Categories: Pengalaman

Analog Log #1: Introducing, Crocheting, Buku Journaling dan Joki Buku

Analog Log #1: Introducing, Crocheting, Buku Journaling dan Joki Buku – Seperti yang saya sebutkan di tulisan What’s New on Sunglow Mama Blog sebelumnya, saya memberanikan diri mengubah niche blog sedikit ke gaya hidup analog. Godaannya sebenarnya cukup besar (untuk tergoda ke layar) dan saya berusaha untuk tidak tersedot ke dalamnya.

Untuk itu saya memulai seri blog baru yaitu Analog Log. Yaitu; 

“Catatan perjalanan menjalani lebih banyak kegiatan analog di tengah kehidupan yang serba digital. Dari journaling, membaca buku, membuat sesuatu dengan handmade, sampai mencoba mengurangi waktu di depan layar—di sini saya membagikan catatan eksperimen kecil, tantangan, kebiasaan yang berhasil maupun gagal, dan bagaimana rasanya kembali menikmati aktivitas yang berjalan lebih pelan.”

Untuk mengubah niche ke hidup analog bukan berarti saya anti teknologi ya. Saya masih butuh internet untuk hal-hal krusial. Misalnya seperti Sekolah Blended Learning, tetap saja butuh teknologi jika lebih efektif dan dibutuhkan. 

Sebenarnya seri ini lebih untuk menantang diri agar tidak terbawa gelombang lagi-lagi melihat layar. Namanya juga usaha ya. 

Lagipula, seri ini sudah terpikir sejak saya keidean mengubah niche blog ke gaya hidup analog. Kemungkinan saya akan menulis seri ini setiap bulan atau bisa lebih sering. Bismillah…

Nah, ini dia beberapa log pertama:

undefined

Mencoba Crocheting Lagi Sejak 10 Tahun Lalu

Terkadang saya melakukan hal yang spontan, atau yang sudah saya pikirkan sejak agak lama dengan spontan. Sejak saya ingin mengurangi me-time dengan internet, saya teringat pernah beli alat crocheting sejak masih hamil besar si kecil, alias 10 tahunan lalu. Saya berhasil membuat alas gelas…sedekade lalu. Habis itu saya nggak sempat membuat crochet lagi. Tapi sempat buat mainan stimulasi untuk si kecil secara do-it-yourself.

Crocheting adalah ‘hobi nenek-nenek’ yang cukup ideal untuk kita yang ingin mengurangi kegiatan memakai layar. Masalahnya saya nggak punya guru langsung yang bisa mengajari. Sehingga saya melihat tutorialnya di internet. 

Ya inilah yang saya maksud masih membutuhkan internet. Misalnya dalam mencari sumber belajar anak, saya masih suka mencari referensi di dunia maya. Dan seperti blog Home Education Center, sebagai Ibu saya suka mendapatkan berita pendidikan dan lainnya di internet.

Akhir minggu itu saya, seperti biasa, menghabiskan sebagian besar waktu membereskan rumah. Agak desperate karena butuh waktu sendiri tapi waktu senggang ngga banyak, tiba-tiba saya mengambil kotak berisi alat crochet dan benang rajut untuk memulai crocheting lagi. Saya memilih tutorial merajut alas gelas lagi yang berbentuk lingkaran.

Nah, tapi tentu saja sebagai newbie 10 tahun, nggak langsung bisa buat. Karena kemungkinan benang rajut saya tidak begitu solid sehingga agak sulit merajut setelah memulai tahap-tahap pertama. Jadi saya gagal membuat crochet-nya tapi semangat masih ada. Insya Allah saya mau mulai proyek lain yang lebih mudah.

Buku Jurnal Baru dan Acrylic Marker

Sebenarnya saya sudah punya beberapa buku jurnal. Tapi terkadang karena saya tipe yang masih coba-coba beberapa tipe journaling, 1 buku jadi campur-campur fungsinya. 1 buku jurnal pink agak mungil jadi tercampur jurnal menulis ulasan tontonan, jurnal sehari-hari dan juga junk journaling.

Akhirnya saya beli 1 buku jurnal agak tebal untuk menulis jurnal sehari-hari. Ada 1 buku jurnal terkecil yang saya punya sebelumnya yang belum diisi apa-apa. Saya galau soalnya isinya ingin mengisi log mengurus rumah atau log tentang menulis kegiatan ibadah. Dan akhirnya tidak diisi apa-apa, ironisnya.

