Digital Minimalism: Buku yang Perlahan Mengubah Kebiasaan Saya Menatap Layar

review-digital-minimalism.jpg

Digital Minimalism: Buku yang Perlahan Mengubah Kebiasaan Saya Menatap Layar – Kepo dan lelah dengan kebiasaan menatap layar. Sepertinya itu yang buat saya tergerak membeli buku Digital Minimalism tahun 2025. 

Padahal, buku itu dirilis tahun 2019. Friendster dan Facebook sudah lahir, juga film Social Network. Bahkan Tiktok rasanya belum ada. Tapi buku Cal Newport ini cukup mempengaruhi saya. Yah mungkin kamu sudah menduga kalau sudah sempat baca di tulisan-tulisan saya sebelumnya.

Tapi disinilah saya, ingin mengulas buku non fiksi ini dengan harapan saya kembali punya keinginan kuat untuk menghabiskan waktu tanpa layar. Ya, periode saya mencari-cari informasi sebenarnya sudah usai dan saya ngga perlu lagi harus membuka sosmed. Mungkin dengan mengulas buku ini bisa membuat saya teringat motivasi mengurangi penggunaan layar.

Alasan Membaca Buku Digital Minimalism

Sepertinya tak perlu ditanya lagi kenapa kita ingin mengurangi penggunaan layar. Membuka handphone dan sosmed bisa membuat lupa waktu, jadwal terganggu dan bisa membuat kesehatan mental terganggu.

Bukankah seorang Ibu harusnya menjadi contoh anak-anaknya, tapi apakah kita justru yang mencontohkan mereka jadi kecanduan gawai? Di bawah sadar kita, kita tahu bahwa menggunakan layar bukanlah hobby atau kebiasaan yang positif. Tapi tetap saja, kok ya lagi-lagi memegang HP dan scrolling.

Walau ya, kita bisa mendapatkan informasi dengan cepat. Entah info sekolah, cara membersihkan rumah dan juga gaya parenting. Tapi apa sepadan menghabiskan waktu dengan orang terdekat jadi terganggu karena kebiasaan ini?

Katanya, semua itu karena efek dopamin yang didapat karena scrolling tanpa henti, mendapatkan likes dan notifikasi, memicu perasaan adiksi instan. Inipun kita pastinya sudah tahu. Tapi bagaimana menghentikannya?

Alhamdulillah, mengobrol di grup chat dengan Mamah Gajah Ngeblog membuat saya mendapatkan rekomendasi buku Digital Minimalism. Lalu, kekepoan saya ‘bertemu’ dengan komitmen kembali membaca buku. Dan hingga ini saya menganggap keputusan impuls membelinya adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya ambil.

Tentang Buku Digital Minimalism

Buku Digital Minimalism ditulis oleh Cal Newport, seorang penulis dan professor komputer sains. Ia juga memiliki blog bernama Study Hacks. Ia juga menulis buku Deep Work dan Slow Productivity. Fokusnya adalah manajemen perhatian dan konsentrasi manusia. Sebelumnya sih saya ngga pernah baca buku Newport dan kini sedang baca Slow Productivity.

Sepertinya target pembaca buku Cal Newport untuk judul ini adalah kita yang ‘kelelahan’ karena kecanduan layar dan bingung bagaimana menghentikan adiksi ini. Cal mengerti kenapa industri media sosial terjadi, mengapa kecanduan ini terjadi dan kebutuhan manajemen otak manusia normal.

Tema utama buku ini seperti titelnya, bagaimana kita tetap fokus di dunia yang ‘bising’. ‘Bising’ oleh banyaknya informasi, konten dan perhatian. Karena fokus kita mahal, apalagi ibu-ibu yang punya tanggung jawab besar. Ia mengajak kita untuk lebih mindful dalam menggunakan internet.

Tapi Cal juga mengerti bidang pekerjaan dan fokus kita yang mungkin terkait dengan layar. Sehingga tidak mungkin benar-benar lepas dari penggunaannya. Di buku ini ia memberikan strategi mengurangi penggunaannya pula.

Yang Terkenang dari Buku Digital Minimalism

Detoks Layar 30 Hari

Hal paling membekas yang saya dapat setelah baca buku ini adalah ‘tugas’ detoks layar selama 30 hari. Cal Newport menyarankan agar kita benar-benar bisa lepas dari kecanduan layar, adalah ‘membersihkan’ habit kita dari kegandrungan ini dan pemakaiannya selama hampir sebulan. 

