Flashback Blogging 10+ Tahun Lalu – Beberapa waktu lalu sempat trending di sosmed, kenangan diri kita 10 tahun lalu..alias di tahun 2016. Ternyata alasan trending karena para content creator ingin mengenang era sosmed yang lebih sederhana.
Bagi saya ngga sulit mengenang tahun itu, karena itu tahun si kecil lahir. Tahun dimana dunia saya jadi sangat berubah.
Saat itu saya ngga mikirin blogging. Bahkan domain blog review film rasanya sudah mau off dari dunia internet. Yang saya pikirkan kala itu adalah bagaimana tetap sehat dan melahirkan dengan lancar.
Badan juga mengalami berbagai perubahan, sedang penyembuhan dari operasi caesar. Sementara itu juga berusaha menyusui si kecil. Dari yang cuma berdua saja sekarang jadi bertiga.
Tapi marilah sedikit mengenang tahun-tahun sebelumnya, sesaat sebelum saya vakum dari dunia blogging.. sikon yang ngangenin seperti ini:
Tujuan Ngeblog Demi Kesenangan Dibanding Eksis
Tahun 2013 dan 2014, saya lebih ngeblog karena menyuarakan pendapat dan senang, daripada untuk eksis saja. Belum ada banyak sosmed dan berlomba-lomba buat konten seperti sekarang.
Ngga mikirin Search Engine Optimization (SEO) dan belum belajar juga. Menulis ya menulis aja.
Termotivasi menulis karena ingin dan suka dengan bahasannya. Ngga terlalu banyak pertimbangan ini-itu. Ngga dipusingin format, backlink, excerpt, meta description, slug dan sebagainya.
Kesederhanaan ini yang buat agak kangen sih. Kini saya banyak sekali pertimbangan kalau mau menulis dan batasan-batasan topik menulisnya.
Kemudahan Waktu Ngeblog dan Dapat Inspirasi Menulis
Memetakan kapan bisa menulis rasanya lebih bisa dibaca. Dan mudah menelurkan ide-ide menulis. Dulu kesibukan saya ngantor atau habis resign mulai kerja lepas. Belum ada anak dan masih berduaan aja dengan suami.
Biasanya saat ngantor, saya lebih leluasa menulis dan posting saat hari libur. Seperti saat weekend. Atau curi-curi menulis saat lagi kosong kerjaan.
Karena sangat mudah mengeluarkan ide-ide menulis sampai bisa ada beberapa seri tulisan dalam blog. Seru sih, tapi suka menyesal kalau belum sesuai jadwal.
Mungkin karena masih single jadi masih leluasa jadwalnya. Yang agak berbeda karena sudah menikah. Jadi sudah ada tanggung jawab sebagai istri.
Dulu saya cukup posting di blog dan share ke Twitter dan Facebook untuk promosi artikel. Ada juga otomatis dikirim ke newsletter buat yang langganan (lupa ada yang langganan apa ngga ya, haha) dan aktifkan RSS Feed.
Dulu sih sesama blogger dan penyuka film kuat hadir di Twitter dan biasanya saling follow. Jadi kalau membagikan link artikel disitu lebih mudah terbaca oleh mereka.
Psst, dulu twitter saya pernah di retweet seorang sutradara terkenal. Karena saya membagikan review filmnya yang saya anggap bagus.
Tapi pas saya tinjau ulang lagi sekarang, ada bagian klimaks film itu yang saya anggap ngga bagus. It was nice to get recognition for a while, sih.
Kenapa share di twitter dan fb aja kok ngangenin? Karena atmosfer sosmed jaman itu memang tergolong sederhana dibanding sekarang.
Sekarang ada berbagai platform untuk bagikan link; Instagram, berbagai grup facebook, halaman Facebook, status Whatsapp dan grup WhatsApp. Bisa juga di Pinterest dan Threads. Udah ‘kenyang’ duluan share ke berbagai platform ini.

Datang & Diundang ke Event
Tahun 2012-2013 sebenarnya sedang ‘manis-manisnya’ saya ngeblog tentang film. Ngga cuma suka nonton film di bioskop, saya suka datang ke festival film tahunan.
1-2 tahun sebelumnya saya rutin datang, tahun 2013 kalau tidak salah diundang nonton dan bisa memilih film yang diincar. Tahun berikutnya, saya diundang datang ke acara press release/pembukaan festival film.