Awal bulan lalu, saya ingin menghadiahi diri sendiri dan sekaligus mendukung gaya hidup analog. Saya putuskan membeli acrylic marker karena saya terinspirasi konten seorang pattern maker. Ia memperlihatkan satu buku yang isinya beragam pola dan motif yang ia ciptakan menggunakan spidol akrilik. Media akrilik memiliki keunggulan dari warna yang lebih solid dan tebal dibanding spidol dan media cat air sehingga saya tertarik.

Nah saya bukan pembuat pola, tapi saya suka aktivitas doodling dan membuat seni. Saya pikir spidol akrilik bisa saya gunakan untuk berkesenian dalam waktu pendek jika saya kepepet waktu. Bisa dikerjakan sambil ngemil bijak dan minum kopi.

Karena dobel keinginan ini, jurnal tebal tadi jadi sekaligus tempat saya menggambar dan mewarnai. Unik deh, satu buku jurnal untuk dua fungsi.

Oh ya, si kecil juga suka dengan acrylic marker yang saya beli. Saat libur belajar, ia mencoba mewarnai dan mengajak saya berkolaborasi. Cukup menyenangkan dan saya suka berkesenian bersama anak.

Kembali Baca Buku Komik Masa Kecil

Ini mungkin sedikit tidak wajar. Waktu saya ke rumah Ibu, saya menemukan komik-komik lama saya di rak buku. Karena saya lagi cari bacaan seru, saya putuskan untuk mengambil beberapa; 1 komik Popcorn dan 2 komik Little New York. 

Kalau diingat lagi, saya membeli buku-buku komik itu di pameran buku waktu masih single/belum menikah. Jadi bukan beli dari waktu terbit di toko buku seperti biasa. 

Awal bulan, saya beli 2 buku komik Popcorn bekas. Cuma karena penasaran lanjutannya, hahaha. Tapi seru sih. Saya jadi nostalgia jaman kecil, baca komik Popcorn milik kakak.

Keduanya sebenarnya topiknya agak dewasa, walau Popcorn tentang anak SMA (dan lebih berumur lagi sih sebenarnya) dan Little New York dikemas cerita lucu. Saya jadi tersadar bahwa mungkin sebaiknya mereka tidak dijual lepas ke anak-anak kecil.

Kesimpulannya, menyenangkan sekali baca buku masa kecil. Masih seru dan masih lumayan untuk menghabiskan waktu tanpa melihat layar.

Sedikit Terpaksa Baca Buku Versi Digital Barakah Effect

Target saya membaca buku tahun 2026 ini memang cukup tersendat. Selain pindahan, berbagai kesibukan dan tergoda layar lagi, saya terjebak alasan klise tidak melanjutkan baca buku. Yaitu isi yang menurut saya monoton dan cukup teknis.

Saya juga membandingkan buku Slow Productivity dengan konsep bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu dalam Islam. Saya juga mulai membaca buku Barakah Effect. Isinya sebenarnya agak mirip, tapi tentu saja Barakah Effect lebih kepada value dan spiritualitas.

Akhirnya saya agak malas melanjutkan baca buku Cal Newport itu karena sepertinya saya sudah mengerti esensinya. Tapi mungkin saya terlalu cepat menilai, karena baru setengah buku saya baca.

Buku Barakah Effect yang saya baca juga versi digital. Saya mencari-cari versi original-nya tapi cuma ada di toko buku impor (dan oh ya ada juga di toko buku khusus Islam) dan harganya hampir sejuta. Di toko buku Islam itu harganya tujuh ratus ribuan (tahun lalu kayanya masih tiga ratusan). Nah menariknya, ada yang jual di e-commerce tapi harganya sepersepuluh kurang dari harga toko buku impor. Saya bingung, jauh banget harganya.

Pengen juga punya gadget khusus baca buku seperti ini, belum pernah coba

Lalu, saya menemukan link buku digitalnya di Threads. Saya menelusuri situs penyedianya dan ia memang menyediakan buku-buku islami. Saya harap si penulis ridha bukunya tersedia gratis di situs itu.

Masalahnya sih bukan orisinalitas saja. Tapi karena belum ada juga versi terjemahannya dijual resmi di Indonesia (terakhir saya lihat di sosmed sedang dalam tahap produksi). Alhamdulillah, mungkin kalau ada rejekinya saya beli juga.

Saya memang penyuka buku fisik dibanding buku digital untuk dibaca. Saya tidak memiliki gawai khusus membaca buku. Meski saya tertarik punya tapi mungkin saya tetap lebih suka versi fisik. Karena terbukti, saya sering lupa buku digital itu ada di gadget yang saya pakai untuk baca.

