Categories: Pengalaman

Bedanya Pemakaian Layar Era 90an VS Masa Kini

Bedanya Pemakaian Layar Era 90an VS Masa Kini – Sebagai anak 90an, alias tumbuh di masa itu dari SD hingga SMA, tentu saja saya senang melihat tren 90an kembali populer. Dari tren fashion hingga baru-baru ini–kebiasaan menghabiskan waktu.

Apa saja yang buat saya rindu tahun 90an? Sebagai generasi milenial yang mengalami masa pakai layar cuma dari menonton TV dan gameboy, kesenjangan ini begitu jelas.

Yang pertama tentu saja di era tersebut rasanya lebih apa adanya. Pakai baju kasual dan basic sah-sah saja. Mau main game, benar-benar main game manual seperti ular tangga dan congklak. Masa SD dan remaja saya diisi dengan banyak baca buku komik dan novel sederhana, seperti Mallory Towers, Goosebumps dan Candy-Candy.

Lebih dalam lagi, inilah hal-hal inti yang buat saya rindu tahun 90an (oh ya tulisan ini dibuat demi memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Juni 2026):

Table of Contents

Doraemon & Kesenjangan Pemakaian Layar Era 90an VS Kini

Ternyata inti yang paling inti dari kekangenan saya akan tahun 90an adalah masa dimana ketergantungan pada layar sangatlah minim. Komputer baru sering dipakai ketika remaja, kala saya main-main Photoshop dan sesekali menulis cerita bersambung. Itu belum masuk internet ke rumah. Saya baru bisa pakai internet ke warung internet (warnet).

Kesadaran bahwa ada gap besar tentang pemakaian layar era 90an dan masa kini ini muncul salah satunya dari obrolan kami pada si kecil. Si kecil, anak generasi Alpha ini ngga mengerti icon save di komputer bentuknya darimana.

Dan itu membuat saya terkenang punya koleksi disket demi menyimpan tugas untuk ditunjukkan ke dosen. Suatu hari iapun bertanya mengenai game Tetris dan Pacman, lagi-lagi buat saya teringat masa saya main game di komputer rumah. Betapa sederhananya masa itu, cukup main di komputer dari permainan sederhana tanpa terhubung internet.

Yang juga cukup besar gap-nya adalah si kecil bisa sesuka hati nonton serial Doraemon secara online. Dulu, kami harus menunggu sekali seminggu demi nonton kartun tentang robot kucing dari masa depan itu. Jadwalnya selalu sama bertahun-tahun di saluran TV dengan simbol Rajawali itu; setiap hari Minggu, jam 8 pagi dan durasinya 30 menit saja.

Terkadang kecewa ketika sudah wangi mandi dan usai sarapan, ternyata serial tersebut tidak ditayangkan. Sementara si kecil bisa nonton berbagai episode dengan berkelana di dunia maya dengan durasi yang bisa lebih dari 30 menit–kapan saja!

Ilustrasi kegiatan anak-anak 90an. Sumber: Canva

Ya. Masa 90an, hiburan dari teknologi cuma dari radio dan siaran dari perangkat TV terpusat pada pancaran TV Nasional. Dulu cuma ada TVRI dan beberapa TV Nasional. Setiap jam 7 dan 9 malam ada berita nasional dari TVRI.

Beberapa malam bahkan ada lanjutan siaran kunjungan Presiden ke daerah. Saya masih ingat kecewanya saya menunggu berita jam 9 malam selesai untuk menonton serial favorit sambil agak ngantuk, tapi malah minggu itu ngga ditayangkan. Hasilnya, besok masuk sekolah kurang tidur padahal ngga jadi nonton serial yang diincar.

Kini, sepertinya beberapa TV terancam tidak lanjut siaran karena minimnya penonton. Banyak dari kita lebih suka buka ponsel dan menonton dari media sosial. Lebih nyaman, cepat dan pengaturan konten cuma dari jemari (dan autoplay dari sosmed).

Betapa anak-anak masa kini sangat dimanjakan akan keberlimpahan berbagai tayangan hiburan, dari media sosial dan layanan streaming. Sudah jadi hal yang biasa, anak-anak bahkan orang dewasa kena brain rot alias otak yang ruwet karena kebanyakan menerima informasi dan konten dari internet.

Tapi untuk benar-benar mengusahakan anak-anak agar tidak sama sekali memakai layar, rasanya mustahil. Karena sudah begitu menyeluruhnya internet dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Seorang anak mungkin akan merasa tersisih atau jadi ketinggalan zaman kalau sama sekali nggak tahu tentang internet dan gadget.

Media sosial pun tak cuma membuat kita kecanduan, tapi merekam data kita untuk dijual ke perusahaan-perusahaan dan membaca perilaku kita untuk membeli produk mereka. Mungkin sudah ada opsi untuk kita melindungi privasi data kita, tapi pilihan itu mungkin ngga diketahui orang awam.

