Tips Kolaborasi dengan Gen Z (Dari Sisi Pengamat) – Mau membahas Generasi Z, yaitu generasi yang lahir di periode tahun 1997 hingga tahun 2012 membuat saya agak harus riset dulu. Maklum deh, saya belum pernah kerja langsung dengan mereka.
Saya cuma mengenal mereka dari keseharian, tanpa sadar bahwa itulah karakter mereka. Dan bukan cuma karena mereka masih muda. Dan maka dari itu mereka sangat mengenal teknologi dan agak ‘manja’.
Dari beberapa artikel yang saya baca, diskusi dengan anak saya yang generasi Alpha (diskusi yang cukup lucu) dan menghubungkannya dengan orang-orang yang memang adalah gen Z, menghasilkan sebuah kesimpulan. Yakni karakter gen Z adalah karakter yang sangat mengenal dunia digital, senang dengan budaya instan, kebanyakan mandiri dan ambisius.
Mereka tidak suka digurui (seperti umumnya semua orang dan dari generasi apapun). Dan tidak akan bertindak atau bergerak jika mereka menganggap tidak ada tujuannya.
Jujur, saya agak amazed sih dengan karakter gen Z. Tapi tidak sampai di titik hingga negatif sekali (seperti di beberapa testimoni yang saya baca ketika kolaborasi dengan gen Z).
Jika suatu hari bisa bekerja langsung dengan mereka, mungkin beberapa tips ini bisa jadi bahan belajar bagaimana berkolaborasi dengan gen Z:
Gen Z dikenal memiliki cara berpikir yang berbeda, tentu berbeda dari generasi milenial seperti saya. Rentang usia mereka yaitu usia antara 14 hingga 29 tahun, dibandingkan generasi saya yang sudah berusia 40 tahun tentu saja mindset-nya berbeda.
Poin ini sebenarnya bukanlah hal yang baru untuk saya yang mendidik anak dari rumah. Saya berusaha nggak menghakimi ide-ide anak saya yang masih gen Alpha. Saya berusaha dengarkan tanpa berusaha mengkotakkan atau memasukkan ke standar saya, karena siapa tahu standar saya tidak relevan untuk mereka.
Berusaha tidak menghakimi ide generasi baru ini karena saya banyak baca kontenparenting dan mempraktekkannya. Seperti halnya blogger tehOkti yang membersamai anak sekolah mondok, berusaha menjadi orangtua yang baik.
Dan hal ini berakar juga dari latar pendidikan pribadi yang membuat saya bertemu banyak pribadi yang beragam. Dan kami justru di-encourage untuk punya ide beda.
Ide dan cara berpikir beda tidak selamanya buruk. Dan malah bisa menelurkan solusi yang brilian.
Yang harus dijembatani memang bagaimana membuat ide-ide itu ‘berpijak di Bumi’ dan mengaplikasikannya. Iya bukan?
Ah iya. Gen Z cenderung tidak ‘menangkap’ jika kita berbicara terlalu bertele-tele dan panjang. Mungkin karena generasi ini terbiasa menyerap informasi secara cepat dan ‘banjir’ dari dunia maya.
Sangat natural bagi generasi yang lebih tua, gaya ini akan kelihatan tidak sopan atau kurang beretika. Ternyata memang ini sudah jadi karakter gen Z.
Karena itu, kita ambil gaya komunikasi yang singkat dan langsung pada sasarannya. Tidak usah banyak berbasa-basi. Tapi tentu tetap menggunakan bahasa yang baik.
Mungkin gaya komunikasi ini bagus juga karena penggunaan waktu jadi lebih efektif. Tak usah berliku-liku dan njelimet. Dan mungkin ngga usah terlalu dimasukkan hati atau personal. Apalagi galau.
Salah satu contoh yang ternyata gen Z banget adalah mereka bisa ‘kenal’ kita dari online presence yang ktia punya. Jadi, mungkin satu cara untuk membuat mereka kenal kita adalah memiliki jejak digital atau kehadiran di dunia maya.
Generasi milenial atau generasi lebih tua mungkin terbiasa dengan struktur dan sesuatu terorganisir. Namun hal-hal yang terlalu formal agaknya bukan hal-hal yang disukai atau menarik bagi gen Z.
Sebenarnya bukan hanya gen Z sih. Jika kita terlalu kaku akan sebuah struktur dan ada orang yang baru di lingkup kita, menjelaskan kepada orang yang baru akan lebih enak jika dengan gaya yang santai. Atau mungkin bisa diselipkan dalam candaan atau strategi komunikasi yang lebih kasual.
Saya rasa tiap orang bukannya tidak mau bekerja sama. Tapi gaya komunikasi kita memang harus ‘diselaraskan’ dengan frekuensi yang sesuai. Begitu juga dengan gen Z.
Gen Z sangat peduli dengan mental health sehingga tegas dengan penggunaan waktu dan energi mereka. Hal ini sebenarnya wajar kok.
Dari dulu saya pun agak draw the line dalam waktu kerja saya ketika ngantor. Dan saya rasa kita juga perlu memanusiakan manusia yang bekerja. Dan tidak menormalisasi atau membiasakan tiap hari harus kerja overtime.
Namun bukan berarti bekerja tidak punya sasaran dan kualitas. Kalau jadi bos, ngga enak juga kan kalau pegawai sangat peduli dengan batas jam kerja dan tidak pada target pekerjaan. Get your job done right dengan bertanggung jawab.
Generasi Z dikenal terbiasa dengan teknologi dan metode bekerja yang fleksibel. Kita bisa mengadaptasikan gaya kerja mereka jika itu terbukti lebih ringkas dan sesuai target.
Tentu kita tetap harus memantau kualitas pekerjaan dong. Tidak semua pekerjaan cepat memiliki hasil yang baik.
Dengan kebiasaan budaya instan dan tidak suka bertele-tele, mereka bisa menemukan strategi bekerja yang lebih efisien. Maka dari itu, waktu kita pun jadi lebih efektif.
****
Begitulah sedikit tips bagaimana berkolaborasi dengan Gen Z, dari sisi pengamatan saja. Bukan dari praktisi langsung.
Biar bagaimanapun, generasi apapun kamu, yang penting kolaborasi dan hasilnya sesuai dengan goal. Bukan siapa yang benar atau siapa yang lebih unggul. Saya rasa tiap generasi punya karakter dan keunggulan sendiri.
Kalau kamu pernah kerja bareng Gen Z, apa yang paling terasa berbeda? Yuk cek juga artikel-artikel dari pemilik akun instagram indungbageur ini.
Refleksi tentang pengalaman blogging lebih dari 10 tahun lalu: menulis demi kesenangan, promosi cukup lewat…
Dulu saya merasa harus melakukan banyak hal sekaligus. Ide datang terus, aktivitas bertambah, tapi energi…
Kram perut saat haid merupakan keluhan paling umum yang dirasakan wanita. Nyeri tersebut hanya ketidaknyamanan…
Dari multimedia hingga homeschooling, semua ilmu ternyata terpakai. Cerita tentang menjadi ibu, pendidik, dan pembelajar…
Menjadi ibu sering membuat kita lupa pada diri sendiri. Lewat menulis, berkesenian, olahraga, dan mendekat…
Bukan soal berapa banyak buku yang dibaca, tapi bagaimana membaca tetap hidup di tengah kesibukan…
This website uses cookies.