Dari Kampus ke Rumah, Bukan Sekedar “Cuma IRT” – Tantangan Blogging MGN 2026 perdana tahun ini temanya buat saya kembali ‘muter-muterin’ otak. Karena temanya cukup bikin merenung jauh. Sulit untuk tidak mengaitkan ke satu tempat/lokasi yang membentuk tanpa menyebut yang lain.
Topik kuliah di Perguruan Tinggi Negri (PTN) tapi ‘akhirnya cuma jadi Ibu Rumah Tangga (IRT)’ jadi viral beberapa waktu lalu. Momen ini sepertinya pas untuk membahasnya, related dengan pengalaman saya sendiri sebagai IRT.
Apakah ilmu kuliah saya itu mubazir? Di tiap ruang/tempat yang dibahas di bawah ini, saya didera perasaan insecure dan unsettling karena berbagai perubahan. Selengkapnya bisa dibaca di cerita di bawah ini:
Kampus adalah ruang pertama yang memecut sisi multimedia woman saya. Yang sempat jadi kendala adalah beradaptasi mindset belajar desain/seni, setelah 12 tahun belajar yang didominasi ilmu eksakta dan hafalan. Sekedar catatan, kelas 3 SMA saya masuk jurusan IPA.
Kuliah di FSRD memang beda dari semua sekolah yang saya ikuti. Mengemban ilmu yang abstrak dan main konsep. Kampus yang mengagungkan konsep out of the box, memecahkan masalah dengan desain (dengan cara pintar) dan all out.
Ketika nonton dokumentasi video-video angkatan FSRD masa Tahap Persiapan Bersama (TPB) angkatan saya, segenap memori lama berkelebat. Emosi campur aduk karena ada berbagai perubahan.
Seperti perubahan kota tempat tinggal, harus hidup ngekos, dari belajar berbagai pelajaran ilmu pasti jadi belajar seni dan desain. Lalu dari SMA yang bukan sekolah unggulan tiba-tiba masuk ke kampus besar plus jurusan favorit.
Saya suka masa-masa TPB adalah dimana saya banyak eksplorasi media dan mencoba berbagai seni. Seperti menggambar hewan di kebun binatang dan gambar manusia secara langsung. Bahkan gambar konstruksi tugu selamat datang taman ITB yang susah minta ampun digambar. Acara OSPEK yang harus pakai kostum sampai ngga mood karena lelah.
Jadi overthinking juga sering. Karena setelah TPB, tekanannya berbeda. Masalah-masalah lain selain tugas kampus yang menggunung juga ada. Kita jadi lebih bekerja individual dan harus lebih matang mengonsep.
Hikmah apa yang saya dapat dari kuliah disini? Untuk berkreasi, butuh keberanian. Dan menerima keunikan dan jalanmu sendiri. Ditambah, hidup jauh dari keluarga jadi membuat kita lebih menghargai mereka.
Apa yang terjadi setelah kuliah usai? Dunia nyata menyapa.
Karena cita-cita mau kerja di media, Alhamdullah saya keterima di salah satu perusahaan media di Jakarta. Ngga nyangka saya bisa kerja di sana selama bertahun-tahun. Saya sudah cerita sedikit di tulisan pengalaman jadi video editor.
Awalnya sih saya masih mikir saya akan jadi desainer. Nyatanya, ya nggaklah. Saya toh ambil jurusan multimedia di tingkat 3. Ngga cuma media video, website juga. Ya pantes ya saya ngga jauh-jauh dari ngeblog.
Tapi yang unik dari tahun-tahun pertama kerja di kantor ini adalah, saya seorang wanita sendirian sementara rekan kerja saya dominan Bapak-bapak. Jomplang awalnya, dan saya juga masih fresh graduate kan.
Lama-lama, mereka justru jadi protektif pada saya. Dan saya, yang telah belajar dalam beberapa kasus, belajar untuk lebih tangguh.
