Ngomongin Pengalaman Berbahasa Seumur Hidup

You are currently viewing Ngomongin Pengalaman Berbahasa Seumur Hidup

Ngomongin Pengalaman Berbahasa Seumur Hidup – Tak disangka, pemilihan tema tantangan blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan September mengarah ke tema Bahasa. Memang, di bulan September ada Hari Aksara Internasional di tanggal 8 September. Hari besar itu diadakan untuk mengkampanyekan literasi. Kebetulan waktu tercetus tema ini, saya sedang mengajarkan si kecil membaca.

Awalnya, usulan tema tantangan itu ngeblog pakai bahasa Inggris. Menurut saya, itu bukan hal baru karena dulu pernah sok ngeblog pakai bahasa Inggris. Setelah melihat hangatnya pembicaraan si teteh-teteh Mamah Gajah tentang menggunakan berbagai bahasa dalam hidup mereka, terpilihlah tema ini. Tema tentang Pengalaman Berbahasa Seumur Hidup.

Rasanya bahasa yang saya pakai selama ini cukup STD alias standar. Seumur-umur, saya pakai bahasa Indonesia formal, sehari-hari, maupun bahasa anak muda (gue-elo). Kemudian, bahasa Inggris. Tapi saya juga kenal bahasa Ternate, bahasa dari darah asli saya walaupun saya lahir di Jakarta juga beberapa bahasa daerah yang berkaitan dengan lingkungan saya.

Ini dia pengalaman berbahasa saya:

Periode Bahasa Indonesia

Saya belajar alfabet ketika sebelum TK dan kemudian lebih lanjut di waktu SD. Saya cukup suka pelajaran Bahasa Indonesia, karena tidak perlu pakai rumus dan saya tak punya masalah dalam mengerjakan tugas mengarang. Saya juga suka mencatat, asal tidak berlembar-lembar.

Waktu masih SD hingga SMP, saya sempat buat cerita fiksi yang lalu saya print di printer jadul. Ini meniru kakak saya yang lebih dulu suka menulis cerita. Tentu pengalaman ini buat saya harus peka dengan penggunaan kata-kata baku bahasa Indonesia. Tentunya saya belum cek-cek KBBI karena waktu itu tidak punya dan belum ada akses internet.

Masuk SMP, mulailah menggunakan bahasa anak muda ‘gue-elo‘. Dan berbagai istilah anak muda waktu itu: tengsin, mokal, nembak (menyatakan perasaan), jijay (jijik) dan masih banyak lagi. Tentu ada sedikit terbawa pergaulan menggunakan istilah-istilah itu.

Bahasa anak muda Indonesia ini seiring waktu berubah-rubah, masuk SMA hingga bahkan sekarang masih saja sekali-kali pakai bahasa tersebut. Mungkin satu contoh kata seperti ngeceng (naksir dan sengaja mengamati taksiran), PDKT (Pendekatan Mulu Dapet Kagak) dan bete (kesal). Saya juga dapat istilah-istilah ini dari buku Lupus yang dulu saya pernah beli jaman SMA.

Kini, menjadi blogger lagi sejak 2020, saya sadar bahwa penggunaan bahasa Indonesia haruslah sesuai. Minimal dari blog sendiri. Melalui kelas online untuk blogger juga saya tersadar bahwa kita sebagai blogger harus memberantas minimnya literasi digital.

Periode Bahasa Inggris

Belajar Bahasa Inggris

Saya senang sekali belajar bahasa Inggris waktu kelas 5-6 SD. Cukup mudah mempelajarinya karena di rumah, orangtua maupun kakak-kakak suka memasang lagu berbahasa Inggris. Tentunya orangtua memasang lagu genre oldies dan kakak menyetel genre lagu antara Pop ’80-’90an maupun slow rock. Ternyata memang salah satu metode belajar Bahasa Inggris itu melalui lagu-lagu.

