Plus Minus dan Tantangan Jadi Mom Blogger

mom-blogger.jpg

Plus Minus dan Tantangan Jadi Mom Blogger – Terhitung sudah kira-kira 7 tahun saya jadi blogger ibu-ibu alias mom blogger. Mulai si kecil berusia beberapa bulan saja saya sudah keidean mau ngeblog mengenai kehidupan jadi ibu dan memiliki anak. 

Saya mundur dari niche blog parenting karena akhirnya merasa nggak tahu banyak soal dunia ini. Lagipula untuk curhat mengenai mengurus anak itu takutnya membuat saya oversharing mengenai kehidupan pribadi.

Meskipun begitu saya masih suka berbagi dan menulis sesuatu yang membuat termotivasi. Sempat ambil job blog untuk beberapa lama tapi 1-2 tahun ini saya minim ambil job karena kesibukan lainnya cukup tinggi. 

Tapi kali ini mungkin saya bisa kasih insight apa yang membuat mom blogger itu keren dan bisa dicoba untuk ibu-ibu lain yang berminat. 

Positifnya Jadi Mom Blogger

Seorang Ibu Yang Punya Blog

Awal sekali terasa memiliki anak itu membahagiakan dan mengubah dunia dibandingkan ketika masih belum punya anak. Perasaan menjadi ibu adalah perasaan yang ngga kebayang sebelumnya. 

Berasa kalau pressure-nya tinggi (judgement dan demand mengenai parenting dan sebagainya). Tapi juga memiliki buah hati yang memandang ibu sebagai dunianya itu…wow banget!

Tapi diantara tumpukan baju kotor dan piring, rumah berantakan yang minta disapu dan pel, juga keluarga yang ingin dirawat, diri ini yang ‘terbiasa dituntut punya sesuatu lebih’ merasa harus punya ‘sesuatu’. Mungkin sesuatu ini hobby. Tapi kala itu saya merasa ngeblog adalah ‘si sesuatu’. 

Mungkin karena dulu saat single saya merasa blog adalah escape saya alias tempat pelarian saya kala dunia rasanya ‘begitu-begitu aja’. Saya juga bisa menyalurkan pendapat dan mengekspresikan diri di ruang blog tanpa ada ‘tuntutan reguler’ di kehidupan biasa. 

Ya, tanpa blog kita ibu-ibu jadi ya ‘cuma ibu-ibu’. Walaupun sebagian dari kita sudah bahagia menjadi ibu, tapi sebagian yang suka menulis dan ngeblog butuh menjadi ‘Ibu yang punya blog’.  

Ruang Ibu Berpendapat dan Bersuara

Lho, emangnya di rumah ngga bisa berpendapat dan bersuara? Di sosmed juga bisa kan menulis sesuka hati.

Tentu beda. Di percakapan sehari-hari belum tentu kita bisa memilih topik yang kita bicarakan. Bisa jadi obrolan terjadi karena sedang hangat diobrolkan. Tapi bukanlah isu yang kita ibu-ibu ingin bicarakan dan angkat. Di sosmed juga ruang publiknya sangat terbuka dan rentan plagiasi.

Misalkan kita ingin membahas tikus yang mengganggu rumah kita dan cara memberantasnya di blog ya sah-sah saja. Atau sekedar omongan selingan bersama si kecil yang membuat kita merenung. 

Atau si ibu baru saja baca buku atau nonton film yang ia suka atau tidak suka, ya sah-sah saja untuk dituliskan di blog.

Penting amat sih ditulis di blog. Ya penting aja, kan terserah blogger-nya. Hihi. 

Seorang ibu butuh penyaluran berekspresi. Yang mungkin terlewat karena keseharian tertumpuk mengurus ini-itu. Dan blog adalah opsi yang baik untuk menjadi wadahnya. 

Bisa Jadi Ladang Pemasukan

Sudah umum dan mungkin perlu dituliskan lagi disini. Blog bisa jadi ladang pemasukan. Kita bisa membuat blog sebagai tempat untuk mendapat rejeki. 

Sangat menyenangkan rasanya karena selain bisa menyalurkan pendapat dan berekspresi, ternyata kita pun bisa dibayar karena itu. 

