Membahas Suka Duka Jadi Bloger

monetisasi blog tanpa adsense.jpg

Sedikit telat ya tulisan ini, karena harusnya ditulis di hari besarnya, Tanggal 27 Oktober lalu adalah hari Blogger Nasional. Di hari spesial itu tahun ini, saya juga tengah mengurus komunitas hingga hari ini. Lantas, di hari itu, saya menanyakan pada mereka, apa yang mereka senangi jadi blogger? Akhirnya, saya menulis di website komunitas tentang versi saya sendiri.

Di blog ini? Nulis apa ya? Curhat sedikit aja deh.

Saya memilih blog dimonetisasi karena memang ada ‘kebutuhan’. Kebutuhan pertama karena saya senang menulis. Kebutuhan kedua karena saya sambil cari pemasukan tambahan. Yang saya tidak sangka, selama 2 minggu terakhir, saya tidak memikirkan ‘pemasukan’ dan ini malah justru bikin malas menulis. Inilah yang buat agak ‘wow’. Karena menulis butuh niat dan kesungguhan. Saya harus dipaksa untuk duduk dan menulis, melalui ‘kebutuhan’.

Agak malu juga. Walau sebenarnya, diluar rasa malas yang mungkin dipicu dari burn out dan memang sedang riweh, plus butuh liburan jadi pemicu juga. At the same time, ter-amazed karena hingga kini sampai bisa menginisiasi sub komunitas dan mengajak ibu-ibu alumni lain menulis. Tapi begitulah mungkin jalannya.

Melalui tulisan ini saya coba menulis suka duka jadi bloger selama kurang lebih 2 tahun, (plus 5 tahun di blog lama). Apa hal-hal yang disuka jadi blogger dan apa yang menjadi kekurangannya blogger? Biar nggak mellow, saya bahas kekurangannya dulu ya. Yuk baca di bawah ini:

Duka Jadi Blogger

Menjadi Blog Yang Qualified Butuh Waktu dan Proses

Blog yang berkualitas, maksudnya minimal berisi tulisan-tulisan yang mendalam, bermanfaat dan populer, membutuhkan proses yang panjang. Pertama, asalnya dari diri kita sendiri. Yakni, seniat apa kita jadi blogger? Sebanyak apa investasi energi dan waktu yang kita kerahkan demi blog?

Ada blogger yang riset mendalam sebelum menulis, ada yang butuh proses kurasi demi menelurkan topik tulisan. Itu semua sebanding dengan kerja keras dan kesungguhan, insya Allah.

Belum lagi membahas masalah teknis, seperti PA dan DA, kesehatan blog, kepopulerannya dan sebagainya. Lagi-lagi berpulang ke si blogger, maunya mencapai sampai mana.

Tak Banyak Orang Yang Care Dengan Tulisan Kita, Kecuali…

Banyak dari blogger menulis untuk berbagi dan menebar manfaat. Tapi sesungguhnya tak banyak orang yang peduli dengan yang kita tulis, kecuali ada faktor ‘terhubung’ atau kepentingan. Maka itu sebaiknya menulis dengan kesungguhan, karena niat ini akan terpancar dari tulisan kita dan bisa menggaet hati orang lain.

Kedua, tulislah topik yang sekiranya bermanfaat bagi orang banyak. Tulisan yang unik, yang hanya kita yang bisa tulis (dengan sudut pandang sendiri). Ini berlaku juga buat blogger yang mau ikut lomba blog, karena keunikan itulah yang juga jadi poin kemenangan.

Kompetisi Yang Tinggi

Jika membahas ranking di Google maupun mesin-mesin indeks internet lain, ada banyak sekali website lain yang ingin mendapat ranking tinggi. Meski kita bisa jadi nomor satu, sewaktu-waktu bisa tergeser oleh kompetitor. Menanggapi hal ini memang butuh ketangkasan dan kebisaan blogger sendiri.

Tak Semua Job Blog Itu ‘Sesuai’

Di blog pertama yang saya monetisasi, saya banyak sekali menolak tawaran job. Pertama karena banyak scam dan dapat merugikan blog saya. Kedua karena idealisme pada niche.

Di blog ini, saya memang lebih banyak menerima job blog karena idealisme saya tidak begitu ketat. Ada beberapa job blog yang mulus bagai naik tol sepi. Namun beberapa penyedia job kadang memberikan ketentuan yang cukup ‘njelimet‘ yang tidak sesuai dengan payment. Kalau sudah begini, kadang menulis jadi setengah hati. Setengah dari job blog yang saya terima juga pembayarannya agak lama, mungkin terpengaruh kondisi pandemi. Meskipun begitu, saya mencoba selalu profesional atas semua job yang saya terima.

