Belajar Mengelola Energi Setelah Menjadi Ibu

Belajar Mengelola Energi Setelah Menjadi Ibu – Ngomongin ‘aku yang dulu versus aku yang sekarang’ yang jadi tema Tantangan Blogging MGN Maret 2026, rasanya ada banyak sekali yang berbeda. Tak hanya perubahan status lajang ke menikah, secara penampilan fisik juga berbeda. 

Setelah berpikir apa saja yang beda dari saya yang dulu dan sekarang, ternyata ada banyak yang berakar ke pengelolaan energi diri sendiri. 

Ada kalanya saya merasa bisa melakukan banyak hal sekaligus. Kemauan dan ide banyak. Tapi kini saya cukup hati-hati dengan gaya hidup dan aktivitas yang mau saya jalankan.

Karena energi kita sebagai manusia dan wanita itu terbatas. Kenapa ini signifikan sekali?

Catatan: Saya tersadar bahwa sharing ini turut selaras dengan fakta bahwa anak saya satu dan sudah agak besar (pre-teen). Cerita di bawah ini lebih ke disiplin dan mengelola pikiran. 

Table of Contents

Ide Banyak, Tapi Energi Tidak Selalu Cukup

Jadi orang yang punya banyak ide memang seru sekali. Ketika ide berseliweran di kepala, pop, pop, pop! menyenangkan. Apalagi kalau adrenalin terasa memburu karena bersemangat dengan ide-ide tersebut.

Dalam 10 tahun terakhir ini terutama, saya sadar ide saya banyak tapi energi segitu-segitu saja. Beda halnya di usia 20 tahun, masih kuat dijabanin menjalankan ide walau kurang tidur. 

Saya jadi paham kalau sering sekali ‘diperdaya’ banyak ide. Artinya, ide banyak suka sering capek mengeksekusinya. Ternyata memang ini salah satu karakter saya. Sering kali berada ‘di lapangan’ di tengah prosesnya saya agak kelelahan.

Ini nggak cuma berlaku di proyek personal, tapi juga bagaimana menjalankan mengurus rumah. Menu masakan, rencana belajar anak dan rencana untuk komunitas yang diurus.

Setelah berulang kali crash and burn, saya jadi lebih berpikir dari ide-ide dan kemauan yang banyak itu mana yang prioritas? Mana yang worth our time? Mana yang sesuai value

Seiring waktu saya menyadari bahwa menjadi ibu bukan hanya soal mengatur waktu, tetapi juga mengelola energi.

Jadi homeschooler, harus tahan diri ketika rumah berantakan dan anak lagi proses belajar

Menjadi Ibu, Pengelolaan Energi Diri Jadi Penting

Bekerja sebagai freelancer dari rumah plus IRT sudah lumayan penuh waktunya. Tak hanya mengurus bayi, mengurus rumah sendiri juga jadi sesuatu yang cukup buat kewalahan. Mungkin hal ini menjadi terasa besar karena sebelumnya di rumah orangtua telah terbiasa berbagi tugas rumah. 

Di rumah sendiri, sudah ada pembagian sesuai fitrah. Istri mengurus rumah dan suami mencari nafkah. Suami tetap membantu dalam hal-hal berbau fisik seperti pertukangan, transportasi dan pengelolaan benda berat lain.  

Mungkin karena kurangnya pengetahuan tentang manajemen waktu, ide banyak, kadang idealis dan suka workaholic, suka buat repot sendiri. Apalagi, anak bayi kebutuhannya muncul tak terduga. Misalnya tiba-tiba menangis, lapar, ngantuk dan masih sangat menempel pada saya.

Yang juga buat agak ‘down’ adalah harapan-harapan saya sendiri mengenai hari. Yang saya pikir bisa me-time atau melakukan sesuatu yang saya anggap penting, ternyata bisa sama sekali ngga bisa dikerjakan. Atau bisa saja dilakukan, tapi energi saya sudah terkuras. Sepertinya hal ini banyak dirasakan ibu-ibu lain, ya?

Konflik Batin Berkarya dan Prioritas Keluarga

Saya juga selalu berpikir untuk punya pemasukan sendiri. Meski di rumah, saya bisa cari pendapatan kok. Ya, memang bisa. 

Tapi hal ini sewaktu-waktu suka jadi bumerang. Paksu ngga memaksakan saya untuk kerja. Malah dia suka ingatkan kalau prioritas saya ngurus keluarga.

Pernah ditanya suami, “Emang kamu dibayar berapa sih?” untuk suatu kerjaan lepas yang menambah pemasukan, tapi memotong banyak waktu ngurus rumah. 

Dulu rasanya ucapan suami ini ‘tradisional banget’ atau sangat ‘ngga modern’. Tapi lama-kelamaan saya merasa memang itu benar. Siapa yang kelabakan ketika saya sibuk tapi kerjaan rumah tangga tetap ada? Porsi ke anak juga terpakai.

Perang batin ini berlangsung di usia 30 tahunan. Sampai saya masuk ke titik berserah saja. Dan akhirnya mindset prioritas sebagai ibu dan istri menjadi pemenang. Jadi tools juga untuk saya kalau kesibukan datang, tinggal ingat mana prioritas saya.

