Categories: Tips

‘Rambu’ Bersosialisasi Ketika di Usia 40 Tahun ke Atas

‘Rambu’ Bersosialisasi Ketika di Usia 40 Tahun ke Atas – Topik ini sebenarnya bukan topik yang nyaman saya bahas. Tapi merupakan topik one week one post yang saya ikuti. 

Di blog lain saya pernah menulis berada dalam right circle. Tapi kali ini saya mau menuliskan pertimbangan saya dalam bersosialisasi dan bergaul di usia kepala 4 ini.

Saya termasuk pribadi yang introvert. Jadi agak mudah lelah di keramaian. Saya juga lebih menghargai percakapan one on one, antar pribadi dibanding beberapa orang sekaligus. 

Di usia kepala 4 ini, dalam berteman sama sekali nggak sama ketika saya masih di kepala 2 dan kepala 3. Mungkin bisa dibilang pool pertemanan saya sangat kecil. 

Dan saya hanya ikutan beberapa grup pertemanan masa sekolah dan komunitas ngeblog ibu-ibu yang awet hingga beberapa tahun terakhir ini. Sebagai ibu bekerja dan homeschooler, ngga gampang juga sih menemukan teman yang benar-benar klik. 

Juga ada banyak ‘rambu’ dari dalam sebelum membuka diri. Belum lagi, energi kita yang terbatas membuat saya agak hati-hati.

Ini dia pertimbangan saya dalam bersosialisasi:

Table of Contents

Selektif

Melewati masa-masa dimana default saya memang kalem dan introvert, saya punya beberapa teman yang stick over the years. Alias mereka masih saya anggap dekat, walau ngga ketemu bertahun-tahun.

Ngga banyak memang. Tapi mereka memorable dan nyaman untuk dijadikan sahabat. Tapi kami juga ngga bestie banget sampai dijadwalkan ketemu tiap periode waktu.

Tapi itupun saya lebih selektif ketika ingin bertemu. Karena sayangnya, entah sense saya yang lebih tajam akan karakter manusia, membuat saya sering menjaga jarak. 

Karena kita akan jadi mirip dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Sebaiknya kita memiliki sahabat yang punya adab dan karakter yang baik, menghormati batasan dan diri kita, juga open minded

Protektif

Poin ini sejalan dengan poin di atas. Sebagai pribadi yang lebih berkembang dan insya Allah matang dari sebelumnya, value saya juga ikut tumbuh.

Saya punya toleransi yang lebih rendah dalam hal-hal yang dulu saya anggap ngga masalah. Misalnya ketika berulang kali ngga tegas dalam masalah waktu ketemuan, adab dalam janjian dan sebagainya. 

Perlakuan ‘kecil’ ini mungkin terkesan remeh. Tapi terlihat bagaimana seseorang treat kita baik atau ngga. Hanya dari masalah janjian atau memilih lokasi ketemuan.

Apalagi karena kini saya sudah berkeluarga. Jadi ngga seleluasa ketika single. Jadinya saya lebih hati-hati dalam membuka diri dan menampakkan karakter apa adanya.

Realistis

sumber foto: unsplash

Meskipun kini jauh lebih selektif dan protektif dalam membuka diri, Alhamdulillah setelah terdewasakan dalam hidup (eaaa) buat saya lebih realistis dan open minded saja. Nggak semua kelihatan seperti yang terlihat.

Begitu juga dengan berteman. Kita harus hargai privasi dan sikon orang lain. Ngga semua kita harus tahu dan ngga semua juga harus kita kepoin

Mungkin hal ini juga yang buat saya agak malas terlalu sering ketemuan dengan teman atau kenalan. Takutnya jadi bahas hal-hal yang ngga perlu dibahas.

Ada seorang teman yang saya pengen banget ajak ketemuan. Tapi kondisinya sulit karena tempat tinggal yang berjauhan. Dan kondisi teman yang harus siaga menjaga anak.

Apakah saya harus ngambek dan menganggapnya jahat, ketika saya ajak ketemuan responnya menggantung? Saya cukup ngerti aja bahwa kondisinya belum memungkinkan. Ngga perlu drama dan malah jadi marahan.

