Categories: Pengalaman

‘Membeli’ Me-Time Ibu Rumah Tangga

‘Membeli’ Me-Time Ibu Rumah Tangga – Beberapa kalangan bisa mencibir mendengar istilah “me-time” Ibu. Mungkin bisa ada yang nyinyir, “jaman nenekmu dulu mana ada me-time?” Tapi seperti kata Mbak Puty di bukunya Empowered ME (yang belom juga kelar saya baca tapi), jaman dulu belum ada social media (and therefore ga ketauan juga apakah jaman nenek dulu bener ga butuh me-time). 

Alhamdulillah, kini anak saya sudah 7 tahun dan sudah lebih mandiri. Saya sedikit demi sedikit bisa deh mendapatkan me-time yang ideal seperti yang saya inginkan. Walaupun jika tidak pun saya juga harus maklum. Jadi Ibu harus selalu siap dengan segala sikon dan it’s not really the place to be demanding and spoiled (anymore).  

Table of Contents

Ketika Ada Momen ‘Membeli’ Me-Time Sebagai Ibu

Saat ini saya sedang “membeli” waktu me-time. Istilah ‘membeli’ karena sedang “reservasi” waktu sendiri, ngga sama keluarga. Lucunya seperti pada tulisan Situasi Langka Dimana Saya Bisa Berkarya, saya dihadapkan pada opsi ini karena ada unsur tidak disengaja. Saya memilih untuk menyelesaikan buku yang sedang saya ingin baca, membawa notepad kosong untuk melakukan doodle dan ponsel beserta internet di sebuah kedai kopi. 

Kalau boleh memilih, memang lebih nyaman membaca di rumah. Apalagi saya gak memperhitungkan bahwa lagu latar di kedai kopi akan mengganggu konsentrasi saya membaca (hahaha). Tapi di rumah, saya harus maklum dengan kebutuhan orang rumah dan tanggung jawab sebagai ibu dan istri. Kesendirian dan kesunyian terasa “mewah”. Lucunya saat single, sendiri malah kadang terasa bagai kutukan. Nothing is ever perfect, sejujurnya. Makanya kalau saya berhasil menyelesaikan baca buku, it really is a kejuaraan sendiri. 

‘Kewajaran’ Ibu Membeli Me-Time

Saya jadi mau cerita. Di salah satu serial favorit saya, ada sebuah kisah dimana seorang ibu “diam-diam” menyewa kamar hotel demi merasakan kesendirian. Padahal di kamar hotel itu dia cuma mau nonton serial TV favoritnya atau membaca majalah. Terlihat konyol, tapi sebagai ibu dan bahkan sebagai perempuan saya juga tidak bisa menyalahkannya. Kerja seorang ibu berlangsung 24 jam dan jika diupah profesional, upahnya muahallll. Dan mirisnya, kadang keletihan Ibu ini dianggap “biasa aja”. Mental health ibu kadang dikesampingkan. Ya tak perlu menuding siapa yang salah atau menyalahkan Ibu terlalu keras. Karena pada masanya, beban ibu bisa terasa begitu berat.

Untuk membeli me-time Ibu seperti ini memang nggak semua Ibu berani dan bisa. Tapi pastinya lebih less guilty jika suami setuju dan mengizinkan. Yang jelas, jangan juga dipaksakan apalagi jika di sikon darurat seperti anak sakit dan lainnya. Ya, me-time juga ada batasannya

Mungkin tak semua juga Ibu mampu reservasi waktu sendiri karena situasi dan kondisi. Misalnya anak-anak masih bayi dan balita, dan tak ada yang bisa menggantikannya. Atau lokasi rumah yang jauh kemana-mana. 

Am I happier karena telah membeli me-time Ibu? Ya dan tidak. Ya karena saya merasa senang sudah “bela-belain” mengikuti kesenangan dan keinginan saya. No karena masih ada saja rasa bersalah itu, merasa bersalah karena anak lagi nggak sama saya. Padahal insya Allah anak merasa happy saja kok doing his own thing. Senangnya juga saya sampai bisa menulis tulisan ini. Sehingga masih dihitung waktu yang produktif, hihihi. 

Mungkinkah saya akan kembali ‘membeli’ me-time ke depannya? Mungkin saja ya, insya Allah. Prosesnya soalnya melibatkan keluarga dan kelowongan waktu. Kalau bisa ya, Alhamdulillah saya mungkin bisa ngeblog lagi di waktu itu. Jadi istilahnya seperti menjadwalkan waktu kreatif. 

Hasil ‘Membeli’ Me-Time Perdana

Kali ini saya dipuaskan dengan membawa pulpen, buku kosong, air brush refill dan cat warna. Begini hasilnya. Lumayan juga ya. Meskipun cuma ilustrasi sederhana, bisa dihitung berkarya 🙂

Ini hasil corat-coret lainnya. Ya ini gambarnya spontan saja karena kebetulan lagi bisa gambar-gambar. Bagaimana menurutmu?

Penutup

Senang juga ada karya hasil sendirian menghabiskan waktu 🙂 semoga ada lain waktu yang seperti ini. 

Terima kasih sudah membaca tulisan sekedar uneg-uneg ini. Semoga bisa menularkan inspirasi. 

 

Sunglow Mama

Seorang Ibu Rumah Tangga yang suka blogging dan berbagi tentang sisi kreatifnya. E-mail saya ke missdeenar@gmail.com untuk kerjasama

View Comments

  • Jangan pernah merasa bersalah mengambil me time. Itu hak kita kok. Dan suatu pengalaman tersendiri juga buat anak2 (dan suami dan orang rumah yang lain) untuk beraktivitas tanpa kita. Terus semangat ya mamah Andin. Suka deh, ilustrasinya. Cakeeeppp

Recent Posts

Inspirasi & Refleksi dari Film Julie & Julia (2009)

Julie & Julia (2009) adalah film yang mendorong saya memulai blogging pada tahun 2009. Setelah…

1 week ago

Bedanya Pemakaian Layar Era 90an VS Masa Kini

Sebagai anak 90-an, saya baru menyadari bahwa hal yang paling saya rindukan dari masa itu…

4 weeks ago

3 Tipe Journaling Favorit Sunglow Mama

Di tengah masa transisi dan alat-alat hobby yang masih tersimpan dalam kardus, saya justru sadar…

1 month ago

Library Mini dan Rencana Ruang Personal

Rencana pindah rumah yang mendadak ternyata membawa satu harapan baru: memiliki ruang personal untuk bekerja,…

3 months ago

Lens Artist: “Framing Your Shot” Pics/Foto-foto Acak yang “Dibingkai”

Lens Artist: “Framing Your Shot” Pics/Foto-foto Acak yang “Dibingkai” - Waktu diumumkan Tantangan Blogging Mamah…

3 months ago

‘Rambu’ Bersosialisasi Ketika di Usia 40 Tahun ke Atas

Memasuki usia 40 tahun, cara bersosialisasi pun berubah. Lebih selektif, protektif, dan realistis dalam memilih…

3 months ago

This website uses cookies.