Meski begitu, saya tetap butuh pekerjaan di luar kegiatan IRT karena mengejar rasa keberdayaan. Rasanya otak ini otomatis cari sesuatu di luar mengurus keluarga, meski porsinya tidak besar.

Belajar Manajemen Diri dari Berbagai Sumber

Saya lalu ikut beberapa kelas online mengenai pengelolaan energi IRT. Ada narasumber yang menyarankan baca buku Eat That Frog!. Alhamdulillah bisa baca dan coba menerapkan menyusun prioritas sesuai dengan kadar kepentingannya. 

Sekarang sih saya sudah ngga buat seperti yang disarankan seperti buku itu (karena butuh waktu sedikit lama dari yang diharapkan). Tapi saya jadi paham kalau tidak semua aktivitas itu urgent atau harus segera diselesaikan. Masih bisa ditunda beberapa lama. Atau bahkan ngga se-urgent yang kita kira. 

Di satu kelas self-management yang saya ikuti, melakukan me-time 5 hingga 10 menit di hari yang sibuk harus disempatkan. Ibaratnya mengisi ‘bensin’ di mobil yang sudah hampir kehabisan bahan bakar.

Ternyata hal ini ngga semudah seperti yang dipikirkan. Karena di tengah kesibukan, kita kadang suka lupa memberi diri sendiri break. Alhamdulillah sekali untuk muslim, ada shalat 5 waktu yang buat kita bisa rehat sederhana. 

Sebelum Ramadan, saya agak lelah batin karena beberapa hal. Lalu saya nonton sharing pendampingan anak homeschooling, malu mendengar perjuangan seorang ibu homeschooler yang punya 2 anak dan melakukan Long Distance Marriage. Plus hidupnya agak nomaden. Kebayang perjuangannya bukan?

Mendengar perjuangan harian Ibu itu buat saya jadi agak lega. Ternyata normal kalau sesekali merasa agak ‘mundur’. Untuk insya Allah maju lagi ke depannya.

Pembelajaran Ramadan 2026

Ramadan 2026 ini saya baru merasa agak achieve. Tak seperti tahun-tahun lalu, saya lebih peka mengelola energi. 

Dulu saya agak idealis dan banyak ide ingin ini-itu dalam hal menu buka puasa dan berkegiatan. Tapi hal ini ujungnya buat saya kelelahan karena ekstra cucian piring dan lebih minim waktu ibadah. 

Alhamdulillah juga, untuk IRT ladang pahalanya di dapur. Ngga melulu dari ibadah-ibadah seperti shalat dan doa-doa. Itu juga yang menguatkan saya kalau Allah ngga segitunya pada IRT, melihat semua perjuangan kita yang mungkin dianggap orang luar ngga begitu ‘besar’. 

Faktanya Ramadan mengajarkan disiplin. Ini pembelajaran bertahun-tahun yang suka buat saya lupa karena sedang menahan lapar. Maunya banyak, tapi ketika makan sedikit sudah kenyang. Memang begitu ibaratnya godaan dunia. 

****

Jadi sekarang, ketika ide datang bertubi-tubi, saya tidak langsung mengejarnya seperti dulu. Saya berhenti sebentar dan bertanya pada diri sendiri:

Apakah ini benar-benar prioritas?

Karena ternyata, hidup yang lebih tenang bukan datang dari melakukan banyak hal, tapi dari memilih yang paling penting.

Sunglow Mama

Seorang Ibu Rumah Tangga yang suka blogging dan berbagi tentang sisi kreatifnya. E-mail saya ke missdeenar@gmail.com untuk kerjasama

Recent Posts

Flashback Blogging 10+ Tahun Lalu

Refleksi tentang pengalaman blogging lebih dari 10 tahun lalu: menulis demi kesenangan, promosi cukup lewat…

2 hours ago

Kunyit Asam Lancar Datang Bulan

Kram perut saat haid merupakan keluhan paling umum yang dirasakan wanita. Nyeri tersebut hanya ketidaknyamanan…

6 days ago

Dari Kampus ke Rumah, Bukan Sekedar “Cuma IRT”

Dari multimedia hingga homeschooling, semua ilmu ternyata terpakai. Cerita tentang menjadi ibu, pendidik, dan pembelajar…

4 weeks ago

Tak Cuma Menulis, Ini 4 Cara Ibu Terkoneksi ke Diri Sendiri

Menjadi ibu sering membuat kita lupa pada diri sendiri. Lewat menulis, berkesenian, olahraga, dan mendekat…

1 month ago

Membaca di Tengah Kesibukan: Rekap Buku 2025 & Wishlist Bacaan 2026

Bukan soal berapa banyak buku yang dibaca, tapi bagaimana membaca tetap hidup di tengah kesibukan…

2 months ago

5 Tempat Mendapat Inspirasi & Berkesan

5 tempat berkesan dan inspiratif secara umum untuk saya, tempat-tempat yang dekat dengan alam, indah…

2 months ago

This website uses cookies.