Review Buku Digital For Good oleh Richard Culatta

review buku digital for good

Review Buku Digital For Good – Menjadi orangtua masa kini sepertinya memiliki tugas yang lebih berat. Kenapa berat? Tentu karena kita hidup di era digital. Banjirnya konten dan informasi dari internet dan kecenderungan manusia untuk tergantung kepada gadget membuat tugas orang tua menjadi ekstra keras.

Saya termasuk orangtua yang dilema ketika memberikan anak waktu layar. Bahwa otak anak akan overstimulus jika terlalu sering terpapar internet menjadi hal yang membuat kita orangtua tabu untuk memberikan anak screen time. Di sisi lain, penggunaan gadget terasa tidak bisa dilepas total sama sekali, berhubung saya juga memerlukan internet untuk bekerja, berkomunikasi dan mencari hiburan dari rumah. 

Saya ingat perkataan Dr. Aisyah Dahlan di salah satu sesi ceramahnya bahwa memang ini eranya (era digital) dan jika kita tidak mau anak menggunakan gadget kita harus sediakan aktivitas dan waktu untuknya. Ya, saya tentu menyediakan waktu untuk anak saya tapi for sure tidak bisa setiap waktu dan setiap saat. 

Kegundahan saya seperti bertemu dengan ‘pawang’nya ketika saya menemukan Buku Digital For Good : Raising Kids to Thrive in an Online World. Agak berharap punya buku impor ini sampai ada sebuah kesempatan dimana saya bisa mendapatkannya dan membacanya, Alhamdulillah. Insya Allah saya akan berbagi apa yang saya dapat dari buku ini. 

Maaf sayangnya memang buku ini belum banyak tersedia di toko buku lokal, jadi harus pesan ke luar. Tapi moga-moga ulasan buku dari saya ini bisa memberikan sedikit manfaat dan cuplikan akan isinya ya: 

Sekilas Tentang Penulis Buku Digital For Good

Buku ini ditulis oleh Richard Culatta, seorang CEO dari International Society for Technology in Education (ISTE). Beliau juga ditunjuk memimpin US Department of Education’s Office of Educational Technology oleh Presiden Barrack Obama. Dari buku ini terlihat bahwa ia terlibat dalam memecahkan masalah pendidikan yang berhubungan dengan teknologi internet di Amerika.

Namun ia juga sering mereferensikan kasus-kasus internet dimana anak-anak dan remaja terlibat dan beberapa tindakan inspiratif dari kasus-kasus tersebut. Selanjutnya baca hal-hal yang saya dapatkan dari buku ini seterusnya : 

Anggapan Salah Mengenai Screen Time dan Akibatnya ke Anak

Saya rasa kenapa buku ini dinamakan Digital For Good adalah karena ada sebuah anggapan bahwa memberikan layar ke anak merupakan sebuah hal yang tidak boleh sama sekali. Dengan kata lain bad for kids. Namun tulisan Richard Culatta di buku ini cukup ‘membuka mata’ saya bahwa tidak selalu demikian.

Bahkan penilaian bahwa anak-anak tidak akan berkembang otaknya jika terlalu lama menatap layar ternyata berdasarkan hasil analisa dari hubungan anak-anak dengan menonton televisi. Sedangkan komputer atau gadget pemakaiannya yang lebih kompleks dibandingkan TV. TV merupakan penyedia media yang cara memakainya adalah dengan menonton. Sedangkan menonton saja merupakan kegiatan yang pasif, sehingga tentu saja jika terlalu lama tidak mengaktifkan otak akan jadi jelek untuk anak yang otaknya masih berkembang.

Aktivitas menggunakan komputer dan gadget tidak selalu pasif, melainkan bisa interaktif. Hal ini membuat adanya koneksi dari pengguna dan internet.

screen time anak adalah. sumber: unsplash

Orangtua Memiliki Kendali Atas Penggunaan Screen Time ke Anak

Banyak orangtua sepertinya ‘lepas kendali’ akan penggunaan gadget pada anak. Padahal, orangtua memiliki kontrol dan sebagai pihak yang bisa mem-filter dan penjaga anak terhadap internet. 

Lebih lanjut ada di buku ini bagaimana orangtua bisa mengendalikan penggunaan layar pada anak. Tidak hanya dari membatasi durasi, tapi bagaimana agar anak mengenali pemakaian layar yang berlebihan dan bisa dengan sendirinya berhenti tanpa harus distop orangtua.

Bagaimana mengendalikan penggunaan layar tentu semua cara secara detil bisa diadaptasikan ke budaya dan peraturan keluarga masing-masing. Richard Culatta juga menerangkan peraturan penggunaan internet di rumahnya sendiri. Seperti misalnya menaruh tempat charge handphone di satu spot di bagian tengah rumah bersama-sama. Hal ini demi waktu istirahat tidak terganggu (karena tempat charge jauh dari kamar tidur) dan pertimbangan lainnya.

Fitur Digital Wellbeing juga salah satu cara agar kita dapat mengatur durasi penggunaan internet. Sudah coba?

