Cantik dan Sarat Emosi, Review Buku Antologi Jejak Kenangan

buku antologi kumpulan kisah alumni ITB.jpg
Photo by Sunglow Mama Blog

Memulai sebuah komunitas blogging buat ibu-ibu alumni tentu bukan kejadian yang saya rencanakan. Saya spontan mengajak alumni lain dan ternyata ada ajakan agar dibuat saja Whatsapp Group-nya. 

Ternyata, sudah ada komunitas menulis sebelumnya yang bernama Mamah Gajah Bercerita. Walau sempat ada sedikit ‘kebingungan’ di grup besar, nyatanya komunitas blogging memang sedikit berbeda dengan komunitas menulis. 

Tak disangka-sangka juga saya bisa mendapatkan buku antologi keluaran Ibu-ibu MaGaTa ini yang bernama Jejak Kenangan, karena menang Tantangan Mamah Gajah Ngeblog bulan Maret yang temanya ‘Alasan Memilih Jurusan Masing-masing’. 

To be honest, saya sudah lama sekali berpikir mau membaca buku lagi. Karena dunia visual dan blogging cukup menyilaukan ‘mata’ saya, saya jadi lupa nikmatnya baca buku. Review buku perdana saya tulis disini pun karena Tantangan MGN. Akhirnya saya putuskan membaca buku ini. Toh si kecil sudah 5 tahun dan sudah mulai bisa mandiri. Mama bisa curi-curi baca di waktu senggang. 

Sinopsis Jejak Kenangan

Jejak Kenangan adalah buku antologi keluaran komunitas MaGaTa. Berisi kepingan kisah waktu berjuang masuk dan kuliah di Kampus ITB. Masing-masing dengan sudut pandang yang berbeda, jurusan kuliah dan angkatan yang beragam dari anggota MaGaTa yang menulis di antologi ini. 

Hampir di setiap cerita ada drama dan pergolakan batin setiap alumni. Ada juga kisah lucu. Banyak yang membagikan susahnya perjuangan masuk dan kuliah di ITB. Juga cerita ketemu jodoh (yang juga anak ITB), yang rata-rata karena satu Unit Kegiatan Mahasiswa atau jurusan/pernah satu SMA. Beberapa ada yang lebih aktif di kegiatan UKM atau luar kampus. 

Intinya, 43 cerita di dalamnya adalah kenangan saat di kampus. Namanya juga kenangan, ada kenangan manis, pahit, membahagiakan dan sebagainya. Bagus nggak sih bukunya?

Ulasan Jejak Kenangan

Jujur, kisah saya pribadi saja kala mau masuk kampus yang dikatakan nomor 1 di negeri, cukup menguras emosi. Mulai dari perjuangan menembus masuk, beratnya medan kuliah dan sampai mau lulus. Bayangkan, ada 43 cerita yang sefrekuensi dalam 1 buku?

Saya beruntung karena saya IRT yang banyak aktivitas dan buku ini berbentuk antologi, sehingga saya bisa baca satu per satu (kadang lebih) di waktu yang berbeda (tidak dalam satu kali baca). Karena hampir dalam setiap bab ada kisah yang sarat emosi. Yang cukup banyak adalah cerita perjuangan masuk ITB, sisanya penuh warna.

Salah satu bab/kisah yang menurut saya terlalu padat untuk dimasukkan ke dalam beberapa halaman saja, adalah kisah teh Dewi Laily Purnamasari. Ibu penuh semangat lulusan Arsitektur 1989 yang juga member Mamah Gajah Ngeblog ini mengikuti banyak sekali kegiatan diluar kampus. Ketika saya tanya apa sulit menulis hanya beberapa lembar saja untuk buku ini, ia mengaku, “Sulit banget hihihi, secara terlalu banyak momen kenangan.”