Sebelumnya saya sempat datang ke peluncuran film Sang Penari. Ini murni saya yang minta diundang. Sampai sekarang saya belum baca novel aslinya. That movie was good dalam penyampaian cerita dan potret budaya Indonesia.
Pernah juga diundang ke peluncuran film lain, tapi karena event-nya jauh di tengah kota (atau rumah saya yang ngga dekat tengah kota) jadi agak mikir mau datang.
Oh ya, sempat juga buat acara nobar sama-sama dengan supporter blog waktu itu di viewing room. Kita nonton beberapa film ngga sengaja karena film sebelumnya macet saat diputar, hihi.
Blogwalking Secara Alami
Satu hal yang buat kangen di era blogging 10 tahun lalu adalah budaya blogwalking alami. Yaitu ngga perlu harus ikut list blogwalking di Whatsapp dengan ketentuan-ketentuannya.
Beberapa teman-teman blogger dulu ‘mampir’ dan berkomentar di blog dengan kemauan sendiri tanpa diminta. Apakah blogger luar sampai sekarang punya budaya ini hingga sekarang, saya kurang tahu. Karena habis vakum ngeblog, saya pilih blogging di ranah lokal.
Ada kalanya 5 tahun lalu dimana saya senang bisa ikut kegiatan blogwalking terencana di grup-grup WhatsApp khusus blogging. Tapi minusnya adalah terkadang komentar-komentarnya dipaksakan atau tidak (terasa) tulus.
Tapi banyak juga yang memang sungguh-sungguh dalam berkomentar. Jadi agak sumringah kadang bacanya. Yang disayangkan memang harus direncanakan wacana blogwalking-nya.
Jadi yang komentar benar-benar alami agak jarang masa kini. Ngaku juga sih, saya pun ngga sering ‘berkunjung’ dan komen ke blog lainnya. Kecuali saya benar-benar terkoneksi dengan isi artikel yang ditulis. Baca lebih banyak di artikel saya 3 tahun lalu: Blogwalking dulu dan sekarang.
Mungkin masa sekarang atau sejak 5 tahun terakhir, blogwalking jadi lebih terencana karena atmosfir job blogging yang lebih ‘panas’?
Kondisi Job Blogging yang Lebih Sederhana
Rasanya masa 2013-2014 belum banyak juga job blogging (sepengetahuan saya, tapi saya ngga aktif di atmosfer lokal). Saya ngga pernah lihat blog lokal yang isinya banyak sponsored post, seperti 5 tahun setelahnya.
Jadi blogger memang blogger, bukan blogger yang juga influencer. Memang ngga menampik, hampir kita semua suka cari pendapatan sampingan. Tapi kalau isinya iklan semua, kan bak nonton infomercial versi blogpost.
Sekarang kalau ketemu blog yang isinya murni untuk nulis, tanpa mikirin sponsor atau SEO, rasanya seperti dapat angin segar.
Blogger yang dulunya suka ambil job blog secara intens kini kebanyakan sudah ubah haluan. Ada yang berbisnis offline dan ada yang jadi afiliator atau jual produk digital.
Mungkin karena saya ngga aktif atau gabung komunitas blogger lokal khusus, saya ngga pernah ditawarkan job blog secara grup seperti 2-3 tahun terakhir. Banyaknya langsung dihubungi melalui e-mail. Kayanya juga dulu job blogging tidak terlalu demanding atau banyak ketentuannya (tergantung klien juga sih).
*****
Mengenang masa blogging 10 tahun lalu rasanya seperti membuka album foto lama. Banyak juga yang berubah—cara menulis, cara promosi, bahkan tujuan kita membuat blog. Dunia digital berkembang cepat, dan kita pun ikut beradaptasi.
Tetap ada satu hal yang rasanya tetap sama: keinginan untuk bercerita dan berbagi pengalaman lewat tulisan. Apakah itu tentang film, kehidupan sehari-hari, atau sekadar nostalgia masa lalu.
Mungkin sekarang blogging tidak sesederhana dulu. Tapi sesekali mengingat masa ketika menulis hanya karena suka bisa menjadi pengingat bahwa di balik segala strategi dan algoritma, blogging tetaplah tentang menikmati proses menulis itu sendiri.




