Setelah Menonton Dua Kali, Ini Opini Saya tentang Film Sore: Istri dari Masa Depan (2025) – Saya telah menonton film Sore: Istri dari Masa Depan (2025) awal tahun 2026. Kala itu sih saya merasa ‘kok film ini seperti ini ya?.’
Tapi saya ragu untuk menuliskan pendapat saya. Khawatir saya cuma mau ‘membabat habis’ kurangnya film yang dipuji-puji banyak orang ini. Lagipula, kayanya udah banyak ya yang menonton dan mengulas film yang disutradarai Yandy Laurens ini?
Tapi beberapa hari lalu suami bertanya soal film ini. Ternyata dia mau menonton dan langsung saja saya minta ikut nonton untuk yang kedua kalinya. Saya pikir saya butuh nonton lagi untuk memastikan hal-hal yang menggantung di pikiran saya. Dan ternyata ini film yang cukup bagus untuk ditonton bersama suami. Juga, saya ingin membagikan pemikiran saya di blog.
Mungkin kamu satu dari orang-orang yang belum tahu plotnya. Baca dulu sinopsis film yang diadaptasi dari web series ini:
Seorang perempuan muda bernama Sore (Sheila Dara) somehow berada dalam lingkaran waktu yang terus berulang. Ia selalu terbangun di sisi suaminya di masa depan, Jonathan (Dion Wiyoko), di tempat tidur sebuah kamar di cottage daerah Zagreb, Kroasia. Sore memiliki misi agar Jonathan meninggalkan gaya hidupnya yang tidak sehat; merokok dan minum-minum.
Sosok Sore dari masa depan hadir di tengah-tengah kehidupan Jonathan yang tengah memiliki kekasih. Jonathan juga hendak mengumpulkan karya-karya fotonya untuk dipamerkan.
Namun berbagai usaha yang dilakukan Sore ternyata tidak berhasil. Sampai ia tersadar bahwa ada luka yang lebih dalam di Jonathan yang perlu disembuhkan. Sebuah fenomena cuaca aneh juga melanda kota yang mereka tempati.
Dari segi konsep time loop yang diambil Sore: Istri Masa Depan (SIMD) memang menarik. Saya belum pernah nonton film Indonesia yang menggunakan konsep ini. Alur cerita karakter yang terjebak di dalamnya dan berusaha mencari cara keluar memang bukan hal yang baru. Mungkin yang membuat adegan yang berulang-ulang ini tidak menjemukan adalah melihat Sheila Dara yang sangat total menjadi Sore.
Buat yang menonton SIMD di bioskop, menurut saya kamu beruntung! Visualnya cantik. Tidak cuma dari si aktris yang menang penghargaan di Festival Film Indonesia 2025 ini, tapi dari pemandangan dan penampakan alam yang mengagumkan. Karena Jonathan adalah seorang fotografer, maka banyak hasil fotonya menangkap keindahan alam. Psst, ternyata foto-foto Jonathan di film itu foto-foto jepretan Dion Wiyoko aslinya lho.
Belum lagi dari film scoring yang sangat mendukung. Nuansa orkestra sangat menyokong atmosfir dramatis dari perasaan Sore dan Jonathan. Tentu saja film editing-nya juga menantang, karena banyak adegan yang berulang. Tapi tentu alur cerita harus tetap harmonis dari awal sampai akhir.
Saya rasa pesan besar film ini bagus diserap perempuan-perempuan muda yang merasa ‘memiliki’ dan ‘menguasai’ pasangannya. Karena banyak wanita yang merasa ia bisa mengubah lelakinya. Ya, the big message is so good.
Film Sore: Istri dari Masa Depan (2025) kalah saing dari film Pangku (2025) sebagai film terbaik di Festival Film Indonesia. Menurut saya ini karena ada adegan-adegan dan background character yang kurang disematkan. Yakni ‘akarnya’ yaitu alasan mengapa Sore sangat susah payah membuat Jonathan berhenti merokok dan minum-minum.
Memang, Sore menyebutkan dalam dialog bahwa ia cuma ingin menikah sekali. Dan bahwa Jonathan pernah berjanji akan menjaganya. Tapi, menurut saya butuh sesuatu lagi yang membuat Sore begitu gigihnya.
Mungkin, ia melihat bapak dan ibunya yang langgeng menikah dan ingin mencontoh mereka. Mungkin, ia sosok perempuan yang perfeksionis dan berambisi. Atau, ia ngga punya siapa-siapa selain Jonathan di hidupnya. Ya, apapun itu yang membuat Sore rela berulang kali membujuk Jonathan mau stop bad habit-nya.
Meskipun Dion Wiyoko bisa menampakkan sosok lelaki yang ‘broken inside‘ (dan katanya ia memang memiliki pengalaman serupa seperti Jonathan). Tapi saya rasa penting di film menunjukkan Jonathan yang membuat Sore ‘klepek-klepek’.
Kenapa tidak ada adegan mereka bertemu pertama kali sebelum Sore ‘mampir’ ke masa lalu? Dan momen Sore bisa jatuh hati dengan Jonathan. Hal ini bisa membuat film semakin solid dan sebagai perbandingan dengan scene klimaksnya.
Saya pun kurang bisa mencerna hubungan fenomena alam yang ganjil dengan kondisi Sore yang melemah. Juga hubungan waktu yang terhenti di Antartika dan pengaruhnya pada time loop yang dialami Sore. Mungkin, memang ini bukanlah sesuatu yang harus dipetakan dalam logika.
Ah, sudahlah. Saya memang cuma bisa berkomentar. Tetap saja kok, film ini worth it ditonton. Untuk pecinta film maupun film romantis yang ditonton bersama pasangan.
****
Pada akhirnya, saya bisa paham kenapa banyak orang menyukai Sore: Istri dari Masa Depan. Film ini menawarkan visual indah, akting yang kuat, dan pesan yang cukup mengena tentang cinta, penerimaan, serta batas kemampuan kita untuk mengubah orang lain.
Meski masih ada beberapa bagian yang menurut saya kurang tergali dan membuat ceritanya terasa belum sepenuhnya utuh, pengalaman menontonnya tetap berkesan. Ini film yang menyenangkan untuk didiskusikan setelah kredit penutup selesai muncul, seperti film Jatuh Cinta Seperti di Film-Film, yang juga disutradarai Yandy Laurens.
Kalau kamu sudah menonton, saya kepo. Apakah kamu puas dengan penjelasan tentang time loop-nya, atau justru punya pertanyaan yang sama seperti saya? Yuk, bagikan pendapatmu di kolom komentar.
Beberapa bulan lalu saya berkenalan dengan junk journaling dan sempat mengira hobi ini akan cukup…
Cara orang bepergian terus berubah seiring perkembangan teknologi, gaya hidup, dan kebutuhan. Jika lima tahun…
Merasa cepat lelah setelah bekerja seharian sering dianggap sebagai hal yang normal. Padahal, jika rasa…
Bermain clay atau tanah liat bisa menjadi analog hobby yang menyenangkan untuk mengurangi screen time.…
Saya membaca Digital Minimalism karena lelah dengan kebiasaan menatap layar tanpa sadar. Ternyata buku karya…
Julie & Julia (2009) adalah film yang mendorong saya memulai blogging pada tahun 2009. Setelah…
This website uses cookies.