Inspirasi & Refleksi dari Film Julie & Julia (2009)

film julie and julia (2009)

Inspirasi & Refleksi dari Film Julie & Julia (2009) – Film Julie & Julia (2009) adalah salah satu film yang personal untuk saya. Film ini adalah satu film yang mendorong saya untuk memulai blogging tahun 2009, memotivasi untuk membuat blog dan memutuskan untuk menulis mengenai film.

Mungkin kalau saya ngga nonton film ini (dan beberapa film lain yang menginspirasi), saya masih jadi karyawan yang clueless arahnya. Ya, mungkin malah mengulik kegemaran lain.

Sebenarnya saya sudah nonton ulang beberapa kali. Tahun 2025 lalu saya terpikir untuk menonton demi merayakan hari blogging nasional. Tapi niat itu cuma di kepala karena satu dan lain hal. Mungkin karena sudah lama juga saya ngga menulis mengenai blogging dan mengulas film hingga akhirnya saya putuskan untuk menontonnya baru-baru ini.

Sinopsis Film Julie & Julia (2009)

Film ini menceritakan dua kisah nyata; kisah Julia Child (Meryl Streep), penulis buku masakan Perancis terkenal dan kisah Julie Powell (Amy Adams), seorang blogger yang juga penulis yang terinspirasi buku masakan Julia Child. Dua kisah ini berjalan beriringan dalam plot film, dari awal mereka memulai jalan mereka hingga akhir dimana mereka menemukan takdir hasil kerja keras mereka.

Julia Child menemukan kesenangan dalam memasak di Perancis dan belajar masak dengan para ahli. Ia berniat mau menjadi guru sampai ia bertemu dengan dua perempuan lain yang mengajaknya membuat buku masak bersama. Dalam prosesnya, Julia dan rekan-rekannya banyak menemukan ‘benturan’ untuk menerbitkan buku mereka.

Sementara Julie Powell adalah perempuan yang bekerja di call center yang menemukan kesenangan dalam menulis blog. Ia memutuskan untuk mencoba semua masakan dalam buku French Cooking Julia Child dalam setahun dan membagikan pengalamannya di blog.

Ternyata blog tersebut menjadi populer. Tapi Julie akhirnya terlalu sibuk dengan blognya hingga mengorbankan waktunya dengan orang terdekat.

Keduanya menemukan dunia passion mereka dengan support suami. Dari cerita keduanya kita melihat perjuangan wanita-wanita ini dalam menggapai mimpi, walau menerima banyak rintangan.

Kesan dari Menonton Film Julie & Julia di Usia 40an

Seperti halnya pertama kali saya menonton, film Julie & Julia (2009) masih inspiratif dan membuat hati ‘hangat’. Saya berusia 26 tahun ketika nonton perdana film ini dan kini usia saya sudah 40an. Ternyata kini ada perbedaan dalam saya memandang film ini.

Julie Powell, Karyawati yang Berhasil Sukses dari Blognya

Dulu saya sangat terkoneksi dengan Julie Powell, karena kami berdua waktu itu adalah wanita kantoran yang butuh menyalurkan keinginan menulis dan berekspresi. Kisah Julie Powell terasa sangat relatable karena ia sempat merasa ‘tertahan’ dalam kehidupannya. Dan juga merasa ‘mundur’ dibanding teman-teman sebayanya yang sukses di usia 30 tahun. 

Bagi saya Julie sangat keren karena membuat jalannya sendiri ke mimpinya dengan menulis blog. Ia tahu kekurangannya dalam mandeg menuntaskan proyek dan maka itu ia menetapkan deadline sendiri lalu berkomitmen menyelesaikannya. 

Hal ini membuat saya agak rindu dengan menjalankan blog series.Walau saya setuju dengan Ibu Julie yang berpendapat tantangan memasak/menulis blog dalam setahun bisa membebankan diri sendiri, tapi drive dan passion besarnya itu ngangenin. Memang dalam berkomitmen menjalankan sesuatu di luar tanggung jawab utama, kita harus bijaksana mengelola energi diri.

Pelajaran ini juga berhubungan dalam perjalanan parenting, ketika ibu berusaha tetap memiliki ruang berkarya tanpa kehilangan momen dengan keluarga.

