Pengalaman Migrasi Hosting dan Persiapannya

web hosting
Photo by Sean Lim on Unsplash

Belum genap setahun saya mulai blog Sunglow Mama, saya putuskan untuk migrasi hosting. Dengan kata lain, pindah rumah hosting.

Alasannya, karena paket hosting yang saya ambil sebelumnya kurang pas dengan kebutuhan blog dan sekalian juga mau ganti lokasi server.

Meskipun saya mulai blogging 10 tahun lalu, saya belum pernah migrasi hosting sebelumnya. Selalu setia dengan tempat hosting awal buat blog TLD dan nggak pernah ganti-ganti.

Alasannya atau mikirnya kalau pindah tempat hosting itu: pasti ribet. Atau, ada biaya lagi untuk migrasi.

Ternyata, nggak selalu seperti itu. Alhamdulillah, pengalaman migrasi hosting baru-baru ini cukup mulus.

Apa Maksudnya Migrasi Hosting

Memiliki website Top Level Domain (TLD) berarti kita memerlukan domain dan hosting. Kita butuh penyedia keduanya untuk memulai website sendiri.

Namun, kadang kala kita tidak puas atau mungkin tergiur oleh pelayanan dan harga penyedia hosting lain yang lebih baik atau lebih terjangkau, sehingga kita ingin mencoba hosting di penyedia lain. Maka itu, kita butuh pindah hosting atau disebut migrasi hosting.

Persiapan Migrasi Hosting

Karena saya memutuskan pindah hosting salah satunya karena efisiensi budget, maka saya cukup berhati-hati dalam membidik tempat hosting lain. Nggak maulah, repot-repot pindah nggak tahunya nggak pas juga. Jangan sampai nyesel, gitu.

Sempat juga saya terkecoh dan terbawa ribet karena berpikir migrasi hosting berarti juga harus transfer domain (pindah tempat penyedia domain), tapi ternyata tidak perlu.

Bisa saja sih kalau mau kita disatukan semua, tempat hosting dan penyedia domain. Tapi saya putuskan tidak perlu, karena saya masih ada dana sisa di penyedia hosting sebelumnya yang cukup untuk membayar perpanjangan domain.

Patut diperhatikan blog saya memakai WordPress dan cPanel, dan mencari lokasi server lokal saja.

Akhirnya, sebelum migrasi ini yang saya lakukan:

Riset

Cari tahu penyedia hosting yang sesuai dengan kebutuhan kita. Nggak cuma dari mesin pencari, tanyalah pada rekomendasi orang lain yang kita percaya.

Saya melakukan keduanya, membaca ulasan website tentang penyedia hosting terbaik di tahun ini dan juga bertanya ke rekan-rekan blogger lain yang sekiranya sudah punya pengalaman.

Bahkan saya sempat ragu apa website-nya bisa dipercaya, takutnya website-nya juga jualan dengan menjadi affiliate. Ternyata tidak dan akhirnya salah satu website ini membantu saya mendapatkan jawaban.

Harus aware juga ya dengan paket yang sudah ada di webhosting yang sebelumnya dipakai, jangan sampai kita downgrade juga. Minimal kebutuhan blog kita dipenuhi.

Bandingkan Harga dan Pelayanan

Setelah ketemu rekomendasi dan tempat hosting yang kita pikir sesuai, cek dan bandingkan paket-paket yang ditawarkan. Disini harus jeli, karena kadang ada yang tidak dicantumkan.

Pastikan paket yang kamu incar disk usage-nya lebih besar dari muatan disk usage sebelumnya (ada tempat hosting yang ketika ditanya requirement migrasi hosting, menyebutkan disk usage harus tersedia dua kali lipat).

Jika ada promo atau potongan harga, pikirkan juga ketika masa promo telah usai berapa biaya normal yang kita harus bayar. Saya nyaris kepincut promo satu tempat penyedia hosting karena tidak teliti dengan biaya, terselamatkan dari overbudget.

Bandingkan juga pelayanan customer service-nya. Karena saya sendiri nggak paham ya soal web developing dan sebagainya, maka saya rasa pelayanan customer service tempat hosting harus cepat tanggap. Kalau nggak, dikhawatirkan blog kita nggak keurus.