Disini saya belajar untuk jadi profesional. Bertanggung jawab akan sebuah projek dari awal sampai akhir. Gaining kepercayaan klien dan atasan.
Lama-lama, kantor itu terasa seperti akuarium kecil dan saya ikan yang sudah jumbo. Alias, terasa sempit dan menyesakkan. Beberapa lama, saya masuk ke zona nyaman.
Di fase ini saya belajar bahwa…ide-idemu mungkin brilian dan out of the box, tapi belum tentu masuk ke masyarakat. Program-program tontonan secara konsep mungkin keren dan high end. Tapi mereka tidak bertahan lama dan ratingnya kecil. Dan tidak bisa menghidupi industri broadcast.
Akhirnya saya sampai di titik memutuskan untuk kerja dari rumah. Memang ternyata lebih nyaman demikian. Tapi apakah kerja dari rumah terlihat semenyenangkan itu?
Saya pribadi yang ngga tahan dengan aktivitas yang sama berulang setiap hari. Harus coba sesuatu yang baru. Mulai ngeblog merupakan usaha mengatasi kejenuhan ngantor.
Fase bekerja di rumah memang menantang. Karena jam kerja yang fleksibel. Tapi kalau tidak ada self-discipline dan motivasi, akan mudah buyar. Ngga enaknya juga, dicap ngga produktif di rumah.
Pernah seorang tetangga berucap, “Udah kuliah, tapi akhirnya jadi ibu rumah tangga aja.” Kaget juga dikomentari demikian.
Tentu ucapan itu jadi renungan, bukan karena komentarnya saya anggap benar. Saya ngga “cuma” IRT dan ‘membuang’ ilmu yang saya dapat. Bukan tersinggung, cuma menyayangkan persepsi itu.
Rasanya sayang ketika suka belanja ke tukang sayur, saya langsung dicap demikian. Siapa yang tahu produktif atau tidak, kalau nggak lihat yang dilakukan dalam 24 jam?
Bekerja dari rumah secara remote memang belum di-grasp semua kalangan. Capnya manusia tempo doeloe; IRT itu cuma mengerjakan kerjaan domestik. Lalu ambil kursus dengan bidang yang erat dengan ke-IRT-an seperti menjahit dan memasak (no offense).
Tapi nggak cuma dari berubah status jadi freelancer. Sayapun secara pribadi lama-kelamaan berusaha menjadi homemaker. Apalagi setelah si kecil lahir. Pola pikir saya berubah jadi parent untuknya.
Ketika memutuskan homeschooling untuk anak, saya merasa segala ilmu yang pernah dipelajari itu terpakai.
Saya bukan ahli homeschooling atau sudah khatam di bidang ini. Tapi seperti kata Mbak Dian Sastro dalam sebuah podcast, “Kalau kita jadi guru, kita juga ikut belajar.” Karena ia juga kini jadi seorang dosen.
Dan musuh orangtua itu adalah rasa malas. Jadi menjadi homeschooler, saya harus terus belajar dan melawan rasa malas.
Ilmu-ilmu yang saya dapat ketika kuliah, menerima seni sebagai bentuk ekspresi dan membiarkan eksplorasi terjadi, saya terapkan ke homeschooling si kecil. Selain stamina, yang harus dikelola juga keinginan untuk mengendalikan dan mengambil alih.
Nah ini lumayan susah. Termasuk saat mengajak anak belajar langsung dari lingkungan sekitar, seperti ketika kami berkunjung ke berbagai destinasi wisata keluarga yang sekaligus bisa menjadi sarana edukasi.
Saya ajak dia untuk mengenal media gambar dan lukis sejak awal. Bahkan membuat dengan tanah liat dan kini animasi.
Animasi, yang dulu jadi tugas skripsi saya, lagi jadi bahan eksplorasi si kecil. Meskipun medianya bukan media yang saya suka, saya coba dukung sebisanya. Sains, yang saya ngga begitu dalam kuasai tapi sempat icip lebih dalam saat SMA, malah si kecil senang pelajari.