Pagi ini dan kemarin saya berhasil mengabaikan godaan melihat layar dan malah membaca beberapa lembar buku tersebut. Memang kebiasaan saya tahun 2025 ini cukup membuat pagi saya terasa lebih ‘daging’.

Tentang Adanya Joki Buku, Serius??

Tidak cuma link buku digital yang saya temukan di Threads, tapi juga hadirnya profesi Joki Buku. Saya cukup takjub dengan adanya pekerjaan ini, karena tugasnya membaca buku demi flexing atau pamer si pemesan jasa.

Saya pikir cuma mereka yang suka berlari dan pamer sudah lari berapa kilometer yang pakai joki di masa sekarang. Kini, kita ada ‘pasar’ untuk pamer sudah baca buku. 

Ya ampun, ini tuh fail banget esensi baca bukunya. Buat apa??? Jadi beli buku untuk dikasih orang lain baca, untuk kemudian dipamerkan ke orang lain agar mereka melihat kita sudah baca. Are you serious??? Apa nggak mending uangnya untuk jajan atau beli sesuatu yang berguna, atau donasikan deh ke yang butuh.

In this economy, saya sih senang ada lowongan pekerjaan baru dan mungkin jadi lahan rejeki si pembaca buku. Tapi harus dipikirkan ulang dan ini agak miris sih sebenarnya. Mungkin ini juga perpanjangan dari fakta bahwa kemampuan literasi di Indonesia kurang? Sedih.

Review Tontonan di Jurnal VS Buku

Sudah beberapa kali saya mulai menulis ulasan mengenai tontonan yang saya lihat di jurnal. Sebelumnya saya sering mengulas tontonan baik film dan serial di blog. Tapi terkadang ada tontonan yang saya lebih suka ulas di jurnal. 

Efeknya tetap saja lebih plong, jadi kurang lebih mirip seperti di blog. Tapi saya nggak terlalu memperhatikan format paragraf di jurnal, karena menulis as I go. Saya bisa menambahkan elemen-elemen seperti stiker dan mungkin tiket nonton kalau ada.

Ternyata ada beberapa tontonan yang akhirnya saya tulis juga di blog. Misalnya film Sore: Istri Dari Masa Depan, karena kebetulan saya nonton dua kali. Menulis di blog pada akhirnya menutup segala hal yang saya ingin bahas mengenai tontonan terkait.

Sekarang saya masih memilih mengulas tontonan di jurnal kalau saya ngga merasa cocok dibagikan di blog. Atau tidak masuk ke niche-niche blog-blog yang saya punya.

*****

Menjalani gaya hidup analog tidak harus selalu berarti benar-benar jauh dari internet. Saya masih butuh internet untuk belajar hal baru seperti crocheting, mencari referensi, membaca, bahkan menemukan hal-hal yang kemudian membuat saya berpikir ulang tentang kebiasaan membaca.

Saya tahu bahwa yang saya cari bukan kehidupan tanpa layar, tetapi kehidupan yang tidak selalu berakhir di depan layar.

Untuk sekarang, saya cukup senang bisa kembali memegang benang rajut, mencoret-coret jurnal, membaca komik lama, dan menyelesaikan beberapa halaman buku tanpa tergoda membuka aplikasi lain.

Semoga Analog Log ini bisa menjadi pengingat kecil untuk saya sendiri: tidak perlu langsung sempurna. Yang penting, sesekali memilih kegiatan yang membuat tangan sibuk, kepala lebih tenang, dan waktu terasa benar-benar kita jalani.

Sampai ketemu di Analog Log berikutnya. Bismillah, semoga kali ini crochet-nya berhasil. 

Analog Log #1: Introducing, Crocheting, Buku Journaling dan Joki Buku – Seperti yang saya sebutkan di tulisan What’s New on Sunglow Mama Blog sebelumnya, saya memberanikan diri mengubah niche blog sedikit ke gaya hidup analog. Godaannya sebenarnya cukup besar (untuk tergoda ke layar) dan saya berusaha untuk tidak tersedot ke dalamnya.

Untuk itu saya memulai seri blog baru yaitu Analog Log. Yaitu; 

“Catatan perjalanan menjalani lebih banyak kegiatan analog di tengah kehidupan yang serba digital. Dari journaling, membaca buku, membuat sesuatu dengan handmade, sampai mencoba mengurangi waktu di depan layar—di sini saya membagikan catatan eksperimen kecil, tantangan, kebiasaan yang berhasil maupun gagal, dan bagaimana rasanya kembali menikmati aktivitas yang berjalan lebih pelan.”