Menyiapkan Anak Siap dan Menjadi Digital Citizen Yang Baik

Tak hanya orangtua harus menjaga anak dalam pemakaian internet, tapi orangtua sebaiknya menyiapkan anak menjadi warga netizen yang baik; dalam menghadapi berbagai karakter orang di dunia maya, belajar bertoleransi, belajar menyaring informasi sendiri dan mempercayai info dari sumber terpercaya.

Anak juga bisa ‘disiapkan’ ketika menghadapi bully di dunia maya sehingga ia tidak kaget. Tentunya sebagai orangtua kita harus menjadi safety net dan mendampinginya. Anak diharapkan juga bisa mengelola emosi dengan baik dan bijak memakai internet. Kita juga harus peka akan mental health anak setelah menggunakan internet beberapa lama. 

Penulis juga membahas jeleknya kampanye politik di masa pemilu. Penyalahgunaan internet dan jahatnya aksi pengambilan data warga demi kepentingan politik dan iklan. Bikin ngeri deh! 

Fungsi Internet Yang Positif

Penulis juga membahas bagaimana internet bisa memberikan dampak positif untuk kita. Salah satunya ketika kita berada dalam masa pandemi dan sulit untuk mendapatkan pendidikan jarak jauh, khususnya di tempat pelosok. 

Dengan adanya jaringan internet, meski bukan dalam era pandemi, murid-murid bisa ‘dipertemukan’ narasumber yang mumpuni yang berada di belahan dunia yang berbeda dari mereka. 

Saya sendiri sih merasakan di era pandemi jadi ‘menikmati’ banjirnya webinar-webinar dengan topik yang saya suka. Seperti belajar kelas fotografi dan blogging. Kamu juga merasakan ngga sih?

Dengan internet pun kita bisa membuat kampanye untuk raise awareness atau memulai aksi kepedulian, membuat website dan lainnya. Segala sesuatu yang diniatkan untuk hal yang positif.

Saya jadi ingat juga ada video viral mengenai perempuan yang memberikan kode isyarat tangan yang artinya ia mengalami KDRT di zoom call atau video call. Nah ini juga masuk positifnya internet ya. Jangankan KDRT, mengalami kekerasan verbal pun bisa dengan mudah dikabarkan via internet dengan menghubungi yang berwenang atau orang yang terpercaya. 

Filter Internet Yang Kita Pakai

Sudah umum internet dibanjiri iklan-iklan yang muncul diantara konten yang sedang kita lihat. Sebagai brand dan pemilik platform internet, yang mereka pedulikan adalah kita terus-menerus mengakses konten dan gain clicks

Kekhawatiran kita sebagai orangtua adalah bagaimana jika iklan tersebut berisi konten tak baik dan diakses anak-anak kita? Disinilah kita perlu memfilter internet. Untuk yang tidak memahami teknologi, bisa meminta bantuan dari luar. Kalau saya sih Alhamdulillah, paksu ngerti juga cara blokir iklan-iklan dari internet, hehe..

Pemerintah Harus Ikut Turun Tangan

Tak hanya dari diri kita sendiri dan komunitas, pemerintah juga sebaiknya ikut turun tangan mengatasi bahaya dari internet. Bagaimanapun, pemerintah memiliki wewenang akan arus internet yang masuk dan bisa mencegah dan menindaktegas kejahatan di internet. 

Penutup

Sejujurnya sih lebih banyak lapisan wawasan dan insight dari buku ini mengenai internet dan hal-hal yang bisa kita lakukan yang dibahas di buku ini. Bahkan di banyak bab, penulis menuliskan poin-poin yang bisa kita lakukan ke diri, anak kita dan sekitar untuk mendapatkan lingkungan digital yang lebih baik dan positif. 

Sayangnya sih penulis tidak menuliskan secara detil aksi yang bisa kita lakukan ke umur anak tertentu. Jadi lebih ke tindakan ke anak secara umum. Padahal usia anak dini tentu belum bisa mempraktekkan hal-hal yang kompleks sebagai upaya pencegahan hal-hal buruk yang terjadi akibat pemakaian dan interaksi dari internet. Mungkin memang hal ini butuh pendalaman dan analisa lebih dalam ya. 

Tapi banyak sih ilmu yang bisa kita dapat dari buku Digital For Good ini. Beberapa poin dalam buku ini membuat saya lega karena ternyata saya sudah lebih dulu menerapkannya ke anak dan budaya dalam rumah saya sendiri. 

Selanjutnya kembali ke tangan kita agar kita bisa menciptakan dunia digital yang baik dan aman untuk anak-anak kita. Bagaimana menurutmu?