Ada masanya juga saya ikut les bahasa Inggris sama geng SMP. Waktu SMA ikut kursus bahasa Inggris LIA seperti sebagian anak SMA-ku juga dan masuk kelas Intermediate. Sama kayak mamah member MGN yang lucu ini. Tapi karena terlalu diseriuskan jadi agak tertekan belajar Bahasa Inggris, akhirnya saya tidak teruskan. Lagipula, sudah masuk kelas penjurusan di kelas 3 juga saya ambil kursus desain grafis waktu itu. Kalau tidak salah, waktu kuliah tingkat pertama di FSRD saya masuk kelas bahasa Inggris level Presentation.

Periode Praktek Bahasa Inggris

Bersahabat Pena

Saya pernah juga punya sahabat pena, ikut-ikutan kakak yang suka beli majalah impor. Di majalah itu, ada kolom khusus untuk yang mencari sahabat pena. Saya memilih 2-3 orang yang memasang di kolom itu dan mendapat 1 yang membalas.

Dia seorang perempuan yang tinggal di Amerika berusia 30an (saya masih SMA). Cukup lama mendapat balasan darinya hingga saya lupa dan malas menunggu, surat balasannya bisa datang 3-4 bulan kemudian. Kita sampai bertukar kartu pos dan foto. Cukup menyenangkan punya teman di belahan dunia lain (waktu itu ya belum ada internet).

Tapi sayangnya, kalau saya tidak salah analisa, sejak kejadian 9-11, si sahabat pena tidak pernah lagi membalas. Saya sih nggak mau berspekulasi apa-apa.

Ngeblog Bahasa Inggris

Saya cukup nekat ngeblog berbahasa Inggris. Sejujurnya, bahasa Inggris saya juga tidak sempurna. Bahkan beberapa blogger suka mengkoreksi saya. Iya, blogger luar negri. Duh ya, saya bermuka tebal aja. Dasar inceran saya selain melakukan kesenangan ngeblog waktu dulu cuma buat memasang Google Adsense. Entah kenapa saya merasa dengan blog bahasa Inggris, akan lebih mudah dapat klik. Dan ternyata melalui webinar-webinar blogging yang sempat saya ikuti, ini terkonfirmasi.

Saya bersyukur juga walau gitu-gitu aja bahasa Inggris saya, saya tetap bisa terhubung dengan banyak blogger luar negri dengan pemikiran dan value yang mirip. Pernah juga sampai kopdar dengan blogger film Indonesia, salah satunya yang lama tinggal di US. Pernah pula saling e-mail (udah bukan lagi ngomongin film dan blog) melainkan kehidupan sehari-hari.

Sebenarnya, interaksi dengan blogger luar ini yang paling berharga menurut saya di periode jadi movie blogger. Sepertinya saya harus berterima kasih dengan Bahasa Inggris.

Berinteraksi Dengan Suami

Sejak sebelum menikah dan baru dekat, saya dan suami suka spontan ngomong berbahasa Inggris di tengah-tengah obrolan. Bukan kebarat-baratan, tapi malah rasanya karena kedekatan kepribadian dan latar belakang yang mirip.

Setelah menikah, gaya ini masih sama dan kadang jadi pembicaraan agar anak tidak paham yang kami bicarakan. Tapi si kecil sedikit-sedikit sudah bisa paham, jadi suka gagal rahasia-rahasiaan.

Adakah yang sama?

Periode Bahasa Daerah: Ternate, Sunda, Jawa dan Betawi

Rasanya nggak mungkin saya tidak menyebutkan ada bahasa daerah yang singgah di kehidupan sehari-hari saya. Karena dasarnya pun saya pendatang di Jakarta. Keluarga Ibu dan Bapak saya menggunakan bahasa Ternate.

Salah satu budaya keluarga Ibu adalah senang menyanyi dan….. poco-poco (kalau di acara besar). Gaya bicara mereka lantang dan besar, intonasi bahasanya pun khas dan terdengar jenaka (eh tapi Ibu saya ngomongnya halus). Orang Ternate juga cenderung straightforward dan bicara apa adanya.

Waktu kuliah, saya berada di lingkungan yang kental bahasa Sunda. Walau, teman-teman seangkatan saya juga banyak yang dari Jakarta dan daerah lain. Tapi karena tinggal di Bandung dan kampus negri pula, nggak mungkin nggak tahu istilah-istilah bahasa Sunda. Bersyukur teman-teman ngerti juga saya nggak fasih bahasa Sunda.