Untuk membuat blog jadi ladang pemasukan, blog harus dirawat dan berisi tulisan-tulisan yang berkualitas. Harus juga berkala diisi dan jangan jarang-jarang. Blog bisa dijadikan investasi juga untuk ke depannya. 

Dokumentasi Kejadian, Pengalaman dan Tempat

Salah satu hal yang saya suka dari blog ibu-ibu adalah saya bisa membaca pengalaman mereka. Dari apa saja. Misalnya pengalaman anak disunat, review tempat wisata, produk baby, pengalaman melahirkan anak dan sebagainya. 

Saya suka karena biasanya tulisan di blog lebih mendalam dibandingkan membaca dari status dan komentar orang di sosmed. Atau ketika harus bertanya ke ibu yang pernah mengalaminya tapi kondisinya kadang kurang nyaman. Misalnya kesibukan kita atau orangnya, tidak begitu dekat dengan orang terkait atau lainnya. 

Membacanya di blog, apalagi jika si blogger menuliskan dengan lengkap, itu sangat bagus karena bisa jadi one-stop information (alias ada semua informasi dalam satu tempat). Ngga usah nanya satu-satu lagi seperti dari biaya, ketentuan atau persiapan misalnya. 

Tulisan saya mengenai jurusan DKV Alhamdulillah membantu beberapa orang yang nggak tahu belajarnya apa saja sih jurusan ini. Atau review film Jatuh Cinta Seperti di Film-film ternyata bagus lho buat ditonton sama pasangan. Berbagi itu baik karena kita berniat membantu orang lain. 

Tantangan Jadi Mom Blogger

Namanya apapun itu selalu memiliki tantangan dan kekurangan. Semua sepaket, bagai siang dan malam. Selama beberapa tahun jadi mom-blogger, ini yang saya rasakan sebagai tantangannya:

Minim Waktu

“Pengen sih ngeblog. Tapi aku ngga ada waktu.”

“Ketika punya ide ngeblog, eh lagi riweh ngurus anak.”

Alasan waktu adalah alasan yang paling sering didengar dan bisa dibilang klise untuk seorang ibu ngga bisa ngeblog. Atau susah meluangkan waktu ngeblog. Ngga usah jauh-jauh. Saya sendiri punya tantangan waktu ini juga kok.

Saya percaya ada banyak ibu yang tulisannya bagus. Dan berpotensi jadi blogger dengan tulisan yang keren. Sering banget saya ‘berkelana’ ke blog seorang ibu yang jarang-jarang ngeblog. Tapi pas saya baca tulisannya, bagus lho isinya.

Ibu-ibu ini punya prioritas keluarga dan juga mungkin memilih meluangkan waktu untuk hal lainnya. Sama seperti saya, khususnya waktu saya baru melahirkan si kecil. Saya merasa ngga punya waktu nulis blog. Tapi ketika saya paksakan meluangkan, batin saya lebih lega dan bahagia. Sampai sekarang seperti ini. 

Tapi apakah seorang ibu benar-benar minim banget waktunya sampai kelelahan banget, itu balik lagi si ibunya yang paling tahu kondisinya. Ada kok yang saya lihat dia mau meluangkan ke hobby lainnya dibandingkan ngeblog. Ya itu balik lagi ya ke minat dan keinginan, juga kondisi. 

Tendensi Over-Sharing Menulis Blog

Salah dua tantangan terbesar seorang ibu waktu ngeblog adalah kecenderungan untuk berbagi terlalu banyak. Bagaimana kamu tahu kalau tulisan yang kamu bagikan itu berlebihan diceritakan? Saya pernah menulis di tulisan oversharing dalam blogging ini. 

Intinya sih sebaiknya jangan sampai yang kita tulis menjadi bumerang di kemudian hari. Menjaga juga privasi keluarga dan orang-orang terdekat kita. Namanya juga internet. Dunia yang luas banget berisi manusia dengan beragam karakter. 