Gerbang Utama Kampus ITB jadi ilustrasi cover buku antologi Jejak Kenangan
sumber foto: http://if99.net/

“Iya banyak banget (yang ditulis). Aku sih metodenya nulis aja dulu. Sejauh yang dikenang. Terus baru baca ulang dan di-cut sana sini sampai sesuai syarat 5 halaman A4 spasi 1,5 kalau gak salah Kesulitan lain karena full text. Padahal aku senang menulis dengan banyak foto. Bener teh (terlalu banyak cerita yang mau ditulis) … kan tema besarnya jejak kenangan. Jadi ya yang dikenang itu banyak banget.”

Masuk ITB itu susah, kuliahnya berat dan lulus pun rasanya setengah mati. Begitulah adanya (sayapun mengakui, walau jurusan saya sekilas tampak menarik). 

Namun tidak semua menceritakan demikian di buku ini. Beberapa menyatakan kuliah terasa menyenangkan. Beberapa terbantu betah karena kegiatan UKM. Beberapa beruntung bertemu sahabat dan jodoh yang menemani sampai lulus, bahkan hingga masa kini tetap bersama-sama. 

Saya suka kisah teh Agitha dengan ‘8 SKS’-nya karena menceritakan suka-duka kuliah dosen killer yang perhatian tapi hikmahnya malas jadi barrier, dan kisah Theressia yang sangat bertekad masuk ITB walau Bapaknya sudah siapkan jalur lain, juga kisah sederhana Dhitta yang memceritakan KKN-nya di desa dan menginap di rumah nenek dengan cucunya.

Setiap tulisan disusun dan ditulis dengan baik dan well-crafted. Beberapa cukup pintar memilih angle yang unik sehingga lebih mudah diingat. Kisah-kisah lucu membantu menawarkan buku yang sarat emosi ini.

Saya bertanya-tanya, apakah sebaiknya ada bab per tema sehingga lebih fokus, akan lebih enak dibaca? Misalnya, satu bab khusus tentang jodoh di ITB, bab lain tentang drama kuliah dan sebagainya. Tapi mungkin membaca buku ini akan terasa kurang naik-turun jika demikian. 

Overall, saya suka Buku Jejak Kenangan ini. Rasanya akan jadi salah satu koleksi buku yang sparks joy buat diri saya. Karena mengingatkan saya akan manis-pahit kuliah di kampus. Mengingatkan saya akan MGN dan MaGaTa, ITB Motherhood dan teman-teman anggota MGN yang juga menulis di dalamnya. Bagaimanapun saya punya ikatan dengan mereka yang menulis di buku ini, maupun setiap alumni. 

Semua pasti bergetar hatinya ketika melihat spanduk ‘Selamat datang mahasiswa terbaik se-Indonesia’ yang terpampang di depan kampus semasa Orientasi Mahasiswa. Semua susah masuk dan berjuang di kampus ini. Semua punya kenangan sendiri.

Jika kamu baca buku Jejak Kenangan ini, niscaya ada kepingan-kepingan memori yang juga melintas kala masa kuliah di perguruan tinggi negri, jika kamu termasuk alumni. Jika tidak, semoga siapapun yang membaca bisa memetik hikmah bahwa semua yang terlihat indah dan sukses (seperti masuk kampus Gajah) di dalamnya terdapat perjuangan sendiri. 

Untuk memesan buku ini, hubungi Stiletto Indie Book. Mungkin kamu bakal suka juga buku ini, kamu bisa coba baca sendiri. Tertarik?

sunglow mama signature

Sunglow Mama

Seorang Ibu Rumah Tangga yang suka blogging dan berbagi tentang sisi kreatifnya. E-mail saya ke missdeenar@gmail.com untuk kerjasama

This Post Has 11 Comments

  1. Sri Nurilla

    Ya ampun, saya ke mana saja ya. Ternyata ada buku semenarik ini, pasti seru sekali membaca cerita para mamah gajah down memory lane masa-masa perjuangan masuk ITB, penyambutan yang menguras air mata haru ketika diterima, proses berkuliah, hingga akhirnya lulus (dengan susah payah kemungkinan besarnya) ehehe.