Dewasa & Woles Aja

Terkadang, berteman itu sulit karena satu dan lain hal. Salah satunya adalah sifat baper (terbawa perasaan). Saya sangat sulit berteman dengan sosok yang mudah baper. 

Namanya manusia, saya ngga selalu bisa menjaga intonasi atau gerak-gerik saya. Walau insya Allah ngga punya maksud negatif, ketika saya lengah, orang lain bisa menganggap respon saya ngga sepantasnya. 

Kemudian orang lain tersinggung dan responnya pun jadi aneh. Lalu saya yang bingung kenapa orang lain itu jadi aneh. Beberapa kali pernah seperti ini.

Meski saya berusaha bersikap yang ngga menyinggung orang lain, bagi saya penting agar orang lain juga ngga baper sama saya. Saya tuh tipe yang simpel aja dan lurus aja insya Allah. 

Mungkin itulah kenapa dalam beberapa lingkungan saya berada dalam circle yang banyak diisi lelaki (dulu). Ketika kuliah dan bekerja kantoran misalnya. Karena karakter laki-laki biasanya ngga mudah baper. 

Dan saya tipe yang plain aja jadi mungkin kala itu cocok. Saya ngga bisa banget ada di circle yang terlalu geng-gengan. Atau kurang tulus atau bahkan berazas manfaat.

Saya Pun berusaha sama, alias berusaha ngga baper. Alias wolesin ajalah. Bagi saya pikiran yang damai itu penting sekali. Jadi saya berusaha buat pikiran jernih dan ngga pakai mind trip atau kepikiran ini-itu. Ngga produktif juga hal-hal kaya gini. Apalagi kalau ketemu dengan orang-orang yang berbeda generasi seperti gen Z, ya dari core-nya saja sudah beda bukan?

****

Di usia kepala empat, bersosialisasi bukan lagi soal seberapa luas pergaulan, tapi seberapa berkualitas hubungan yang kita jaga. Menjadi lebih selektif, protektif, dan realistis bukan berarti menutup diri, melainkan bentuk penghargaan terhadap waktu, energi, dan nilai hidup yang kita miliki. 

Pada akhirnya, berteman itu tentang rasa nyaman, saling menghargai, dan menjaga kewarasan. Jadi, tak apa jika lingkar pertemanan mengecil—selama hati tetap lapang dan pikiran tetap tenang.

Yuk baca juga artikel-artikel lain di blog Mbak Ayana, Blogger Banjarmasin yang topiknya variatif. Apa rambu-rambu kamu dalam bersosialisasi?

Sunglow Mama

Seorang Ibu Rumah Tangga yang suka blogging dan berbagi tentang sisi kreatifnya. E-mail saya ke missdeenar@gmail.com untuk kerjasama

View Comments

  • Insightnya menarik. Rambu-rambunya ngena banget. Kalau untuk saya sendiri, saya ingin belajar asertif. Berani berkata tidak dan berhenti menyenangkan orang lain dengan membuat diri sendiri merana. Hahaha.

Recent Posts

Library Mini dan Rencana Ruang Personal

Rencana pindah rumah yang mendadak ternyata membawa satu harapan baru: memiliki ruang personal untuk bekerja,…

6 days ago

Lens Artist: “Framing Your Shot” Pics/Foto-foto Acak yang “Dibingkai”

Lens Artist: “Framing Your Shot” Pics/Foto-foto Acak yang “Dibingkai” - Waktu diumumkan Tantangan Blogging Mamah…

3 weeks ago

Tips Kolaborasi dengan Gen Z (Dari Sisi Pengamat)

Tips kolaborasi dengan Gen Z dari sudut pandang pengamat: memahami karakter digital, komunikasi singkat, hingga…

1 month ago

Flashback Blogging 10+ Tahun Lalu

Refleksi tentang pengalaman blogging lebih dari 10 tahun lalu: menulis demi kesenangan, promosi cukup lewat…

1 month ago

Belajar Mengelola Energi Setelah Menjadi Ibu

Dulu saya merasa harus melakukan banyak hal sekaligus. Ide datang terus, aktivitas bertambah, tapi energi…

1 month ago

Kunyit Asam Lancar Datang Bulan

Kram perut saat haid merupakan keluhan paling umum yang dirasakan wanita. Nyeri tersebut hanya ketidaknyamanan…

1 month ago

This website uses cookies.