Aplikasi Serba Bisa untuk Memudahkan Aktivitas Sehari-hari Manfaat – Kita hidup di masa yang cukup sibuk, fast-paced dan banjir informasi. Sulit untuk tidak menggunakan internet di masa kini, meski kita berusaha meminimalisir penggunaannya.
Dan, sudah maklum jika kita memiliki ponsel (mereka yang tidak punya ponsel mungkin harus jadi berpaling ke yang memiliki ponsel). Dengan berbagai aplikasi di dalamnya, kita pasti sudah punya beberapa aplikasi andalan.
Ternyata, beberapa aplikasi itu multifungsi. Mereka tidak hanya untuk dipakai sebagai satu tujuan, tapi ada berbagai manfaat. Buat kita, ibu-ibu yang suka multitasking, tentunya suka segala sesuatu yang praktis.
Bukankah praktis, satu aplikasi untuk berbagai kebutuhan? Kita pun tak perlu repot mempelajari aplikasi baru untuk satu fungsi saja. Nah ini dia aplikasi-aplikasi yang saya maksud (yang ditulis demi memenuhi Tantangan Blogging MGN Agustus 2026):
Dari sejak saya masih single (tapi sudah lulus kuliah), Pinterest selalu jadi source saya mencari inspirasi. You name it, untuk apa saja insya Allah ada.
Apakah untuk desain blog, sampul ebook, ide journaling atau project homeschooling. Bahkan dulu pernah cari tutorial hijab.
Format display-nya yang berupa kotak memanjang dalam beberapa kolom memudahkan kita melihat referensi dengan mudah. Jauh sebelum Instagram diramaikan konten, Pinterest sudah menyajikan banyak sumber inspirasi. Pinterest memiliki fitur Pin, yaitu menandai gambar yang kita inginkan ke berbagai kategori (board) yang kita sematkan. Dan board itu juga bisa di privat dan kolaborasi dengan user lain.
Kini, Pinterest juga tersedia untuk content creator lho. Kita sebagai blogger juga bisa menyisipkan konten sebagai salah satu sumber traffic ke blog kita.
Saya belum menemukan kekurangan Pinterest, kecuali kadang saya sedikit kecewa ketika menemukan referensi tapi tidak ada detail website atau informasi tertulis mengenai gambar tersebut. Jadi sangat mungkin seseorang cuma menandai gambar tapi tidak menyertai Pin-nya dengan informasi atau detil situs sumbernya.
Awalnya saya menggunakan Canva untuk membuat konten sosmed. Tapi hingga kini, penggunaan Canva jadi bercabang untuk berbagai fungsi.
Saya menggunakannya untuk desain praktis, e-certificate, badge digital, keperluan homeschooling anak dan sebagainya. Oh ya anak saya pun suka pakai kalau butuh untuk belajar dan buat keperluan animasi.
Canva juga selalu berinovasi sehingga kini jadi ada banyak sekali fitur. Aplikasi lain bahkan juga ikut gabung agar user bisa memakai aplikasi luar melalui Canva.
Oh ya, waktu itu sempat juga Canva membuka pendaftaran untuk Canva Creator (sebenarnya saya pun sudah termasuk) tapi sepertinya sudah tutup. Ini jadi peluang juga untuk menambah pemasukan.
Serunya lagi Canva bisa digunakan oleh berbagai user dalam bentuk team atau privasi yang kita set sendiri (bebas dibuka siapapun yang memiliki link-nya maupun khusus). Sehingga memudahkan dalam bekerja sama-sama dalam bentuk file sharing.
Kekurangan Canva adalah kalau koneksi internetnya jelek, maka loading file-nya juga lama dan file yang sudah berisi desain kadang hilang atau tidak lengkap. Display home halaman desain kita juga memang terpampang semua tapi jadi terlihat berantakan (mungkin karena tumplek semua desain digabung dalam satu halaman).
Google memiliki banyak produk digital. Nah salah satunya yang sering saya pakai adalah Keep. Keep adalah aplikasi pencatat segala hal, dari daftar, uraian sampai bisa orat-oret.
Jadi sebelum pakai Keep, saya suka pakai Evernote. Tapi kendalanya dengan Evernote adalah ia (waktu itu dan entah sekarang) tidak bisa dibuka di komputer. Keep, seperti halnya produk yang empunya, bisa dibuka di berbagai gadget dan juga komputer.
Saya sering menggunakan Keep untuk berbagai catatan digital. Misalnya daftar belanjaan, berbagai ide, inspirasi dan rencana-rencana. Bagusnya lagi, Keep bisa di-copy ke bentuk Docs, fitur Google yang lebih advance untuk menulis.
Keep memang ringan sebagai aplikasi. Tapi seringnya informasi yang baru saya tulis di gadget lain tidak langsung terlihat di komputer/ponsel.
Docs merupakan bentuk aplikasi untuk menulis yang lebih banyak fitur dan format dibanding Keep. Ia seperti Microsoft Word, tapi merupakan produk G. Sudah tentu media menulis bisa dipakai untuk berbagai kebutuhan.