Untuk mengubah niche ke hidup analog bukan berarti saya anti teknologi ya. Saya masih butuh internet untuk hal-hal krusial. Misalnya seperti Sekolah Blended Learning, tetap saja butuh teknologi jika lebih efektif dan dibutuhkan. 

Sebenarnya seri ini lebih untuk menantang diri agar tidak terbawa gelombang lagi-lagi melihat layar. Namanya juga usaha ya. 

Lagipula, seri ini sudah terpikir sejak saya keidean mengubah niche blog ke gaya hidup analog. Kemungkinan saya akan menulis seri ini setiap bulan atau bisa lebih sering. Bismillah…

Nah, ini dia beberapa log pertama:

undefined

Mencoba Crocheting Lagi Sejak 10 Tahun Lalu

Terkadang saya melakukan hal yang spontan, atau yang sudah saya pikirkan sejak agak lama dengan spontan. Sejak saya ingin mengurangi me-time dengan internet, saya teringat pernah beli alat crocheting sejak masih hamil besar si kecil, alias 10 tahunan lalu. Saya berhasil membuat alas gelas…sedekade lalu. Habis itu saya nggak sempat membuat crochet lagi. Tapi sempat buat mainan stimulasi untuk si kecil secara do-it-yourself.

Crocheting adalah ‘hobi nenek-nenek’ yang cukup ideal untuk kita yang ingin mengurangi kegiatan memakai layar. Masalahnya saya nggak punya guru langsung yang bisa mengajari. Sehingga saya melihat tutorialnya di internet. 

Ya inilah yang saya maksud masih membutuhkan internet. Misalnya dalam mencari sumber belajar anak, saya masih suka mencari referensi di dunia maya. Dan seperti blog Home Education Center, sebagai Ibu saya suka mendapatkan berita pendidikan dan lainnya di internet.

Akhir minggu itu saya, seperti biasa, menghabiskan sebagian besar waktu membereskan rumah. Agak desperate karena butuh waktu sendiri tapi waktu senggang ngga banyak, tiba-tiba saya mengambil kotak berisi alat crochet dan benang rajut untuk memulai crocheting lagi. Saya memilih tutorial merajut alas gelas lagi yang berbentuk lingkaran.

Nah, tapi tentu saja sebagai newbie 10 tahun, nggak langsung bisa buat. Karena kemungkinan benang rajut saya tidak begitu solid sehingga agak sulit merajut setelah memulai tahap-tahap pertama. Jadi saya gagal membuat crochet-nya tapi semangat masih ada. Insya Allah saya mau mulai proyek lain yang lebih mudah.

Buku Jurnal Baru dan Acrylic Marker

Sebenarnya saya sudah punya beberapa buku jurnal. Tapi terkadang karena saya tipe yang masih coba-coba beberapa tipe journaling, 1 buku jadi campur-campur fungsinya. 1 buku jurnal pink agak mungil jadi tercampur jurnal menulis ulasan tontonan, jurnal sehari-hari dan juga junk journaling.

Akhirnya saya beli 1 buku jurnal agak tebal untuk menulis jurnal sehari-hari. Ada 1 buku jurnal terkecil yang saya punya sebelumnya yang belum diisi apa-apa. Saya galau soalnya isinya ingin mengisi log mengurus rumah atau log tentang menulis kegiatan ibadah. Dan akhirnya tidak diisi apa-apa, ironisnya.

Awal bulan lalu, saya ingin menghadiahi diri sendiri dan sekaligus mendukung gaya hidup analog. Saya putuskan membeli acrylic marker karena saya terinspirasi konten seorang pattern maker. Ia memperlihatkan satu buku yang isinya beragam pola dan motif yang ia ciptakan menggunakan spidol akrilik. Media akrilik memiliki keunggulan dari warna yang lebih solid dan tebal dibanding spidol dan media cat air sehingga saya tertarik.

Nah saya bukan pembuat pola, tapi saya suka aktivitas doodling dan membuat seni. Saya pikir spidol akrilik bisa saya gunakan untuk berkesenian dalam waktu pendek jika saya kepepet waktu. Bisa dikerjakan sambil ngemil bijak dan minum kopi.

Karena dobel keinginan ini, jurnal tebal tadi jadi sekaligus tempat saya menggambar dan mewarnai. Unik deh, satu buku jurnal untuk dua fungsi.