Dengan begitu, usai 30 hari kita bisa memakai layar dengan tujuan yang benar-benar kita butuhkan. Bukan dalam kapasitas berlebihan.

Tugas ini buat saya agak nervous sih tapi saya sempat melakukannya akhir Ramadan 2026 lalu. Alhamdulillah, cukup memberikan pikiran lebih banyak ruang.

Bercakap-cakap Langsung Dibanding Melalui Interaksi Berkualitas Rendah

Kita sebaiknya membiasakan berinteraksi langsung dibanding melalui layar. Misalnya, dibanding chat ia menganjurkan menelpon seseorang langsung. Ia menyarankan hal ini agar terjadi interaksi yang lebih tulus.

Lalu daripada berkumpul-kumpul mengobrol di grup chat, lebih baik berada di komunitas offline. Alias berinteraksi bertemu secara fisik langsung. 

Ini sempat buat saya pengen buat komunitas lagi nih. Tapi yah ternyata tidak sesederhana yang terlihat. 

Kesendirian yang ‘Dirampas’

Cal Newport juga membeberkan pemakaian layar telah ‘merampas’ waktu kesendirian kita. Sebagai seseorang yang memiliki sebagian karakter introvert, bab ini memiliki makna tersendiri. 

Waktu-waktu saya terdiam dan memproses juga merunut kejadian-kejadian di kepala saya, mungkin telah banyak ‘diambil’ karena ‘terpukau’ menatap layar. Newport mengambil contoh beberapa tokoh besar telah dengan sengaja mencari waktu sendiri demi merenung dan mengambil keputusan-keputusan besar demi banyak orang.

Bagi beberapa orang, waktu sendiri mungkin kurang ‘produktif’ atau tidak penting. Tapi ternyata justru sebaliknya. Waktu sendiri punya makna besar karena bisa menentukan langkah-langkah ke depan di hidup kita.

Pemakaian Layar yang Selektif & Hobby yang Berkualitas

‘Terbuai’ dengan konten-konten menarik di internet membuat waktu kita tak terasa terpakai. Namun kita bisa menyeleksi pemakaian layar yang benar-benar berguna untuk kita, daripada memakai waktu berjam-jam untuk sesuatu yang sebenarnya kurang berkualitas. 

Tanpa sadar kita telah menukar waktu kita dengan memakai layar daripada bercakap dengan orang untuk mendapat interaksi yang berkualitas dan kemungkinan melakukan hobby yang lebih bermakna. Kaum Amish dan orang-orang dengan finansial independen yang disebut di buku memberikan contoh yang relevan, walau tentu saja gaya hidup dan value kita mungkin berbeda jauh.

Kerajinan Tangan Adalah Bentuk Menghabiskan Waktu yang Berkualitas

Ada satu bab yang ternyata bermakna setelah saya baca ulang bab ini, adalah bab mengenai kerajinan tangan. Disitu disebutkan bahwa kerajinan tangan adalah bentuk waktu bersantai yang memiliki ‘kedalaman’.

Ini kata-kata kutipannya:

“Kerajinan tangan memanusiakan kita, dan darinya kita merasakan kepuasan mendalam yang sulit direplikasi dalam (jika boleh dikatakan) kegiatan-kegiatan yang tidak begitu praktis.”

Wah kalau begitu, saya yang lagi ingin lebih banyak melakukan kegiatan analog dan suka berkesenian, is heading to the right direction nih.

Hal-hal yang Agak Tidak Selaras dari Buku Digital Minimalism

Memang ada banyak sekali hal yang relevan dari buku yang bisa jadi ‘kitab untuk kaum minimalis digital’ ini, tapi ada juga hal-hal yang agak tidak sinkron dengan kenyataan maupun kehidupan di tahun 2026.

Misalnya saya memakai layar juga untuk transaksi pembayaran kebutuhan rumah dan belajar anak (karena tidak selalu bisa keluar rumah), dokumentasi belajar anak dan kebutuhan informasi pekerjaan. Juga kontak dengan keluarga.Begitu pula dengan komunitas offline, karena tak semua orang bisa mudah keluar rumah atau mengunjungi tempat di luar. 