Sementara itu, dalam kenyataannya tidak semua blogger berhasil sukses dari blognya. Bahkan banyak yang bingung kenapa blognya jarang dikunjungi orang. Maka dari itu kisah Julie Powell bisa membuat kita termotivasi membuat blog dan memberikan harapan.

Entahlah apa yang membuat blog Powell populer. Mungkin kepopuleran topik buku Julia Child, kejujurannya menulis dan mungkin ia mempraktekkan ilmu Search Engine Optimization (SEO) sadar maupun tidak sadar? Blognya dibuat di situs sal*n.com yang mungkin mirip-mirip seperti K*mpasiana ya? Jadi ada tim yang menghimpun tulisan blog yang banyak dibaca.

Satu hal lain yang buat saya tambah terkoneksi dengan Julie adalah sosok suami yang merasa ‘tersisih’ karena istrinya ‘tenggelam’ dalam ngeblog. Beberapa tahun lalu inilah yang sempat terjadi pada saya. Maka itu, ngeblog memang bisa sangat seru. Tapi jangan lupa kewajiban kita dan hadir untuk keluarga!

Oh ya, saya sempat mencari-cari buku Julie Powell yang diadaptasikan jadi film ini. Tapi baca-baca ulasannya, sepertinya kurang worth it. Walau begitu, film dan kisah aslinya tetap oke.

Julia Child, Wanita Usia 40an yang Semangat Mengejar Mimpi

Meryl Streep dan Stanley Tucci sebagai Julia Child dan suaminya di Julie & Julia (2009), mendokumentasikan kegiatan Child untuk buku masakannya – (Saya pernah pakai kamera analog yang dipakai di adegan ini)

Sementara dalam kisah Julia Child, saya bisa mengerti perasaannya sebagai ibu rumah tangga dalam mencari-cari dunia yang ia sukai disamping membersamai suaminya. Karena pekerjaan suaminya yang menuntut pindah negara setiap beberapa tahun, mungkin bisa membuat seseorang kesepian.

Sifat ceria Julia dan kehangatannya yang diperlihatkan Meryl Streep dalam aktingnya menyenangkan dilihat. Juga kegigihan dan sifat cueknya dalam mengikuti mimpinya. Saya rasa tidak semua perempuan punya kegigihan yang sama jaman dulu. Kalau boleh dibilang, diluar mental kuatnya Child mungkin juga disokong kuat oleh suami lahir dan batin.

Julia Child terlihat lebih matang dan berpikir lebih dingin dalam menjalankan hidupnya dibanding Powell, mungkin karena perbedaan umurnya. Strateginya dalam berbisnis dan negosiasi juga cukup baik.

Menurut saya kenapa Julia Child dikatakan tidak menyukai blog dan tulisan Julie Powell, mungkin karena kejujuran Powell dalam menulis dan menceritakan kesusahannya dalam memasak resep Child. Padahal, memang blog adalah bentuk tulisan yang bisa terlihat lebih rapuh dan ‘apa adanya’ dibanding buku atau media lain. Isi blog memang tergantung blogger dan tidak seharusnya ‘dipimpin’ orang lain.

Oh ya, saya juga suka kisah persahabatan wanita di cerita Julia Child. Julia punya teman kompak yang menawarkannya menulis buku masakan dan sahabat pena bertahun-tahun yang terbukti menjadi salah satu jalan mencapai mimpinya. Bukti kalau pertemanan wanita usia 40an bisa sangat kuat.

****

Blogging memang bisa jadi ‘jembatan’ ke mimpi kita. Bahkan di tengah rutinitas dan perjalanan sebagai bunda belajar, blog bisa jadi ruang untuk belajar, berbagi pengalaman, dan berkembang tanpa harus kehilangan jati diri.

Julie Powell akhirnya bisa jadi penulis, setelah sebelumnya sempat merasa ‘tersesat’. Beberapa teman blogger film saya dulu misalnya, akhirnya menciptakan film sendiri. Tetap saja, blogging harus tetap terasa fun dan bukan beban!

Mungkin setelah nonton ini saya akan cari tema seri blogging baru, selain seri photo of the day. Tapi yang jelas ingin arah ngeblognya lebih sesuai minat.

(Gara-gara menulis tulisan ini, saya baru tahu kalau Julie Powell meninggal tahun 2022)

Siapa sosok inspiratif versimu? Bagaimana menurutmu tentang hobby yang akhirnya berlanjut ke sukses?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Scroll to Top