Untuk itu sebagai mom blogger, memang sih waktu luang kita bisa jadi ngga banyak. Luangkan waktu sejenak untuk membaca ulang tulisan kita sebelum posting ke blog. Karena itu memungkinkan kita untuk mengedit tulisan yang ternyata dirasa tak pantas dibagikan.

Berlebihan Blogging Bisa Buat Lupa hal Lainnya

Jadi ingat dulu waktu saya baru mulai blogging. Mungkin karena agak lama belum meluangkan diri untuk hobby sehingga ketika baru mulai, menggebu-gebu sekali mengerjakannya. 

Tapi energi yang berlebihan ini bisa membuat kita jadi lupa akan kewajiban dan prioritas kita yang lebih urgent. Yaitu mengurus keluarga dan anak. Blogging adalah sebuah kegemaran tapi sejujurnya bukanlah yang paling utama, dari sudut pandang seorang ibu. 

Jadi blogger kini kita biasanya juga harus mengurus akun sosmed. Adapula yang sampai buat konten video dan podcast. Nah ini bisa membuat waktu sangat banyak terpakai. Karena untuk merawat sosmed sendiri mirip-mirip kaya punya blog juga. Harus posting terus dan mengintip engagement

Banner-Tantangan-MGN-2024.jpg

Penutup

Begitulah plus minus dan tantangan jadi mom blogger. Mungkin sebagian sudah terasa dan dialami. Mungkin ada yang baru mau jadi ibu blogger. Yang jelas semoga tulisan yang dibuat untuk tantangan blogging mamah gajah ngeblog bulan Juni 2024 ini bermanfaat ya. 

Kalau menurutmu, apa keuntungan dan tantangan jadi mom blogger?

7 thoughts on “Plus Minus dan Tantangan Jadi Mom Blogger”

  1. Jadi blogger itu menyenangkan, karena bisa nulis panjang lebar jadi catatan berbagai hal. Kalau ada yang nanya, tinggal kasih link blog, hehehe. Menulis di sosmed itu terbatas jumlah karakter atau tidak bisa bikin layout gambar dan tulisan yang enak dibaca. Menulis blog itu bisa jadi catatan juga mulai dari kapan terakhir ke bengkel atau berbagi di mana tempat ngopi enak, hehehe.

  2. Ada masa saya gak ngerti apa itu blog. Saya pun menulis di buku tulis segala pengalaman punya anak pertama kali, hidup jauh dari orang tua, dan lain-lain. Sayangnya, buku itu entah ada dimana sekarang. Kalau saja ketemu, mungkin bisa aya salin ke dalam blog.

  3. Jade Petroceany

    Bisa nulis panjang kali lebar kali tinggi ya, Ndin. Ibarat punya rumah, terserah mau diisi apa saja ya sama pemiliknya: dikit, banyak, printilan, benda bulky.

  4. Halo Mamah Andina, mom blogger favoritku. Baca ini membuatku jadi flashback ke tahun 2021, di mana saya akhirnya memutuskan kembali ngeblog.
    Di tahun itu, semesta mempertemukan aku dengan akun IG MGN dan membawaku untuk ngepoin Mamah Andina.
    Butuh waktu yang lama buatku memutuskan join atau tidak, dan keberadaan Mamah Andina serta membaca blog Andina adalah hal major yang memotivasiku untuk akhirnya ngeblog dan bergabung dengan MGN. Love you, Mah Andina ehehe. 🙂

  5. Eh sudah keburu di-submit, tapi ada yang ketinggalan. Keuntungan ngeblog bagiku adalah sama dengan Andina, menjadi media ‘escape’ dari keseharian. Dan bisa nulis beragam ide dan pikiran yang bersliweran ehehe. Puwas bener deh kalau bisa ceriwis.
    Tantangannya pun sama, Andina. Takut oversharing. Jadi kalau mau nulis yang sifatnya personal, saya timbang-timbang dulu apakah ada yang dirugikan atau tidak.

  6. Tanpa saya sadari ternyata saya suka ngeblog sejak s1 dulu. Sayang saya tdk melanjutkan. Tp seneng walau terpaut 1 dekade sy bs ketemu komunitas MGN dan menantang diri utk terjun dari nol di dunia blogger

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Scroll to Top