Alhamdulillah, penyedia hosting yang saya incar tidak memungut biaya migrasi hosting. Sementara beberapa penyedia hosting lain ada biayanya.

Tanya-tanya ke Customer Service Sedetilnya

Setelah mendapatkan kandidat atau pilihan tempat hosting yang sesuai, selanjutnya kita bisa mencari informasi lebih atau bertanya lebih detil tentang kebutuhan migrasi. Sekalian, tes juga customer service tempat hosting yang kita pilih ini servisnya baik atau tidak.

Pertanyaan yang bisa kita tanyakan seperti ini:

  1. Lama Migrasi Yang Dibutuhkan: Setiap tempat hosting punya lama waktu berbeda-beda untuk migrasi hosting web kita. Rata-rata sekitar seminggu paling lama, tergantung bobot web kita seberat apa.
  2. Apa Saja Yang Perlu Disiapkan: Tanyakan bagaimana tahapan migrasinya dan apa saja yang harus dipersiapkan.
  3. Detil Paket Yang Kita Pilih: Tanya lebih dalam tentang paket hosting yang kita pilih. Apa saja yang didapat dan fitur-fiturnya.
  4. Promo : Jika kamu mencari potongan harga, pastikan apakah ada promo yang tersedia. Pengalaman saya migrasi dekat tahun baru, banyak penyedia hosting yang menawarkan promo tahun baru.

Waktu Ideal Untuk Migrasi Hosting

Hal yang juga tak boleh luput diperhatikan adalah menentukan waktu yang ideal untuk migrasi hosting. Karena ketika sedang migrasi, website kita tidak bisa menyimpan perubahan dan juga tidak dapat menyimpan komentar dari pengunjung.

Maka pastikan untuk menyelesaikan job blogging jika ada, dan tidak baru-baru saja menyebar link artikel, khususnya ke acara blogwalking.

Ketika Akhirnya Migrasi Hosting

Setelah riset, bertanya-tanya bolak-balik dan nanya-nanya lagi ke grup blogger, saatnya action. Soalnya periode pemakaian hosting juga hampir habis. Saya segera membuat order paket hosting dan membayar.

Karena menurut saran customer service, setelah saya membayar paket hosting harus memberikan konfirmasi telah bayar dan membuat support ticket untuk request migrasi hosting. Segera saya lakukan. Done and done (mumpung bocah anteng di rumah).

Menurut janji customer service, waktu migrasi hosting paling lama 2 x 24 jam. Sudah tegang karena khawatir ada apa-apa.

Ternyata…. proses migrasinya cuma makan waktu 3 jam saja. Mungkin karena blog saya terbilang baru dan terbilang ringan dibilang website yang sudah berjalan bertahun-tahun.

Saya menerima pemberitahuan dari balasan support ticket bahwa migrasi telah selesai, dan saya harus mengubah nameserver di tempat penyedia hosting sebelumnya menjadi nameserver penyedia hosting baru.

Mengubahnya sendiri harus berulang-ulang karena awal diganti halaman tidak merespon (apa ngambek karena pindah hosting). Alhamdulillah, akhirnya nameserver-nya sudah bisa diganti.

Namun yang cukup buat tidur saya tidak tenang (karena saya menerima pemberitahuan migrasi berhasil tengah malam), karena tiba-tiba dapat notifikasi bahwa disk usage saya sudah kepenuhan. What?

Saya kembali bertanya lewat support ticket, ternyata menurut tim support itu karena temp files alias file sementara saja yang sudah tidak lagi ada setelah di-refresh. Benar, setelah cek cPanel, pemakaian disk usage saya sudah normal.

Alhamdulillah, kurang dari 4 jam, migrasi hosting beres. Oh iya, penyedia hosting yang saya pakai sekarang adalah Jetorbit.

Jetorbit dikatakan baru dalam dunia webhosting, tapi termasuk 10 besar penyedia hosting terbaik tahun 2021. Dalam beberapa ulasan lain, Jetorbit dikatakan mengalami penurunan dalam waktu akses, dengan kata lain melambat dari waktu ke waktu. Tapi menang dari segi keterjangkauan harga.

