Mengulas Buku Seni Beres-Beres Jepang Dari Marie Kondo

Mengulas Buku Seni Beres-Beres Jepang Dari Marie Kondo

Membahas buku ini mengingatkan saya akan 5 tahun lalu, dimana saya harus pindah rumah saat hamil tua. Kenyataan yang cukup berat saat itu: saya menyimpan banyak barang yang tidak diperlukan dan harus pindah secepatnya sambil membawa si kecil dalam perut.

Pada akhirnya saya harus merelakan banyak barang, karena konyol rasanya berpindah rumah sambil membawa setumpuk barang yang tidak diperlukan.

Mengapa harus berbenah? Ini justru pertanyaan ganjil jika kita seorang Ibu. Karena pertanyaannya malah terbalik, kok nggak berbenah? Karena kalau tidak berbenah, rumah pasti bagaikan gudang. Semua disimpan dan bisa kacau balau. Bahkan menambah ruang yang bisa dipakai untuk yang lain.

Bagaimanakah cara berbenah yang benar?

Tentang Buku The Life‑Changing Magic of Tidying Up

Tentang Penulis

Beberapa tahun lalu, nama Marie Kondo, konsultan tata ruang jadi melambung. Karena metode-metode berbenahnya yang disebut Konmari, termasuk buku The Life‑Changing Magic of Tidying Up yang jadi sorotan dan menjadi best-seller.

Kini Marie Kondo telah menjadi penyiar TV Jepang dan mengisi acara atas namanya sendiri di provider streaming terkenal. Saya bahkan sempat lebih dulu menonton salah satu seri acaranya sebelum membaca buku ini.

Yang cukup membuat wanita kelahiran tahun 1984 ini jadi panutan adalah bagaimana ia membenah dan mengatur barang dalam rumah. Karena biasanya berbenah adalah hal yang ‘sepatutnya’ semua tahu caranya, tapi sebenarnya tidak.

Tak banyak orang ngeh dengan metode berbenah (diakui Kondo sendiri) yang sederhana, terperinci dan struktural, makanya metode Konmari jadi melambung.

Sinopsis

Buku The Life‑Changing Magic of Tidying Up ini berisi tentang dasar-dasar dan cara, juga selipan cerita nyata bagaimana Marie Kondo berbenah. Juga bagaimana ia menangani kasus-kasus beberapa kliennya.

Aturan pertama yang sangat digarisbawahi adalah kita harus lebih dulu membuang barang-barang yang sudah tidak lagi kita butuhkan ataupun yang tidak lagi sparks joy (memancarkan kegembiraan untuk si pemilik).

Cara menentukan barang-barang yang akan kita simpan adalah dengan menumpuknya semua di lantai dan merasakan satu-satu dengan tangan kita, mana yang layak disimpan dan dibuang. Bahkan Marie Kondo bisa tahu mana yang kita akan simpan, melihat pola dari barang yang kita pilih. Dirinya telah terbiasa membuang berkantung-kantung barang tak diperlukan, dari rumahnya sendiri maupun klien-kliennya.

metode berbenah konmari
metode melipat baju vertikal a la Konmari

Barang-barang pun memiliki banyak kategori: dari baju, buku, alat dapur, peralatan mandi, sepatu dan lain-lain. Marie Kondo menjabarkan bagaimana metode-metodenya dalam per kategori. Misalnya, dia mengakui bahwa koleksi buku sangat jarang disentuh setelah dibaca sekali. Makanya banyak pengkoleksi buku hanya menimbun buku yang tak benar-benar mereka mau simpan.

Bagian lain dalam buku ini adalah metode penyimpanan. Bagaimana menyimpan barang per kategori, dan metode menyusun vertikalnya yang sangat populer (yang saya coba cuma gagal konsisten).

Salah satu hal yang buat saya tambah salut dengan Marie Kondo adalah ia menyatakan kita tidak perlu beli barang untuk penyimpanan, dan sangat menyukai kotak sepatu. Maka jika kita punya kotak sepatu tidak terpakai, sebaiknya disimpan untuk wadah penyimpanan lain.

Review Buku The Life‑Changing Magic of Tidying Up

Konsep declutter (membereskan rumah dengan mengurangi barang-barang yang tidak diperlukan lagi) sebenarnya bukan hal asing buat saya, sebelum saya melihat metode Marie Kondo.

Sejak pindah rumah dengan hamil besar, bahkan pindah rumah lagi saya belajar saya harus ‘tega’ menyingkirkan barang-barang yang tidak diperlukan. Saya juga mencoba lebih apik dalam menyimpan bahan makanan.

Buku self-help berisi 224 halaman ini memang cukup total mengemas metode berbenah dengan cara Marie Kondo, namun tak semua bisa saya aplikasikan. Karena pertama, saya masih belum ‘setega’ Marie Kondo membuang barang. Minimal saya harus tahu barang itu dibuang kemana, masih ada perasaan ‘jangan hambur’. Kedua, ya belum ada waktu (alasan klasik).

Ketiga, beda kepercayaan. Saya tidak punya lemari altar seperti Marie Kondo maupun akan melakukannya. Di suatu acara seri miliknya yang saya pernah lihat, Marie pernah datang dan ‘menyapa’ dan ‘menghormati’ rumah. Itu kepercayaannya, dan saya tidak dapat mengaplikasikannya. Saya hanya dapat mengerti bahwa menurut Marie tiap barang ‘menanti memiliki manfaat untuk pemiliknya’ dan ketika melepaskannya kita pun harus mengikhlaskannya.

Konsep mengikhlaskannya ini memang sejalan dengan value yang saya punya. Saya setuju sekali dengan teori Marie Kondo tentang alasan orang tidak bisa melepaskan barang hanya ada 2 alasan; ketakutan akan masa depan dan tidak bisa melepaskan masa lalu. Saya akui, walau saya sudah bisa mengaplikasikan sebagian besarnya, saya masih punya sedikit PR tentang ini. Saya pernah gagal melepaskan kamera plastik kesayangan saya yang akhirnya rusak, akhirnya saya menyesal sendiri.

Dalam beberapa bagian, saya merasa buku ini bagai menceramahi saya tentang ini-itu yang buat saya mau menutup buku. Sebenarnya, memiliki perasaan ini saya sendiri yang harus disalahkan karena memilih buku tentang berbenah dan mau tidak mau saya harus mendengar hal-hal yang mesti dilakukan.

Saya jadi merasa Marie Kondo bagaikan kakak saya yang mengajarkan saya bagaimana harus berbenah. Kadang saya agak simpati karena dia cerita juga di buku bahwa dia menghabiskan waktu istirahat makan siang sekolah sendirian tanpa teman dengan membereskan barang di kelas. Tapi itulah ciri orang yang akan besar atau sukses, diantaranya telah terbiasa berbeda sendiri atau unik.

Semua orang punya karakter, dan Marie Kondo punya karakter dan kegemaran merinci dan mengorganisir barang-barang. Ia begitu menghargai dan menjunjung tinggi rumah dan atmosfernya, sampai ketika ia menolong kliennya berbenah ia berpakaian rapih layaknya ke tempat resmi karena itu bentuk penghormatannya pada rumah.

Konsep Sparks Joy, walaupun menyenangkan untuk diterapkan, menurut saya masih mengandung sedikit pertanyaan. Karena saya bisa saja menyimpan barang-barang yang menyebarkan kegembiraan untuk saya, tapi kalau saya tidak menggunakan barang itu maka jatuhnya tetap mubazir. Tetap saja, barang koleksi yang sparks joy akan ‘membuang-buang’ ruang dan tidak terpakai juga.

Walau bagaimanapun, saya ingin mendapatkan goal dari Buku The Life‑Changing Magic of Tidying Up ini. Goal itu adalah bahwa ketika kita berhasil menerapkan cara-cara di dalamnya, maka kita akan lebih bahagia di rumah, wajah berseri-seri dan hidup lebih sehat. Menurut Marie Kondo, ini dikarenakan kita cuma melihat barang-barang yang kita mau di rumah dan secara logis maka barang berkurang sehingga udara lebih bersih.

Oh ya, di satu sumber lain Marie Kondo pernah menyatakan bahwa metode Konmari tidak bisa diterapkan ketika punya anak kecil. Ini cukup lucu, karena memang punya balita berarti barang-barang akan selalu berantakan. Bahkan Marie Kondo sendiri bilang bahwa kebanyakan kliennya adalah wanita berumur 50 tahunan. Jadi, mungkinkah saya harus menunggu anak saya besar untuk secara total menerapkan Konmari?

Penutup

Buku Seni Beres-Beres dan Metode Merapikan ala Jepang ini memang memberikan banyak insight tentang cara berbenah, hingga terperinci. Walau tidak semua bisa saya aplikasikan karena satu dan lain hal.

Apakah saya mengagumi Marie Kondo? Ya, karena ketelatenannya dan ketegasannya dalam meng-handle barang. Sepertinya karena itu juga seluruh dunia menyukainya.

Sekarang, tinggal menerapkan metode yang bisa saya laksanakan dari buku ini.

Bagaimana denganmu? Pernahkah kamu menerapkan beres-beres ala Konmari?

tantangan april mamah gajah ngeblog

Artikel ini dibuat untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan April 2021 dengan tema “Review Buku Perempuan Inspiratif”.

sunglow mama signature

Sunglow Mama

Seorang Ibu Rumah Tangga yang suka blogging dan berbagi tentang sisi kreatifnya. E-mail saya ke missdeenar@gmail.com untuk kerjasama

This Post Has 5 Comments

  1. Dini

    Wahh.. Sy juga sudah baca buku ini, tp penerapannya belum hahahah… Baru sampe mengikhlaskan barang (sendiri) yang udh ga spark of joy, tp klo barang2 anak, suami, dan ortu belum bisa nih

  2. Heidy Kaeni

    pernah tertampar baca buku ini, pernah nerapin, eeh gagal konsisten … hahahha. Diniatin bisa “remedial”, semoga bisa tahun ini … hihihii

  3. Nurul Nanda

    Saya jg suka banget buku ini sejak launchingnya krn sy merasa mirip dg marie kondo yg suka berbenah hehehe. Suka berbenah sy krn diajarin sm ibu sy dan isi bukunya marie kondo jg sebagian besar udh sy tahu haha lucu deh. Sy jg masih kontraktor yg pindah2 jd isi rumah selalu diusahakan minimalis. Tp yg masih susah buat sy itu memilah koleksi buku sy dan mainan anak2. Buku2 smuanya sparks joy huhu bahkan buku yg hilang dipinjem org pun sampe skrg rasanya msh nyesek. Mainan anak jg yg jarang dimainin kalau dibuang atau dijual jg sayang barangkali nnti anaknya nyariin dan mau main lagi haha, tinggal praktekkan teknik shuffle mainan aja haha. Sebenarnya buku pingin didonasikan aja tp aku pingin punya soft copynya aja gt bisa ga sih? *ngarep

  4. Suka lihat juga acara bebenah dan sering terinspirasi. Tapi karena masih tinggal di rumah mertua jadi masih jadi penonton saja haha. Makasih teh review bukunya.

  5. Beberes itu emang selalu seru kalau buatku. Ngebuang barang-barang yang hanya membebani saja. Belajar mengikhlaskan juga. Dalem lah menurutku ritual beberes besar-besaran itu.

Leave a Reply