Aktivitas belajar ini sering kami kombinasikan dengan perjalanan singkat, sambil menerapkan berbagai tips liburan agar waktu jalan-jalan tetap nyaman dan bermakna.
Lelah tentu saja ada. Mendukung si kecil dalam bidang yang ia sedang suka, menunggu anak siap belajar, menjadi makanan sehari-hari.
Tentu saja saya masih belajar setiap hari, segala kekurangan dan kelebihan proses pembelajaran kami. Tak ada yang jamin juga ke depannya seperti apa. Hanya mencoba ikhtiar.
Dari waktu saya ngantor, saya belajar dunia media dan video. Juga konsisten dan resiliensi. Belajar bahwa ide-ide baru bisa dibilang sukses kalau target bisa menyerap dan menerimanya.
Klien saya sekarang si kecil, yang harus dibimbing sebagai manusia yang siap terjun ke masyarakat. Belajarnya dari rumah. Atau berbagai spot yang bisa jadi bahan belajar.
Tantangan punya anak laki-laki adalah mereka lebih suka praktek daripada duduk menulis dan crafting. Padahal kalau anak saya perempuan, saya punya banyak sekali ide kegiatan bersama. Si kecil justru lebih suka praktek sains dan dunia planet.
Lantas kenapa kalau saya ‘cuma’ jadi IRT? Saya bisa menggunakan ilmu-ilmu saya untuk membimbing si kecil jadi individu yang baik di mata Allah dan bermanfaat di masyarakat.
Tak ada pengalaman yang sia-sia dan ilmu yang mubazir. Semua sudah diperhitungkan Yang Maha Kuasa.
Mungkin ucapan nyinyir ‘cuma’ jadi IRT padahal dulu kuliah di perguruan tinggi harus di-wire pola pikirnya. Profesi ibu rumah tangga tidaklah sedangkal itu.
Di mata sebagian orang, mungkin seseorang ‘hanya’ ibu rumah tangga. Mungkin si ibu rumah tangga sendiri merasa ragu dan bertanya-tanya, ilmu saya dulu buat apa?
Buat saya inilah ruang paling nyata untuk mengamalkan semua ilmu, pengalaman, dan proses hidup yang pernah dijalani. Dari kampus, dunia kerja, hingga rumah, semuanya membentuk saya hari ini.
Saya sedang menjalani peran terbesar dalam hidup: mendidik satu manusia kecil agar kelak tumbuh menjadi pribadi yang baik, beriman, dan bermanfaat.
Bukan “cuma” IRT. Ini adalah pilihan, proses, dan amanah.
Menjadi ibu sering membuat kita lupa pada diri sendiri. Lewat menulis, berkesenian, olahraga, dan mendekat…
Bukan soal berapa banyak buku yang dibaca, tapi bagaimana membaca tetap hidup di tengah kesibukan…
5 tempat berkesan dan inspiratif secara umum untuk saya, tempat-tempat yang dekat dengan alam, indah…
Think back on your most memorable road trip. Back in 2025, we went on a…
Performa Aktris Korea Favorit dalam Serial di Tahun 2025 - Masih soal tahun 2025, selain…
Di awal Desember 2025, saya coba refleksi aktivitas ngeblog saya. Maklum, kayanya bulan ini mau…
This website uses cookies.
View Comments
Hallo Andina, lama deh ngga negur Andina :).
Terimakasih sudah berbagi cerita ya, tentunya Andina bukan "cuma" IRT. Saya setuju kalau tidak ada pengalaman yang sia-sia dan ilmu yang mubazir. Profesi Ibu Rumah Tangga bagi saya adalah profesi yang paling mulia, bangsa yang hebat tentunya di awali dari keluarga yang hebat dan ibu-ibu yang membersamai anak-anaknya. Tetap semangat Andina, ditunggu suatu hari menerbitkan buku tentang kegiatan home schooling bersama anak :)