Saya perhatikan, intonasi bahasa Sunda itu unik dan cenderung naik-turun. Gaya bahasanya dan karakter orangnya halus (kontras banget sama Ternate).

Kini menjadi admin MGN, saya kembali akrab menyebut kata ‘teteh’. Suka keterusan sama kontak perempuan lain, bukannya ‘Mbak’ malah ‘Teh’ menyapanya.

Lucunya, saya sering dikira dari Sunda atau Solo, karena gaya ngomong saya yang pelan dan halus. Biasanya orang tercengang kalau tahu saya asalnya darimana. Kecuali, satu Bapak pegawai negri yang bingung mencerna karakter wajah saya waktu saya mengurus SIM. Saya menduga si Bapak sering keliling Indonesia. Karena dia bisa bilang, “Bukan, kamu bukan Sunda dan bukan Jawa.” Diapun tak bisa menebak juga akhirnya.

Masuk dunia ngantor, ternyata saya malah sering bergaul di lingkungan karyawan berasal dari Jawa Timur. Oh my, ada masanya dimana mereka semua berbahasa Jawa dan saya cuma ngerti 5 persen yang mereka omongin. Ini sebenarnya buat nggak nyaman dan sejujurnya merasa nggak diturutsertakan dalam pembicaraan. Tapi periode itu tidak begitu lama, karena banyak karyawan dari berbagai asal bergabung.

Meski berbaur dengan lingkungan Sunda dan Jawa, dan juga Ternate, saya tidak biasa atau nggak bisa ngomong dengan bahasa-bahasa tersebut. Rasanya kaku dan kok ya tidak ada dorongan untuk itu? Bagi saya, Bahasa Indonesia adalah pokoknya.

Kini, saya punya suami yang akrab di lingkungan Betawi. You guess it, deh. Paksu ngobrol dengan teman-temannya dengan panggilan ‘Ente-Ane’. Sebenarnya bukan kali pertama, tapi ternyata jadi sudah biasa sehari-hari saya dengar. Bahasa Betawi juga sebenarnya tidak begitu beda dengan bahasa sehari-hari. Gaya mereka berkomunikasi juga cenderung mirip dengan Ternate, lugas dan lantang.

tantangan blogging mamah gajah ngeblog.jpg

Penutup

Begitulah warna-warni hidup saya dilihat dari penggunaan bahasa. Bahasa apapun yang kita pakai, yang penting efektif.

Jangan lupa juga dengan root kita, kemanapun kita berada. Bahasa Indonesia menurut saya cukup mudah diucapkan dan baca dibanding bahasa asing. Yuk kita budayakan memakai bahasa Indonesia yang benar.

Adakah yang mirip pengalaman berbahasanya dengan saya? Yuk, ditunggu komentarnya.

sunglow mama signature

Sunglow Mama

Seorang Ibu Rumah Tangga yang suka blogging dan berbagi tentang sisi kreatifnya. E-mail saya ke missdeenar@gmail.com untuk kerjasama

This Post Has 4 Comments

  1. Risna

    Wow pernah punya sahabat pena segala! Aku tuh dulu malas sahabat pena-an, merasa rugi bayar perangko hahahaha.. plus malas ke kantor pos juga sih. Aku juga ga bisa bahasa daerah, bahasa Indonesia adalah yang utama, hehehe…

  2. DIP

    Hehe bener ya sebenarnya frustasi ya kalau ada yang ngomong pakai bahasa yang nggak dimengerti orang lain kalau di tempat umum kayak di kantor gitu
    Tapi emang kalau ketemu orang sebangsa misalnya di gereja ya emang lebih gampang ngobrol pakai bahasa indonesia. Cepet. Hehe

  3. Ailyxandria

    Ah, aku pun sempet ngalin periode bersahabat pena. Jadi keinget dulu suka nunggu pak pos, hehehe…. Dna iya, lama ya balesannya, bisa semingguan. Hahaha… masa-masa belum ada email

  4. rijo

    orang tua ga membiasakan bicara bahasa Ternate ya di rumah?

Leave a Reply