Saya menggunakan Docs seringnya untuk menulis draf untuk tulisan blog. Dan berbagai kesempatan untuk kebutuhan belajar anak dan mengedit isi ebook komunitas. Karena ia berbentuk daring, jadi saya bisa menggunakannya dari ponsel maupun komputer.
Sekedar catatan, menulis draf di aplikasi seperti Docs lebih aman karena menghindari error dari aplikasi utama seperti WordPress. Juga sekaligus ada cadangan tulisan agar terhindar data tulisan hilang.
Yang saya suka juga dari Docs adalah ketika selesai menulis dengan kelengkapan formatnya, saya tinggal copy-paste ke WordPress tanpa ada format yang hilang sama sekali. Termasuk link yang hidup.
Satu hal yang saya tidak suka di Docs (dan mungkin juga Microsoft Word) adalah kakunya interface image yang diletakkan ke halaman. Jika kita perbesar gambar ke satu halaman tidak otomatis dan harus digeser hati-hati agar tidak menghilang.
Notion sebenarnya juga sebuah media catatan, namun lebih kompleks. Kita bisa membuat bundle catatan dengan berbagai format. Ia dikatakan sebagai aplikasi ruang kerja all-in-one yang bisa digunakan dalam berbagai kebutuhan, dari notes hingga database. Bisa untuk menuliskan to-do-list sampai bisa juga untuk back up tulisan-tulisan kita.
Saya pun sebenarnya masih kurang fasih menggunakan Notion, tapi ia sangat berguna untuk mengumpulkan berbagai catatan secara digital. Notion bahkan juga tersedia dalam bentuk kalender sehingga bisa sekalian menjadi planner. Dan ia juga bisa digunakan dengan bentuk tim.
Namun saya tidak terlalu betah memakai Notion, mungkin karena baru memakai di gadget dan bukan di komputer. Karena fiturnya yang sangat kaya dan fleksibel.
Meskipun ada beberapa hal yang saya tidak suka dari hadirnya aplikasi berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Tapi kita memang dapat menggunakannya untuk berbagai kebutuhan.
Untuk menggunakan AI memang ada seni tersendiri. Tapi kebenaran informasi dari aplikasi AI kadang memang harus dicek dua kali.
Suatu kali saya pernah mengandalkan aplikasi AI sebagai bahan belajar anak. Ternyata ada detail yang terlewat dan setelah ditelusuri informasi tersebut masih diperdebatkan kebenarannya. Setelah itu saya sudah nggak mau lagi terlalu count on aplikasi AI.
Namun bagi kita yang kekurangan waktu dan membutuhkan data cepat, menggunakan aplikasi AI bisa menjadi opsi instan. Saran saya sih, jangan terlalu mengandalkan aplikasi AI untuk semua elemen project yang kita kerjakan. Karena ia sendiri menjawab dengan bank data yang ia miliki dan belum tentu itu akurat.
Untuk membuatkan gambar, akan lebih orisinil jika menggunakan tangan. Lagi-lagi, jika butuh untuk kebutuhan cepat ya bisa dimaklumi. Tapi tentu saja nilainya berbeda.
Seringnya saya memakai aplikasi AI jika sedang mentok mencari ide, kebutuhan teknis blog dan informasi belajar anak (membuat worksheet dan juga cari ide belajar). Saya selalu menganggap AI sebagai tools dan bukan partner utama.
Dia memang selalu sigap menjawab dan bahkan sering ‘kelebihan’ memberikan jawaban. Tapi kita tidak perlu mengikuti semua yang ia sarankan. Jadi kita juga harus filter uraian dari si AI.
****
Itulah aplikasi-aplikasi dengan berbagai manfaat yang bisa kita coba (atau sudah coba?) dan pakai untuk mempermudah hidup. Tapi namanya juga produk buatan manusia, memiliki kekurangan pula. Yang perlu dicatat, hidup meminimalisir layar bukan berarti menutup penggunaannya dengan total. Tapi memaksimalkan yang sudah ada. Nah, mana dari aplikasi di atas yang sudah kamu pakai atau baru tahu?
Beberapa bulan lalu saya berkenalan dengan junk journaling dan sempat mengira hobi ini akan cukup…
Cara orang bepergian terus berubah seiring perkembangan teknologi, gaya hidup, dan kebutuhan. Jika lima tahun…
Merasa cepat lelah setelah bekerja seharian sering dianggap sebagai hal yang normal. Padahal, jika rasa…
Saya akhirnya menonton *Sore: Istri dari Masa Depan* untuk kedua kalinya sebelum menulis ulasan ini.…
Bermain clay atau tanah liat bisa menjadi analog hobby yang menyenangkan untuk mengurangi screen time.…
Saya membaca Digital Minimalism karena lelah dengan kebiasaan menatap layar tanpa sadar. Ternyata buku karya…
This website uses cookies.