Oh ya, si kecil juga suka dengan acrylic marker yang saya beli. Saat libur belajar, ia mencoba mewarnai dan mengajak saya berkolaborasi. Cukup menyenangkan dan saya suka berkesenian bersama anak.

Kembali Baca Buku Komik Masa Kecil

Ini mungkin sedikit tidak wajar. Waktu saya ke rumah Ibu, saya menemukan komik-komik lama saya di rak buku. Karena saya lagi cari bacaan seru, saya putuskan untuk mengambil beberapa; 1 komik Popcorn dan 2 komik Little New York. 

Kalau diingat lagi, saya membeli buku-buku komik itu di pameran buku waktu masih single/belum menikah. Jadi bukan beli dari waktu terbit di toko buku seperti biasa. 

Awal bulan, saya beli 2 buku komik Popcorn bekas. Cuma karena penasaran lanjutannya, hahaha. Tapi seru sih. Saya jadi nostalgia jaman kecil, baca komik Popcorn milik kakak.

Keduanya sebenarnya topiknya agak dewasa, walau Popcorn tentang anak SMA (dan lebih berumur lagi sih sebenarnya) dan Little New York dikemas cerita lucu. Saya jadi tersadar bahwa mungkin sebaiknya mereka tidak dijual lepas ke anak-anak kecil.

Kesimpulannya, menyenangkan sekali baca buku masa kecil. Masih seru dan masih lumayan untuk menghabiskan waktu tanpa melihat layar.

Sedikit Terpaksa Baca Buku Versi Digital Barakah Effect

Target saya membaca buku tahun 2026 ini memang cukup tersendat. Selain pindahan, berbagai kesibukan dan tergoda layar lagi, saya terjebak alasan klise tidak melanjutkan baca buku. Yaitu isi yang menurut saya monoton dan cukup teknis.

Saya juga membandingkan buku Slow Productivity dengan konsep bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu dalam Islam. Saya juga mulai membaca buku Barakah Effect. Isinya sebenarnya agak mirip, tapi tentu saja Barakah Effect lebih kepada value dan spiritualitas.

Akhirnya saya agak malas melanjutkan baca buku Cal Newport itu karena sepertinya saya sudah mengerti esensinya. Tapi mungkin saya terlalu cepat menilai, karena baru setengah buku saya baca.

Buku Barakah Effect yang saya baca juga versi digital. Saya mencari-cari versi original-nya tapi cuma ada di toko buku impor (dan oh ya ada juga di toko buku khusus Islam) dan harganya hampir sejuta. Di toko buku Islam itu harganya tujuh ratus ribuan (tahun lalu kayanya masih tiga ratusan). Nah menariknya, ada yang jual di e-commerce tapi harganya sepersepuluh kurang dari harga toko buku impor. Saya bingung, jauh banget harganya.

Pengen juga punya gadget khusus baca buku seperti ini, belum pernah coba

Lalu, saya menemukan link buku digitalnya di Threads. Saya menelusuri situs penyedianya dan ia memang menyediakan buku-buku islami. Saya harap si penulis ridha bukunya tersedia gratis di situs itu.

Masalahnya sih bukan orisinalitas saja. Tapi karena belum ada juga versi terjemahannya dijual resmi di Indonesia (terakhir saya lihat di sosmed sedang dalam tahap produksi). Alhamdulillah, mungkin kalau ada rejekinya saya beli juga.

Saya memang penyuka buku fisik dibanding buku digital untuk dibaca. Saya tidak memiliki gawai khusus membaca buku. Meski saya tertarik punya tapi mungkin saya tetap lebih suka versi fisik. Karena terbukti, saya sering lupa buku digital itu ada di gadget yang saya pakai untuk baca.

Pagi ini dan kemarin saya berhasil mengabaikan godaan melihat layar dan malah membaca beberapa lembar buku tersebut. Memang kebiasaan saya tahun 2025 ini cukup membuat pagi saya terasa lebih ‘daging’.

Tentang Adanya Joki Buku, Serius??

Tidak cuma link buku digital yang saya temukan di Threads, tapi juga hadirnya profesi Joki Buku. Saya cukup takjub dengan adanya pekerjaan ini, karena tugasnya membaca buku demi flexing atau pamer si pemesan jasa.

Saya pikir cuma mereka yang suka berlari dan pamer sudah lari berapa kilometer yang pakai joki di masa sekarang. Kini, kita ada ‘pasar’ untuk pamer sudah baca buku. 