Penutup

Urusan migrasi hosting memang tidak bisa diremehkan. Butuh kejelian dan pengetahuan akan kebutuhan website kita yang cocok dengan yang disediakan penyedia hosting.

Ternyata setelah saya jalani, sama sekali tidak ribet, dengan catatan melakukan persiapan sebelum migrasi.

Kamu mau migrasi hosting juga? Bagaimana pendapatmu?

sunglow mama signature

Sunglow Mama

Seorang Ibu Rumah Tangga yang suka blogging dan berbagi tentang sisi kreatifnya. E-mail saya ke missdeenar@gmail.com untuk kerjasama

This Post Has 13 Comments

  1. Wow saya baru ngerti nih mbak yang namanya migrasi hosting. Waktu itu saya BW ke mbak bukan ya, terus blognya nggak bisa diakses ternyata lagi pindahan katanya.. Hehe. Semoga dengan hosting yang baru Sunglow Mama semakin glowing dan hitz ya..

  2. nurulrahma

    Ulala, jadi gini ya serba/i ke(agak)rempongan kalo migrasi hosting.
    Well noted, mba.
    Teman2 blogger pasti butuh artikel ini nih.

  3. Mugniar

    Pentingnya kita punya networking ya supaya saat riset domain dan hosting ada yang bisa diajak berdiskusi.

    Btw, blognya cantik Mbak ….

  4. Mutia Karamoy

    Saya masih pikir-pikir mau migrasi soalnya blognya sudah jelang 9 tahun dan artikelnya udah banyak banget, pastinya butuh waktu buat ngebenahinnya. Karenanya saya pikir lebih baik buat blog baru aja biar lebih simpel. Terima kasih tipsnya mbak, jadi tahu ste-step jika ingin migrasi.

  5. nursini rais

    Wah …, Kalau saya bermasah dengan prangkat perblogan, pasti bingung sendiri. Karena saya orang gaptek tulen. He he … selamat siang Mbak.

  6. Okti Li

    Alhamdulillah saya sudah betah dan selama ini ga banyak masalah. Jadi ga bakalan pindah kalau maish memungkinkan….

  7. Hehe… saya tuh sejujurnya buta banget masalah kayak gini. Harus banyak belajar nih. Selama ini saya TLD dari Blogger karena terbilang user friendly lah buat saya yang gatek ini. Tapi memang tampilan WP cantik-cantik trus lebih bisa di customize ya Mbak. Mungkin suatu hari pingin juga pindah ke wp. Hehe

  8. Dian

    wah memang klo sudah nggak nyaman migrasi jadi pilihan terbaik ya mbak
    klo aku dari dulu sampai sekarang sudah nyaman sama hosting sekarang

  9. Wiwin | pratiwanggini.net

    Bulan Mei kemarin saya ada rencana pindah hosting untuk blog baru yang sedang saya bangun, tapi ga jadi karena sayanya yang overload dengan pekerjaan sehingga enggak sempat ngurus. Andai jadi pindah mungkin juga enggak butuh waktu lama karena data belum ada, bener-bener blog masih baru. Nanti kalo sudah sela saya mo coba eksplor Jetorbit juga deh.. Makasih tips dan infonya, kakak…

  10. jihan fauziah

    Wah, begitu ya migrasi hosting itu, Saya baru paham setelah simak penjelasan jenengan. Saya tertarik juga migrasi karena kepenuhan ini hosting saya. Jadi tips yang jenengan sajikan sangat bermanfaat

  11. lendyagasshi

    Aaah…aku pengen migrasi ke WP.
    hhehehe…tergoda sama blog temen-temen yang cantik dan powerfull, termasuk blog kak Andin.

  12. Marita Ningtyas

    Aku belum begitu paham nih soal WP. Hosting blog wpku pun yang ngurusin suami. Aku cuma ngutak-atik template aja hehe. Berhubung masih baru pakai WP keknya juga belum ada rencana buat migrasi. Tapi artikel ini bakal kubookmark.. siapa tahu one day aku butuh.

  13. Sri Nurilla

    Makasiiy artikelnya ya Andina. Penjelasan Andina sangat membantu. 🙂

    Saya sedang menimbang apakah saya perlu migrasi dalam waktu dekat atau tidak. Ehehe.

Leave a Reply