    Tetiba jadi ingat di hari penerimaan mahasiswa baru di Sabuga, di situ panitianya menyalakan salah satu lagunya Vertical Horizon, yang berjudul Best I Ever Had. Kok bisa pas banget gitu dengan yang saya rasakan kala itu. *nulisnya sambil berkaca-kaca

    1. Sunglow Mama

      Teteh lulus kapan? Kebayang berkaca-kaca denger itu lagu deh huhuhu. Ada teh bukunya, baru rilis awal tahun kalo ga salah

  2. Restu Eka

    Ini aku pengen baca bukunya tapi nggak tau beli dimana. Nuhun teteh sudah kasih tau dimana beli bukunya. Sebagai ex anggota MAGATA yang tidak jadi ikutan nulis karena kemalasan sendiri…dan kabur pula dari grupnya, aku selalu agak agak menyesal karena kemarin tidak memaksakan diri nulis semoga MGN nanti ada kesempatan bikin antalogi juga yaa #Lho.

  3. Pasti seruuuuu yaaa jadi pengen baca versi lengkapnya. Memang ITB tuh memorable banget ya. Plus lengkap dapet jodoh juga dari ITB hihi alhamdulillah.

  4. DIP

    Baru tahu teh ada buku ini. Pasti sarat ya dengan sejuta kenangan yang memang kita semua bisa relate minimal dengan satu dan dua ceritanya. Memang masa kuliah itu masa paling indah. meskipun kata Paramitha Rusady mah masa SMA yang paling terkenang, tapi buat saya mah masa kuliah itu yang paling banyak pelajaran.

  5. sheetavia

    Aku termasuk yang belum baca dan dari awal tahun kemaren sampe skrg juga baru 1 buku yang selesai dibaca dgn bersusah payah. Btw…terima kasih loh teh menginisiasi MGN, saya jd terhibur sekali walau kualitas menulis saya tiarap

  6. Anggun

    Waaaah teteh, terima kasih reviewnya ❤ iya awalnya juga mau dibuat per bab, tapi didiskusikan lagi kok kayanya malah lebih baik random aja topiknya, biar lebih mengalir.

    Yuk, MGN bikin antologi Juga yuk

  7. Nathalia DP

    Duh, saya belum baca bukunya… Pasti seru banget bikin nostalgia zaman kuliah dulu…
    Waktu itu pas buka PO lagi riweuh, jadi malas ikut… Tapi bisa beli langsung aja ke stiletto ya…

  8. Risna

    Jadi, apakah mamah gajah ngeblog akan mengikut jejak mamah gajah bercerita dengan bikin buku antologi? hehehe…

    Itu cerita antologinya multi angkatan ya, jadi seperti baca kenangan dari masa ke masa….

  9. Laksita

    Nyesel kemarin enggak pesan pas masa pre-order huhu. Makasih udah share info pemesanannya Teh. Emang paling emosional dan sentimental ya Teh kalau berkaitan sama si kampus gajah, kalau main ke daerah Ganesa aja masih suka mellow akutu dan suka ada aura menenangkan yang enggak bisa dijelaskan kalau ada di kampus. Ah jadi kangen 🙁

  10. Lenny Martini

    Sebagai salah satu penulis buku (ehem..) saya berterimakasih banget Teteh udah nulis reviewnya. Nanti bakal jadi andalan saya buat promosi bukunya. Hehehe..
    Pengalaman menulis bersama ibu-ibu sesama alumni kampus gajah ini benar-benar luar biasa. Proses editing sampai lahir jadi bukunya jadi detil dan seru! Saya pun senang bisa ikut menulis salah satu kenangan termanis saat angkatan saya berhasil mengumpulkan biaya kuliah lapangan dari kemenangan di kuis televisi. Penasaran kan? Yuk ah cuss baca bukunya!

Leave a Reply to DIP Cancel reply