Jadi rasanya ketika membandingkan pemakaian layar di era 90an dan sekarang, rasanya nyaris seperti bumi dan langit. Mungkin dulu informasi terpusat dari saluran TV dan radio terbilang lebih sederhana, dibandingkan masa kini dimana semua orang bisa membuat konten yang kebenarannya harus dicek lagi.

Gaya Hidup Analog Akan Kembali?

Dengan berbagai kemudahan teknologi, banjirnya konten-konten di banyak media sosial dan bahkan hadirnya Artificial Intelligence, sepertinya banyak generasi milenial dan bahkan yang lebih muda jenuh akan ketergantungan layar. Banyak yang lelah membaca konten menarik tapi ujung-ujungnya ada unsur jualan.

Gaya hidup analog diramal akan kembali lagi. Hal-hal seperti komunitas offline, hobby outdoor atau granny hobbies (kegemaran nenek-nenek) seperti menyulam dan gardening jadi lebih menarik perhatian. Tren journaling juga kemungkinan naik karena kejenuhan layar ini.

https://www.instagram.com/p/DZLgM2-jZfd/?igsh=ZzNjMXVkd2ZiNXZ3

 

https://www.instagram.com/p/DTfilbuDXlX/?igsh=MWR3Ymh6dWV6Y282Mg==

 

Bahkan ada yang dengan sengaja menggunakan dumb phone (ponsel non-smart) yang minim fitur terhubung internet. Cukup menggunakan pesan dan untuk menelpon. Demi mengurangi ketergantungan layar.

Saya lho, salah satunya yang mendukung gaya hidup ini. Karena telah mengerti kenapa kita jadi ketergantungan layar, jenuh dan menolak membuat industri sosmed makin kaya. Tentu saja saya ingin otak saya juga lebih ada ‘ruang’.

Walau saya belum sampai sama sekali cut off sosmed dan internet, saya sudah mematikan notifikasi media sosial dan berusaha beraktivitas tanpa layar lebih banyak. Rasanya hidup saya lebih ‘ringan’. Mungkin juga memang tanggung jawab ibu off screen sudah lumayan, jadi sekalian saja menghindar dari layar.

https://www.instagram.com/reel/DSQL4FbiIz7/?igsh=ZnNzczZoZ2t5dGhv

Saya bahkan sempat mencoba mencari majalah wanita yang bisa saya baca-baca bahkan agar bisa berlangganan. Tapi kok rasanya minim opsinya. Bahkan banyak majalah wanita yang dicetak sudah tidak ada lagi. Adanya versi website dan digital. Ini sedikit membuat saya sedih dan merasa miris. Saya ngga heran juga sih karena media juga membaca tren.

Mungkin dengan gaya hidup analog ini, mental health kita lebih baik. Tak usah juga segala sesuatu dibagikan di dunia maya. Tak perlu fear of missing out (FOMO) juga, karena kebanyakan tahu juga belum tentu baik. Nah kalau mau update berita umum nasional maupun internasional, tentu itu beda lagi.

Tentu saja bukannya nggak bersyukur adanya kemajuan teknologi dan internet yang memudahkan kehidupan kita. Misalnya, seorang ibu rumah tangga yang di rumah saja jadi bisa lebih mudah menemukan hiburan dengan berselancar di dunia maya dan menonton tayangan yang menghibur. Tapi mungkin yang dibutuhkan banyak orang sebenarnya adalah ruang jeda dan cara menghabiskan waktu yang lebih sederhana.

Kalau kamu juga merasakan masa 90an, apa momen yang kamu rindukan dari masa itu?

 

Sunglow Mama

Seorang Ibu Rumah Tangga yang suka blogging dan berbagi tentang sisi kreatifnya. E-mail saya ke missdeenar@gmail.com untuk kerjasama

Recent Posts

3 Tipe Journaling Favorit Sunglow Mama

Di tengah masa transisi dan alat-alat hobby yang masih tersimpan dalam kardus, saya justru sadar…

4 weeks ago

Library Mini dan Rencana Ruang Personal

Rencana pindah rumah yang mendadak ternyata membawa satu harapan baru: memiliki ruang personal untuk bekerja,…

2 months ago

Lens Artist: “Framing Your Shot” Pics/Foto-foto Acak yang “Dibingkai”

Lens Artist: “Framing Your Shot” Pics/Foto-foto Acak yang “Dibingkai” - Waktu diumumkan Tantangan Blogging Mamah…

2 months ago

‘Rambu’ Bersosialisasi Ketika di Usia 40 Tahun ke Atas

Memasuki usia 40 tahun, cara bersosialisasi pun berubah. Lebih selektif, protektif, dan realistis dalam memilih…

2 months ago

Tips Kolaborasi dengan Gen Z (Dari Sisi Pengamat)

Tips kolaborasi dengan Gen Z dari sudut pandang pengamat: memahami karakter digital, komunikasi singkat, hingga…

3 months ago

Flashback Blogging 10+ Tahun Lalu

Refleksi tentang pengalaman blogging lebih dari 10 tahun lalu: menulis demi kesenangan, promosi cukup lewat…

3 months ago

This website uses cookies.