(Special thanks untuk Teh May yang sudah mengirimkan buku ini 🙂

17 thoughts on “Review Buku Digital For Good oleh Richard Culatta”

  1. wah sepertinya bagus ya bukunya mba apalagi membahas soal digital terkait dengan parenting. Saya juga berpikir yang sama dengan CUlatta bawwa screen itu ga selalu buruk untuk anak-anak. Akan menjadi buruk jika berlebihan. Semisal anak menonton terus menerus sampai pada akhirnya addict, membuat prilakukanya berubah buruk. Kesehatannya terganggu, dan lainnya. Dari hal ini patut adanya kendali dari orang tua agar anak tidak kecanduan dengan gadget, artinya ya harus dibatasi. Mengatur jadwal anak kapan boleh menggunakan gadget, kapan bermain, kapan baca buku, kapan belajar, ini keahlian yang harus dikuasai orang tua. Kenapa menjadi sebuah keahlian, karena tidak semua orang tua mampu mengaturnya seperti ini. Otw jadi waiting list bacaan saya mba

    1. Ketika semuanya tidak berlebihan dan memberikan dampak yang oositif saya kira anak masih bisa diberikan screen tima, trntu saja hal ini juga disesuaikan dengan si anak sendiri ya. Salah satu seni menjadi orang tua di zaman sekarang nih..

  2. Intinya ibarat pisau, dunia digital atau internet juga memiliki dua sisi yg berbeda. Bagaimana kita menggunakannya disitulah pilihan kita. Mau dipakai menusuk orang atau untuk mengiris bawang? Mau untuk kejahatan atau untuk kebijakan. Begitu pula internet untuk anak kita ya

  3. Baru aja hari ini baca, anak-anak Amerika mulai meninggalkan smart phone. Mereka balik lagi ke HP jadul. Rupanya ada kesadaran, terlalu lama screen time/ gadgetan engga bermanfaat.
    Keren nih bukunya, sesuai dengan zamannya. Kita engga bisa berpaling sih dari digital, yg penting bijaksana berinteraksi aja.

  4. Buku yang bergizi tinggi sih ini, Mba. Dunia terus berkembang dengan teknologinya. Sebagai ortu bijak mengatur waktu screen time anak adalah pilihan tepat, ya. Bukan meniaadakan sama sekali.

  5. Dunia digital ibarat pisau bermata dua ya Kak, di sisi lain memang kita membutuhkan sedangkan di sisi lainnya memang agak menyusahkan
    Tergantung bagaimana kita memanfaatkannya ya

  6. Wah, buku yang sangat menarik. Ini pas banget untuk generasi alpha saat ini
    Yang tumbuh ditengah kemajuan internet ya mbak

  7. Bukunya bagus, jadi pingin baca juga meskipun anakku udah pada remaja semua alias sudah kuliah dan smk, sebagai referensi saja tapi memang sejak dini anak-anak harus mendapat literasi digital yang baik, melarang anak-anak menggunakan gadget bukanlah solusi karena teknologi digital akan menjadi keseharian mereka kelak, solusinya atur screen time dengan baik sesuai tahapan usia dan kenalkan pada anak cara memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang positif, tentunya di mulai dari orangtua dulu dong!

  8. ortu kudu ambil.peran banyaakkk di pola pengasuhan dan mendidik anak secara bijak.
    karena kita semua udah masuk ranah digital.
    kudu memanfaatkan secara baik dan benar

  9. Saya sendiri ada rasa kurang nyaman saat memberikan screen time pada anak, tapi kemudian menyadari kalo di jamannya Sekarang mau tak mau anak harus dikenalkan teknologi
    Ya, memang kembali lagi orang tua harus sebagai pemegang kendali

  10. Digitalisasi memang seperti pisau bermata dua. Jika tidak diambil sisi yang bermanfaat, maka sisi negatifnya yang akan menusuk kita. Di sini peran orang tua menjadi sangat penting. Terutama dalam mendampingi anak saat berinteraksi dengan dunia digital. Karena bagaimana pun juga, sekarang memang sudah eranya serba digital.

  11. Kalau menurutku pribadi sih, ada strateginya saat membiarkan anak mendapatkan screen time. Nah, hal itu bisa menjadi buruk saat anak dibiarkan screen time sendiri tanpa pengawasan atau tanpa pendampingan.

  12. Buku ini bagus buat dibaca para ortu agar bisa mengetahui sebaiknya bagaimana ketika anak berhadapan dengan internet. Gak selamanya internet tuh buruk asal digunakan bijak.

  13. Penggunaan gadget untuk anak nggak selamanya buruk ya mba. Kalau aku selalu aku dampingi dan beri batas waktu setiap harinya. Jadi balance.

  14. Sebenernya buku Digital for Good ini target pembacanya orangtua berarti yaa..
    Yang memegang kendali screentime pada anak.
    Aku setuju untuk memberikan pembatasan layar pada anak terutama bagi anak balita. Karena yang terpenting di usia tersebut adalah aktivitas bermain, pengenalan banyak hal dan bonding dengan kedua orangtuanya.

    Tapi untuk pelajar dan usia sekolah, aku rasa penting mengenalkan.
    Tahap pembiasaan ini akan membuat anak mengenal dunia maya dan beri pendekatan terbaik dari sisi positif.

  15. Bijak gadget adalah jurus agar kita bisa lebih waras hehhee.. bagaimanapun kita tak bisa menghindari anak2 untuk tidak terpapar gadget. Jadi bersikap bijak adalah pilihan untuk manajemen gadget anak

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Scroll to Top
%d bloggers like this: