Tentang Rezeki, Hashtag Instagram dan Tawakkal

Assalamu’alaikum, bagaimana bulan Ramadhan-nya sejauh ini? Nggak kerasa sudah masuk hari ke 20. Tentu sudah merasakan bagaimana perbedaan berpuasa di tengah wabah pandemi ini. Nggak sedikit dari kita yang mengkhawatirkan soal ekonomi atau pemasukan.

Bukan rahasia lagi bahwa bulan ramadhan sendiri adalah bulan dimana ada momen khusus untuk mencari pendapatan. Banyak dari kita yang membuka lapaknya, seperti menjual makanan buka puasa, kue kering, baju lebaran, calo tiket kereta atau pesawat. Namun sebagian harus lumpuh karena PSBB dan social distancing, membuat masyarakat enggan untuk keluar rumah dan berhati-hati dalam beraktivitas. Tapi masih ada sebagian bidang ekonomi yang berjalan, karena lebaran begitu lekat dalam benak masyarakat.

Bicara soal rezeki, saya mau sharing pengalaman saya beberapa tahun lalu. Saya selalu ingat hal ini kalau sedang mengkhawatirkan rezeki. Setidaknya bisa menenangkan saya dan mengingatkan saya bahwa Allah selalu menjaga umatnya.

Baca Juga: Biar Hati Plong, Ini Hal-Hal Yang Bisa Dipelajari Dari Ramadhan 2020

Dalam perjalanan rumah tangga saya dan suami, tentu nggak tanpa ujian. Salah satunya dari masalah ekonomi. Kondisi waktu itu, saya sudah resign kerja kantoran. Pekerjaan lepas ada namun tidak bisa full saya kerjakan. Saya juga sudah lama nggak berjualan online karena sibuk mengurus anak yang masih baru lahir. Namun tetap pemasukan utama dari pekerjaan suami.

Waktu itu tanggal sudah penghujung bulan. Tinggal beberapa hari lagi sebelum suami gajian. Tapi isi dompet nggak mencukupi. Pikiran saya blank harus bagaimana. Mungkin juga udah sibuk ya ngurusin si bayi, jadi rasanya untuk khawatir hampir nggak ada space di kepala. Suami juga tengah memikirkan bagaimana mencukupi hari-hari di tanggal tua ini.

Di tengah kebingungan harus bagaimana, tiba-tiba ada customer menghubungi saya untuk memesan jilbab. Padahal, kalau anda yang baca ini tahu, saya sudah berbulan-bulan lamanya nggak posting dagangan di instagram. Di tahun itu orang gencar ya beli di online shop instagram via hashtag saja, belum marak belanja di e-commerce. Alhamdulillah, pikir saya, jilbab yang ia cari juga stoknya ada. Dan, dengan begitu cukuplah kami membeli kebutuhan untuk sementara waktu.

Saya selalu amazed alias takjub selalu dengan kejadian itu. Waktu itu memang saya nggak di taraf terlalu khawatir nggak bisa makan atau bagaimana. Cuma masih bingung aja ‘gimana nih sekarang?‘ Tiba-tiba bantuan itu datang. Saya cuma mikir, berapa banyak hashtag yang dilewati customer itu sebelum sampai ke hashtag toko online saya? Atau, mungkin hashtag yang saya tuliskan unik sehingga nggak sulit buat dia temukan.

Baca Juga: Ngomongin Terjebak di Comfort Zone Atau Zona Nyaman dan Cara Mengatasinya

Apapun alasannya, kejadian itu selalu bisa menanamkan tawakkal atau keyakinan saya bahwa Allah nggak akan meninggalkan umat yang percaya pada-Nya. Harus saya gunakan kata ‘percaya’, karena ketika kita nggak percaya seringnya malah nggak datang rezekinya atau tersendat.

Paska kejadian itu kita bukannya lulus ujian ‘dompet kosong’ yang lain. Malah, ombaknya semakin kencang seiring waktu. Dan, ke-tawakkal-an pun semakin diuji.

Namanya hati, nggak selalu dalam keadaan iman yang penuh atau terarah. Banyak kejadian dimana hati agak berkhianat, lebih percaya dengan job atau dagangan daripada Yang Maha Kuasa untuk mengucurkan rezeki. Namun barometernya selalu sama kala itu terjadi: hati pasti gelisah atau nggak tenang.

Maka itu, setiap kejadian ‘dompet kosong’ seolah Yang Maha Kuasa meminta kita untuk hanya bersandar kepada-Nya. Bukan pada manusia (bos, customer atau siapa), bukan pada pekerjaan, bukan pada Dzat apapun selain pada-Nya.

Saya nggak bilang saya expert dalam bertawakkal, tapi setidaknya ketika situasi itu terjadi saya sedikit punya gambaran kemana harus berpaling dan harus menata hati seperti apa. Berlarut dalam kecemasan takkan membantu, walau itu sebuah tantangan ketika kita tidak sedang memegang apa-apa di tangan kita.

Maka itu siapapun yang baca tulisan ini dan sedang kesulitan dalam ekonomi, berpaling kepada-Nya saja. Curhat kepada-Nya. Berpasrahkan diri dan luruskan hati. Istighfar terus, buat menggugurkan dosa yang sebelumnya. Sambil juga kerjakan hak-hak-Nya dan beribadah. Insya Allah, jalan keluarnya ada.

Sunglow Mama Signature

Leave a Comment

Share via
Copy link