Ya ampun, ini tuh fail banget esensi baca bukunya. Buat apa??? Jadi beli buku untuk dikasih orang lain baca, untuk kemudian dipamerkan ke orang lain agar mereka melihat kita sudah baca. Are you serious??? Apa nggak mending uangnya untuk jajan atau beli sesuatu yang berguna, atau donasikan deh ke yang butuh.

In this economy, saya sih senang ada lowongan pekerjaan baru dan mungkin jadi lahan rejeki si pembaca buku. Tapi harus dipikirkan ulang dan ini agak miris sih sebenarnya. Mungkin ini juga perpanjangan dari fakta bahwa kemampuan literasi di Indonesia kurang? Sedih.

Review Tontonan di Jurnal VS Buku

Sudah beberapa kali saya mulai menulis ulasan mengenai tontonan yang saya lihat di jurnal. Sebelumnya saya sering mengulas tontonan baik film dan serial di blog. Tapi terkadang ada tontonan yang saya lebih suka ulas di jurnal. 

Efeknya tetap saja lebih plong, jadi kurang lebih mirip seperti di blog. Tapi saya nggak terlalu memperhatikan format paragraf di jurnal, karena menulis as I go. Saya bisa menambahkan elemen-elemen seperti stiker dan mungkin tiket nonton kalau ada.

Ternyata ada beberapa tontonan yang akhirnya saya tulis juga di blog. Misalnya film Sore: Istri Dari Masa Depan, karena kebetulan saya nonton dua kali. Menulis di blog pada akhirnya menutup segala hal yang saya ingin bahas mengenai tontonan terkait.

Sekarang saya masih memilih mengulas tontonan di jurnal kalau saya ngga merasa cocok dibagikan di blog. Atau tidak masuk ke niche-niche blog-blog yang saya punya.

*****

Menjalani gaya hidup analog tidak harus selalu berarti benar-benar jauh dari internet. Saya masih butuh internet untuk belajar hal baru seperti crocheting, mencari referensi, membaca, bahkan menemukan hal-hal yang kemudian membuat saya berpikir ulang tentang kebiasaan membaca.

Saya tahu bahwa yang saya cari bukan kehidupan tanpa layar, tetapi kehidupan yang tidak selalu berakhir di depan layar.

Untuk sekarang, saya cukup senang bisa kembali memegang benang rajut, mencoret-coret jurnal, membaca komik lama, dan menyelesaikan beberapa halaman buku tanpa tergoda membuka aplikasi lain.

Semoga Analog Log ini bisa menjadi pengingat kecil untuk saya sendiri: tidak perlu langsung sempurna. Yang penting, sesekali memilih kegiatan yang membuat tangan sibuk, kepala lebih tenang, dan waktu terasa benar-benar kita jalani.

Sampai ketemu di Analog Log berikutnya. Bismillah, semoga kali ini crochet-nya berhasil. 

Sunglow Mama

Seorang Ibu Rumah Tangga yang suka blogging dan berbagi tentang sisi kreatifnya. E-mail saya ke missdeenar@gmail.com untuk kerjasama

Recent Posts

Ide Bisnis Sampingan Rumahan yang Lagi Hits, Modal Kecil Untung Besar

Cari penghasilan tambahan tanpa harus keluar rumah? Kabar baiknya, di tahun 2026 ini peluang usaha…

1 week ago

7 Ide Proyek DIY di Rumah yang Bisa Dimulai dengan 3D Printer Entry-Level

Memiliki 3D printer di rumah tidak selalu berarti harus langsung membuat benda yang rumit. Justru,…

1 week ago

What’s New on Sunglow Mama: New Look on The Blog, Ebook MGN 2026 dan Analog Lifestyle Challenge

Kali ini ada info terbaru tentang blog Sunglow Mama, ebook MGN 2026, hidup analog dan…

3 weeks ago

Aplikasi Serba Bisa untuk Memudahkan Aktivitas Sehari-hari

Kita memang sulit sepenuhnya lepas dari internet, tetapi bukan berarti harus memenuhi ponsel dengan banyak…

2 months ago

Junk Journaling: Hobi Kreatif dari Barang Bekas untuk Me-Time

Beberapa bulan lalu saya berkenalan dengan junk journaling dan sempat mengira hobi ini akan cukup…

2 months ago

8 Kebiasaan Traveler Modern yang Berbeda Jauh Dibanding Lima Tahun Lalu

Cara orang bepergian terus berubah seiring perkembangan teknologi, gaya hidup, dan kebutuhan. Jika lima tahun…

2 months ago

This website uses cookies.