaan teh, Aku juga dulu punya diary, berbuku-buku, hihihi.. pernah ketemu di gramedia yang berseri lagi jadi di sampul sampingnya ada tulisan 1, 2, 3. Ngomong-ngomong baru-baru ini baca biografinya Ratu Victoria dan jadi tahu kalau dia nulis diary setiap hari selama 69 tahun, seharinya kira-kira 2000 kata! dan pakai tulisan tangan. Belakangan karena liat anak-anakku belajar menulis di SD dan harus huruf sambung, plus terinspirasi Queen Victoria aku jadi suka nulis pakai huruf sambung lagi 🙂

  11. Dian

    Iya menulis jurnal tiap hari itu banyak manfaatnya ya mbak
    apalagi klo jurnalnya kece seperti hiberkraft ini
    pasti semangat jurnaling tiap hari

  12. Uniek Kaswarganti

    Kayaknya aku harus mulai nglemesin jari juga nih, menulis dengan tangan lagi, enggak sekadar ketak-ketik di kibor. Makin kagok nih soalnya kalau nulis karena sudah bertahun-tahun jarang melakukannya lagi.

  13. lendyagasshi

    Masih…
    Aku sampai sekarang masih koleksi diary loo… Beli di beberapa tempat dan aku tulis-tulisin mengenai pengalaman hari itu. Rasanya seru sekali ketika aku buka beberapa tahun kemudian. Kaya time-capsule…

    1. Siti Nurjanah

      Produk Hibrcraft terlihat Classic
      Bicara soal menulis tangan, saya sempat menikmati masa2 itu. Lebih suka mengungkapkan segala sesuatunya lewat tulisan tangan, namun seiring waktu memang mulai berkurang intensitas nya

  14. Nani Herawati

    Sampai sekarang saya masih suka tulis tangan. Perlu intip produknya nih.. harus punya

  15. Atin Nuratikah

    Sampe sekarang aku masih suka nulis dibuku kayak gini, ntalhlah kayak udah jadi bagian dari hidup.

  16. Bayu Fitri

    Menulis dengan tangan dapat terlihat karakter dan kepribadian seseorang terlebih jika dikaitkan dengan ilmu graphology

  17. Risna

    Aku nulis pake tangan hasilnya pegel hehe, kecepatan nulis ga secepat pikiran. Tapi aku masih punya jurnal yang diisi tulis tangan sih. Ngisinya ya sesekali seingatnya, hehehe

  18. Marati

    Samaan mba, dari kecil udah suka menulis tangan tentang segala macam di diary scented paper hehe. Journaling malah baru suka pas jaman hamil, bikin habit tracker, nutrition tracker, dll. Ikutan gaya journaling nya Dinda Puspitasari waktu itu. Setelah melahirkan bubar jalan hehe. Buat survive ngeblog malah kudu bikin notes di hp curi-curi waktu sambil menyusui.

    Tapi aku masih lebih suka menulis tangan buat mencatat materi kajian, lebih nempel dan berasa aja berkahnya hehe. Dan tentunya aku lebih suka pakai jurnal jadi lebih happy dipakai nulis. Jurnal terbaru aku dari The Press Journal. Waktu itu beli sebelum hamil dan baru kepakai lagi setahunan ini setelah selesai menyusui. Habis baca ini jadi tertarik dengan Hiberkraft, secara dia bisa diisi ulang. Thank you udah share jurnal yang rekomen yah mba. Happy journaling 🙂

  19. Laksita

    Wah, aku juga termasuk yang suka nulis tangan karena kalau enggak ditulis cepet lupa. Walaupun sekarang mulai hybrid nyatet pake Keep Notes juga sih biar cepet. Journalling jadi salah satu kegiatan me time hehe. Eh tapi aku baru tahu ternyata emang terbukti lebih mudah ingat ya kalau ditulis tangan, kirain masalah preferensi dan kebiasaan aja.

    Jadi penasaran sama Hibrkraft euy, bagus bgt brandnya punya jasa reparasi dan repurpose, mengamalkan prinsip circular economy hehe. Nanti aku cek ah, thanks for sharing, Teh Andin.