Suka Jadi Blogger

Fleksibilitas Waktu

Menjadi narablog, kita dapat memilih sewaktu-waktu (diluar kalau ada job) kapan menulis dan publish. Semua disesuaikan atas kesenangan dan kelowongan waktu kita. Makanya, ada banyak sekali loh ibu-ibu rumah tangga maupun working mom yang jadi blogger. Mungkin karena faktor kesesuaian waktu ini.

Ada ibu-ibu yang senang terjadwal dan terorganisir waktunya, kapan bisa nulis dan posting. Ada ibu-ibu yang menulis kapan saja, tapi karena banyak kesibukan dan kelelahan jadi menulis sewaktu bisa saja.

Menulis Yang Disukai

Punya blog, kita diberi kebebasan menulis apa saja yang kita suka. Sesuai keinginan, mood maupun bahasan yang penting. Kitalah ‘otak’ dan ‘motor’ dari konten blog kita. Topiknya bisa beragam, sesuai juga dengan kebisaan dan kreativitas kita. Namun dengan banyak kebebasan ini, banyak juga yang suka nyerempet-nyerempet alias tidak fokus.

Hobby Jadi Pekerjaan

Karena senang menulis, jadi begitu ada job maka ibaratnya menjadi kegemaran yang menjadi pekerjaan. Apalagi topik dan tawaran menulisnya topik yang kita suka. Double boost kalau dibayar lumayan. Inilah yang dikejar banyak orang, sehingga bekerja tidak terasa bekerja. Inilah faktor yang sangat menyenangkan jadi blogger. Kadang juga blogger newbie bisa dapat job karena rejeki (kisah nyata ini, dari diri sendiri maupun orang lain).

Bisa Menjangkau Orang Lain di Belahan Dunia Lain

Poin paling indah buat saya menulis di blog adalah bisa menjangkau (hati) orang lain di belahan dunia lain. Bahkan bisa mempengaruhi mereka dari segi positif, memotivasi dan membuat mereka jadi orang yang lebih baik. Poin ini katanya poin blogger sejati (ciyeee). Semoga niat saya yang paling utama selalu ini.

Penutup

Menjadi blogger adalah pilihan. Sejauh mana seriusnya, tergantung masing-masing. Yang jelas, usaha tidak mengkhianati hasil. Jangan lupa untuk selalu memurnikan tujuan, tidak semata demi mendapatkan kepopuleran maupun pendapatan. Semoga tulisan ini bermanfaat!

Sunglow Mama

Seorang Ibu Rumah Tangga yang suka blogging dan berbagi tentang sisi kreatifnya. E-mail saya ke missdeenar@gmail.com untuk kerjasama

This Post Has 6 Comments

  1. Sri Nurilla

    Keren banget, Andina. Brati slama ini Andina sudah berpenghasilan dari menulis blog ya. Tulisan Andina memang selalu rapih, informatif, dan enak dibacanya, plus ga trlalu panjang. Baguusss. 🙂

    Dan salut dengan visi misi Andina dalam menulis: membagikan hal hal yang berkualitas, mendalam, dan bermanfaat. Aim-nya tinggi. 🙂

    Semoga makin sukses ya Andina 🙂

  2. Hastira

    iay selalu ada suak dan duka , tinggal kita pilih suaknya agar terus semangat menulis

  3. Andrew Pradana

    Pastilah setiap blogger memiliki cerita masing masing selama ngeblog. Suka ataupun duka menjadi penghias cerita selama ngeblog. Dan saya juga setuju dengan beberapa tulisan mba di atas karena saya juga mengalami hal tersebut

  4. Diah Alsa

    waah jadi penasaran nih Mbak, blog pertamanya yang mana.. saya suka blog ini yang banyak sharing DIY nya 😉
    iyah banget ya Mbak, sesungguhnya suka-duka jadi Blogger itu seimbanglah ya, happy banget kalau jobnya sesuai dengan kesukaan kita terus dibayar dengan bayaran yang setimpal bahkan jauh dari ekspektasi, duuh ngerjainnya yakin pasti sungguh-sungguh deh ya 😀

  5. Yuni BS

    Masing-masing blogger emang punya suka dan dukanya sendiri tentang menjadi seorang yang fokus pada dunia blog. Nggak selalu sama. Tapi, memang kadang nggak jauh-jauhlah dengan lainnya.

    Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Menyerah pada duka lalu berhenti. Atau menatap pada suka kemudian belajar lebih agar duka tak lagi menghampiri.

  6. Brillie

    Iya, dalam beberapa tahun ini ngeblog sudah sebagai pilihan karir. Apalagi ada niche tertentu yang bisa dipilih seperti parenting dan travelling. Untuk pemilihan job blogger ini yang dilema banyak blogger. Jika terlalu idealis karena tidak sesuai dengan niche, maka job yang diterima sedikit. Mau pakai prinsip jemput bola, nawarin ke brand untuk kerja sama malah dikira ngemis job. Dilema memang..

Leave a Reply