Lalu, anjuran menghabiskan waktu dengan hobi yang lebih berkualitas atau bermakna ini dicontohkan oleh orang-orang dengan finansial independen di buku. Bagaimanakah dengan orang-orang yang belum mencapai finansial independen? Tentunya dalam tidak seleluasa mereka yang tidak lagi memikirkan pendapatan.

Perubahan Setelah Membaca Digital Minimalism

Ada banyak perubahan yang saya rasakan setelah baca buku ini. Tentunya saya berusaha lebih mindful dalam menggunakan layar. Mungkin karena kebetulan dalam beberapa kejadian dalam sepanjang tahun ini saya diberi ‘keuntungan’ berganti ponsel lain, sehingga ada sedikit jeda atau interupsi dalam menggunakan layar. Kesempatan itu saya gunakan untuk dengan sengaja mematikan notifikasi sosmed.

Bahkan saya sempat kepikiran mau ganti ke dumb phone. Tapi ternyata saya nggak sampai ke arah situ. 

Diantaranya perubahan positif yang lain adalah lebih mendalami hobby analog lain. Seperti menulis jurnal yang berbeda, terkoneksi dengan sisi berkesenian dan berusaha lebih giat membaca buku. Bahkan membuat produk digital seperti Mentari Journal, dengan harapan ibu-ibu sibuk bisa terbantu menulis jurnal dalam waktu beberapa menit saja. 

Sepertinya memang buku Digital Minimalism sebegitu berpengaruhnya ke saya, hingga berangsur-angsur saya berusaha mengubah kecanduan layar saya ke gaya hidup analog. 

Sempat terbersit mau menulis pakai mesin tik saja, bisa nggak ya?

Pelajaran dari Buku Digital Minimalism

Ada banyak yang saya pelajari dari buku ke 3 dari Cal Newport ini. Seperti yang mungkin telah saya sebutkan sebelumnya, agar lebih sadar dalam penggunaan layar dan lebih memilih mengerjakan kesenangan yang bermakna dan berkualitas. Yang mencengangkan adalah bagaimana sistem media sosial ternyata sengaja didesain agar kita kecanduan. Mirisnya adalah bukan cuma kita yang jadi korban, tapi juga anak-anak kita.

Seperti juga saya yang kangen masa 90an, karena buku ini saya kembali ingin mengerjakan hobby dengan keterampilan tangan. Misalnya merajut, melukis dan menulis jurnal. Bahkan saya pun ingin bisa berkebun.

Ketika saya ingin menulis tapi saya nggak ingin menatap layar, kini saya bisa memilih menulis di jurnal. Ketika saya ingin kreatif, tinggal melukis atau art journaling. Maunya sih ketika ingin mengobrol, lebih baik bercakap-cakap langsung dengan orang yang dekat dengan kita.

Bab yang menyebutkan mengerjakan aktivitas yang lebih bermakna dan berkegiatan dengan orang terdekat, saya praktekkan sebenarnya sejak dulu. Misalnya bermain permainan kartu dengan anak dan jenis permainan lainnya. Atau baru-baru ini, membersihkan rumah bersama.

****

Sebagai pengguna media sosial dan ibu rumah tangga, saya ingin siapa saja yang sadar akan bahaya dengan candu layar untuk membaca buku ini. Karena mungkin akan susah merekomendasikan pada orang-orang yang tidak keberatan waktunya dibajak oleh medsos.

Tentu saja, mungkin book review Digital Minimalism ini nggak akan membuat orang-orang yang senang kepraktisan akan juga mau berubah. Minimal ada sedikit pemantik agar kita bisa lebih bijak menggunakan waktu. Apalagi orangtua yang butuh quality time dengan anak-anaknya. 

Buku Digital Minimalism tidak membuat saya langsung lepas dari layar. Nyatanya, saya masih bekerja, belajar, dan berkarya menggunakan internet. Namun buku ini memberi saya satu kebiasaan baru, yaitu mengambil jeda dalam beberapa waktu sebelum menjelajahi internet. Barangkali bukan soal mengurangi teknologi, tetapi mengembalikan perhatian kita kepada orang, hobi, dan momen yang memang layak mendapatkan waktu kita.

Bagaimana menurutmu tentang kaum minimalis digital? Atau isi pesan buku ini?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Scroll to Top