  20. DailyRella

    Belakangan tulisan tanganku jadi jelek banget karena udah kebiasaan ngetik 10 jari, huhu. Bahkan tanda tangan aja suka lupa lagi. Sedih juga sih…

  21. elin wiji

    Aku udah pernah juga mba nulis jurnal digital, banyak fitur2 dan sticker2 lucunya sih tapiiii.. ternyata ngga dapet aja gitu feelnya. kayanya emang menulis tangan masih jadi pilihan terbaik, apalagi kl jurnalnya secakep ini

  22. Cory Pramesti

    Sejak smp aku bikin buku diary karena dulu doyan banget bikin ceper yang pada awalnya kepaksa karena tugas bahasa indonesia yg keseringan. Sampai SMA pun masih sering nulis si buku diary entah curhat ataupun bikin cerpen lagi. Dan ya, sampai sekarang kisah2nya masih menjadi kenangan. Aniwei. Produk hebrikraft bagus2 banget ya. Estetik gt. Cocok nih buat journaling kekinian yg bisa dislempitin di tas buat dibawa kemana2. Jd menulis dengan tangan tetep terlatih terus ya. Ehe. Kenangan banget loh kalo nulisnya pake tangan.

  23. Siti Nurjanah

    Produk Hibrcraft terlihat Classic
    Bicara soal menulis tangan, saya sempat menikmati masa2 itu. Lebih suka mengungkapkan segala sesuatunya lewat tulisan tangan, namun seiring waktu memang mulai berkurang intensitas nya

  24. Firmansyah

    Saya termasuk yang hobi menulis pakai tangan dari SD nih, Mbak. Karena lumayan banyak yang bilang tulisan saya bagus, alhasil akhirnya waktu sekolah SD sampai SMA sering banget jadi langganan diminta guru untuk gantiin nulis materi di papan tulis. Dan saya seneng-seneng aja ngelakuinnya waktu itu. 😀

    Thanks buat tulisan ini, Mbak. Saya jadi dapat pencerahan juga. 🙂

  25. Hastin Pratiwi

    Bener banget, Mbak, aku pernah belajar ilmu handwriting analysis. Menulis tangan bisa jadi terapi untuk siapa pun karena penyaluran emosi menjadi terarah.
    Daripada curhat di medsos dan dibaca banyak orang kan malu + tambah pening karena banyak yg komen hahahaaa…
    Btw, jadi penasaran sama produk Hibrkraft ini. Keren pastinya karena produknya sampai diekspor ke negara2 maju.

  26. Asty Intan Pratiwi

    Waktu SMP, aku pernah pacaran sama anak sekelas. Lucunya, kita punya satu binder yang kita tulis bareng gitu dan ganti-gantian dibawa pulang. Kita tulis kalau lg marah/berantem, sedih, ngerayu, lucu bgt pokoknya. Semua kenangan ada di situ :”) abis dari situ aku jd suka Journaling. Sampai akhirnya pas kuliah sibuk bgt jadi udah gak pernah lg nulis di journal. Apalagi pas udah kerja dan gak pernah tulis tangan sampai skrg rasanya males bgt. Udah kebiasa ngetik kali ya, jd cepet capek kalo nulis tangan dan gak sabaran. Tulisan jd jelek deh

  27. Hamimeha

    Aku aku aku, masih suka nulis tangan dan coret2 di agenda mbak. Buat jadwal pr2 atau resume setelah ikut kegiatan gtu.

    Wah gak nyangka ternyata manfaatnya lumayan juga ya.

    Tapi bener juga, aku ma suami dua orang dg kepribadian dan kebiasaan berbeda. Aku suka nulis tangan dia suka main keyboard. Iya sih bicaravingatan aku jauh lebih jago.
    Bukan karena aku cewek hehehe

  28. Ning!

    Wah sama banget Mbak. Setiap aku nulis di buku anakku pasti minta digambarin. Haha

    Kalau gak bukunya diminta plus pulpennya trus dia coret-coret sendiri. Jadi aku sekarang lebih ke note digital yang gak direcoki anak. Padahal banyak banget ya manfaat hand writing.

  29. Anak Kereta

    Bener banget. Biasanya yang ditulis tangan itu jauh lebih diingat daripada yang ditulis di gadget (laptop atau hape). Makanya sekarang aku selalu sedia buku jurnal sama pulpen karena walaupun kerjanya pakai laptop, tetep tulis catatan penting di buku jurnal.

  30. Antung apriana

    Aku dulu juga rajin nulis di diary. Tapi kemudian nggak nulis lagi hingga akhirnya tulisan jadi jelek banget karena jarang nulis. Kalau sekarang nulisnya lebih ke agenda harian dan list job yang aku dapat. Hihi

  31. Prima

    Kalau yang rajin mencatat di waktu sekolah itu bukan karena si gurunya lagi ga mood ngajar ya wkwkwkwk.

    Ya memang pernah denger sih beberapa manfaat journaling & handwriting, beberapa kali mau mulai ngejurnal, cuma ga bisa bertahan lama. Seminggu aja nggak nyampe. Feeling awkward sih ketika nulis dear diary hehehe.

Leave a Reply to Prima Cancel reply